Maharani Tumbuh dan Berkembang Lewat Tari

Mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang ini pernah mengalami demam tinggi, tapi ia tetap semangat menari.

0 106

Katolikana.com—Gempuran tari modern seperti K-Pop di kalangan anak muda, tak mematahkan semangat Fransiska Romana Maharani untuk terus melestarikan tari tradisional.

Rara, panggilannya, mengaku tertarik dan menyukai tari tradisional sejak di bangku Taman Kanak-Kanak. Ia bahkan pernah mengorbankan kesehatannya agar tetap bisa mengikuti latihan menari di sekolahnya.

“Aku pernah mengalami demam tinggi, namun aku tetap semangat ikut latihan menari,” ujar Rara.

Maharani berkostum tari. Foto: Istimewa

Gadis kelahiran Muntilan, Magelang, Jawa Tengah ini mengaku selalu memilih bagian menari ketika ada pentas seni. Beberapa hal yang selalu dinanti Rara ketika menggunakan kostum lucu serta tata rias heboh.

Salah satu tarian yang disukai Rara adalah Tari Pendet dari Bali. Meski bukan berasal dari Bali, Rara tertarik pada Tari Pendet karena tingkat kesulitannya tinggi.

“Butuh keahlian khusus dalam menggerakkan mata. Gerakan mata ke kiri dan kanan merupakan ciri khas Tari Pendet. Selagi menggerakkan mata, kepala tidak boleh digerakkan. Ini tantangan,” ujar Rara.

Ia menyempatkan waktu agar bisa menguasai gerakan mata pada Tari Pendet.

”Saat pandemi aku memanfaatkan waktu kosong untuk belajar Tari Pendet dari YouTube,” ujarnya.

Kontribusi

Rara pernah mengikuti event seperti pementasan di Gelar Budaya, pertemuan Suster-Suster OSF, pelepasan kakak kelas, serta acara-acara di sekolah.

Salah satu yang berkesan ketika berperan sebagai Dewi Sri atau Dewi Padi. Di sini ia harus menyesuaikan dengan teman-teman penari yang memiliki latar belakang usia berbeda.

Menurut Rara, tari tradisional memiliki hal istimewa. “Dibandingkan tari modern, ada sesuatu yang istimewa dari tari tradisional. Aku mau berkembang dan bertumbuh. Aku berasal dari situ,” papar Rara.

Tantangan

Menurut Rara, usaha untuk melestarikan tari tradisional memang tak mudah. Ia pernah mendapat komentar kurang enak dari seseorang. “Ih, kok kamu tari tradisional gitu banget gerakan pinggulnya,” ujar Rara.

Selain itu masih ada anggapan yang melihat gerakan pada tari tradisional sebagai gerakan provokatif.

Padahal jika ditelusuri, dalam menari diperlukan penjiwaan yang kuat yang diperlihatkan melalui gerakan badan.

Selain tantangan eksternal, Rara juga mengalami kesulitan seperti badan pegal, tidak enak badan, bahkan mengalami demam setelah pentas.

Menjadi penari tentu bukan hal mudah jika melihat pengalaman Rara. Dibutuhkan mental dan fisik yang kuat dalam menari.

Maharani saat menarikan salah satu tarian. Foto: Istimewa

Harapan

Besarnya cinta pada dunia tari tradisional membuat Rara tidak pernah lelah untuk melestarikan budaya. Ia berharap orang muda bisa mengapresiasi budaya tari tradisional di Indonesia.

“Tari tradisional tidak boleh hilang sekejap. Bahkan, jangan sampai masyarakat negara lain lebih senang mencoba daripada kita yang punya,” tutur Rara.

Pelestarian budaya tari tradisional tidak mengharuskan kita untuk bisa menari. Rara menyatakan ada banyak cara selain terlibat langsung dalam menari.

“Hidup dan matinya kebudayaan bergantung pada masyarakatnya. Bila bukan kita yang mengapresiasi kebudayan kita, siapa lagi?” pungkasnya.**

Kontributor: Gabriel Haris Putra Pratama

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.