Usaha Tahu ‘M’ Milik Warsito, Eksis Sejak Tahun 1950-an di Klaten

Sop Pak Min Klaten Jadi Pelanggan Tetap Turun Temurun

0 125

Katolikana.com—Tutik Ambarsari (55) adalah istri Warsito, pemilik usaha tahu ‘M’. Usaha tahu ini diturunkan langsung dari orang tua dan kakek nenek Warsito.

Usaha tahu ini berdiri sejak tahun 1950an di Kampung Mojorejo, Klaten. Kini, Tutik dan Warsito menjadi penerus generasi ketiga.

“Pertama kali bikin usaha ini dulu simbah saya, tahun 1950an. Saya melanjutkan mulai Juli 2017 hingga sekarang,” ujar Tutik.

Menurut Tutik, dari beberapa anak dari mertuanya, hanya Warsito dan dirinya sebagai mantu yang melanjutkan usaha ini sebagai penghargaan atas orangtua mereka yang telah tiada.

Proses pembuatan tahu milik Warsito ini mengutamakan bahan kedelai terbaik untuk menghasilkan tahu berkualitas.

“Kalau kedelai keras, waktu perendaman bisa lebih dari enam jam. Tapi kalau lembek butuh waktu empat hingga lima jam,” ujar Titik.

Proses pembuatan Tahu ‘M’:

  1. Kedelai direndam selama 4-6 jam.
  2. Setelah ditiriskan kedeleai lalu digiling.
  3. Setelah digiling lalu dimasak sampai menggumpal.
  4. Setelah dimasak lalu disaring dan ampasnya dibuang.
  5. Sari kedelai siap untuk dibuat menjadi tahu.

Tutik mengungkapkan keluarganya membangun usaha tahu ini tahun 2017 untuk melanjutkan usaha mertuanya.

“Usaha ini bertujuan untuk menghormati perjuangan mertuanya dulu dalam mendirikan pabrik tahu,” ujarnya.

Maka dari itulah, ia dan suaminya bertekad untuk mengembangkan tahu. Ia berharap usaha tahu ini terus bertahan sampai anak cucu.

Tutik Ambarsari (kiri) dan kontributor Katolikana Alicia Yolanda Bawuna (kanan). Foto: Marvel Yehezkiel Bawuna

Setor Tahu ke Sop Pak Min Klaten

“Saya mendirikan pabrik ini tahun 2017. Sejak jaman simbah, keluarga Pak Min sudah menjadi pelanggan tetap. Dulu almarhum Pak Min dan Ibu jualan sop di pasar,” imbuhnya.

Hingga kini, anak-anak Pak Min yang melanjutkan usahanya masih tetap langganan tahu dari pabriknya, khususnya untuk cabang-cabang di Klaten, Jogja, Solo dan Semarang.

Transportasi menjadi kendala mengapa Warsito tidak melakukan pengiriman ke luar pulau dan hanya beberapa kota yang dekat Kota Klaten.

Dalam sehari, tahu yang laku dipasarkan mencapai 150 kilogram. Jumlah sebesar itu baru menjangkau kota Klaten saja.

Usaha tahu “M” menjadi satu di antara beberapa pabrik tahu yang terkenal di kota Klaten.

Tahu-tahu yang dihasilkan selalu segar dan tidak mudah hancur ketika dimasak. Tahu olahan disetorkan ke pasar, warung-warung makan dan beberapa orang setiap pagi oleh Tutik.

Uniknya, meskipun Tutik dan Warsito memiliki banyak pegawai, mereka tetap ikut bergerak dalam proses pengantaran tahu kepada konsumen.**

Kontributor: Alicia Yolanda Bawuna (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.