Guru Agama Katolik Tingkat Dasar Kota Salatiga Kunjungi SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta

Romo Mangun menggambarkan seorang anak sebagai pusat pendidikan seperti sebuah pohon.

2 240

Katolikana.com—Guru Pendidikan Agama Katolik SD dan SMP Kota Salatiga didampingi Penyelenggara Kristen Kota Salatiga Dwi Kuncoro bersama staf mengunjungi SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta, Rabu (14/9/2022).

Kunjungan ini sebagai upaya peningkatan kompetensi dan pengembangan profesi para guru agama Katolik. Para guru diajak untuk bersama belajar bagaimana implementasi Merdeka Belajar dan pola asuh anak pada SMP Eksperimental Mangunan.

Rombongan yang terdiri dari 13 orang ini disambut oleh pengurus yayasan, Kepala Sekolah SD Mangunan, Kepala Sekolah SMP Mangunan dan beberapa guru dengan hangat dan penuh keakraban.

Acara diawali dengan saling berkenalan dan sharing pengalaman hingga berbagi tips seputar bagaimana mendidik anak.

Pohon Kurikulum Mangunwijaya. Foto: Istimewa

Kepala Sekolah SMP Eksperimental Mangunan Maria Noviana Sari M.Pd. memaparkan TK, SD, SMP Mangunan menerapkan pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip dari ajaran Romo YB Mangunwijaya. Romo Mangun menggambarkan seorang anak sebagai pusat pendidikan seperti sebuah pohon.

“Semua hal pada bagian pohon sudah seharusnya mendapat perhatian,” ujar Maria.

  • Akar sebagai gambaran latar belakang identitas anak termasuk orientasi diri.
  • Batang menjadi gambaran bagaimana cara anak mengungkapkan kompetensinya melalui sains, matematika, dan lain-lain.
  • Ranting dan dedaunan sebagai lukisan begitu banyak karya anak yang bisa dihasilkan.

Maria menambahkan, guru, orang tua, dan masyarakat yang berada di lingkungan anak memiliki peran penting untuk pembentukan.

“Mereka bisa menjadi hujan, matahari, pupuk dan hal lain sejenisnya sebagai hal-hal baik yang mendukung proses anak berkembang. Menjadi ‘iklim’ yang baik bagi dunia seorang anak menjalani proses bertumbuh hingga berbuah,” paparnya.

Dalam prinsip pendidikan Mangunan, tidak ada seorang anak pun yang bodoh. Setiap orang memiliki talenta, yang perlu dipupuk dan dikembangkan.

“Maka di awal pendidikan penting sekali diadakan asesmen kondisi anak. Selanjutnya para guru merancang bersama bagaimana pendidikan yang tepat sesuai karakter anak,” ujar Maria Noviana Sari.

Setelah sharing pengalaman tentang pendidikan, rombongan diajak berkeliling komplek sekolah TK, SD, dan SMP Mangunan.

Rombongan diajak melihat langsung bagaimana proses pembelajaran dilakukan. Tampak bagaimana keceriaan anak-anak belajar di dalam kelas dan bermain di luar kelas.

Suasana SMP Eksperimental Mangunan. Foto: Istimewa

Ada satu hal menarik perhatian yang dilihat dari anak-anak. Di sekolah ini anak-anak berpakaian bebas rapi dan bersepatu.

Ada waktu khusus memakai seragam “Nusantara” pada hari Senin. Anak-anak meskipun mendapat kebebasan, tapi diterapkan pula untuk berlatih bagaimana bertingkah laku baik dan bertanggung jawab.

Rombongan merasakan banyak hal yang luar biasa dan sangat mengispirasi pada sekolah Mangunan ini.

“Merdeka Belajar” sebenarnya sudah lama diterapkan di sekolah ini sebelum adanya Kurikulum Merdeka.

Kunjugan studi tiru para guru agama Katolik Kota Salatiga ini semoga menginspirasi para guru-guru lain. Semoga jaya pendidikan dan generasi penerus Bangsa Indonesia. (*)

Alumnus STP-IPI Malang

2 Comments
  1. Susyharyawan says

    Terus ke SALAM sekolah alam lebih bebas lagi di sana

    1. Yoseph Widyawan says

      Mantap Mbah Susy👍👍

Leave A Reply

Your email address will not be published.