Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) Bekali Pasangan yang Akan Menikah

Perkawinan Katolik Dilakukan Sekali Seumur Hidup

0 10,911

Katolikana.com—Gereja Katolik mewajibkan umat yang akan menerima Sakramen Perkawinan untuk mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP).

Gereja Katolik memberikan panduan khusus dalam KPP kepada semua Gereja di seluruh Indonesia karena melihat bahwa Perkawinan Katolik adalah hal sakral yang dilakukan sekali seumur hidup.

Selain itu, perkawinan bukan perkara mudah. Pengenalan akan pasangan pun belum cukup jika hanya bermodalkan pengalaman ketika pacaran.

KPP diharapkan bukan sekadar formalitas bagi setiap pasangan yang ingin menikah.  Setelah mengikuti KPP, pasangan dapat lebih memahami dan mempersiapkan kehidupan berumah tangga.

Bekali Aspek-Aspek Kehidupan Rumah Tangga

Thea Novena adalah psikolog sekaligus pengajar KPP di Gereja Pugeran Yogyakarta. Selama empat tahun ini dia terlibat membantu para calon pengantin sebelum memasuki kehidupan perkawinan.

Thea Novena, Pengajar KPP di Gereja Pugeran. Foto: Istimewa

Gambar 2 Thea Novena, Pengajar KPP di Gereja Pugeran

Menurut Thea, KPP yang diadakan oleh Gereja Katolik bertujuan memberikan ‘bekal’ aspek-aspek dalam kehidupan berumah tangga.

Seperti, pengenalan diri tentang pasangan, mengatur keuangan dalam rumah tangga, dan menyadari ekspektasi atau mimpi masing-masing terhadap kehidupan perkawinan.

“KPP penting untuk membantu pasangan yang ingin menikah untuk lebih menyadari bahwa perkawinan terdiri dari banyak komponen dan penyesuaian terhadap kehidupan yang baru,” ujar Thea.

KPP, tambah Thea, membantu pasangan sadar bahwa di dalam perkawinan ada banyak penyesuaian. Dimulai dari diri sendiri, pasangan, bahkan menyesuaikan ekspektasi dengan lingkungan yang baru.

Materi KPP

Materi atau kurikulum KPP diberikan secara serentak oleh Keuskupan, lalu masing-masing Gereja akan membuat tema untuk dibahas lebih rinci.

Secara garis besar, terdapat dua materi yang diberikan. Pertama, materi psikologi seperti bagaimana mengatur keuangan dalam keluarga, kesehatan reproduksi, komunikasi antarpasangan, kepribadian pasangan.

Kedua, materi teologi yang membahas mengenai kehidupan Perkawinan Katolik.

Gereja Pugeran Yogyakarta memberikan pembelajaran KPP selama tiga hari, Jumat hingga Minggu.

  • Hari pertama: Semua calon pengantin menjawab satu test mengenai pengenalan terhadap kepribadian pasangan.
  • Hari kedua: Sesi dibuka oleh Romo yang membahas tentang kehidupan Perkawinan Katolik, dilanjutkan dengan tema yang sudah ditentukan. Acara diakhiri dengan sesi pertanyaan reflektif yang harus diisi oleh pasangan lalu dikumpulkan.
  • Hari ketiga: Menyelesaikan materi sesuai tema, lalu ditutup dengan misa.

KPP di Masa Pandemi

Selama pandemi, Gereja Pugeran menyelenggarakan KPP secara daring. Thea mengaku mengalami ketidakleluasaan ketika harus menyampaikan materi melalui daring.

Hal tersebut dikarenakan komunikasi dua arah akan menjadi lebih susah, suasana juga tidak secair jika kursus dilakukan secara offline.

“Kalau lewat zoom, tidak bisa leluasa untuk sharing. Ketika offline bisa tanya jawab, diskusi. Selain itu, karena daring jadi dibatasi oleh waktu, jadi kami kurang leluasa,” ungkap Thea.

Dampak positifnya, jumlah calon mempelai yang mengikuti KPP di Gereja Pugeran menjadi lebih banyak.

Hal tersebut karena beberapa Paroki Gereja tidak menyediakan KPP di masa pandemi, sehingga calon mempelai mencari Gereja yang menyelenggarakan KPP secara daring.

Psikologi Perkawinan

Materi yang diberikan oleh pengajar kepada calon mempelai disesuaikan dengan tema yang dibuat oleh setiap Paroki.

Pengajar yang menyampaikan materi juga disesuaikan dengan bidang keahliannya. Misalnya, tema tentang kesehatan reproduksi, maka materi akan disampaikan oleh bidan atau dokter.

Sebagai psikolog, Thea menyampaikan materi terkait dengan psikologi perkawinan.

Menurut Thea, KPP menjadi sangat efektif untuk diikuti calon mempelai sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

“KPP akan memancing pasangan untuk lebih aware terhadap kualitas hubungan, mengerti apa yang harus diperbaiki, dibangun atau bahkan dihilangkan dalam hubungan,” ujar Thea.

Selain itu, menurut Thea, hubungan dari seseorang akan menjadi lebih kuat atau bahkan sadar akan langkah apa yang harus dilakukan dalam hubungan mereka.

KPP akan memancing kesadaran setiap individu tentang ‘aku itu siapa dan apa yang aku mau dalam hubungan ini’.

Aspek psikologi seperti kognitif, afektif dan perilaku berperan dalam KPP yang diikuti oleh calon suami istri.

Seseorang akan mengetahui apa yang dia mau, siap secara mental ketika menghadapi kehidupan Perkawinan yang sesungguhnya.

Menurut Thea, banyak pasangan yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah karena alasan ‘harus’, tuntutan lingkungan, tetapi mereka lupa akan kesiapan mental.

Ketika calon mempelai mengikuti KPP, dia akan mengetahui nantinya ia akan hidup dengan karakter orang yang seperti apa.

“Dengan ikut KPP, setidaknya orang tahu tindakan preventifnya. Misalnya, jika pasangan sedang emosi apa yang harus diatasi,” ucap Thea.

Thea menambahkan, KPP juga makin meningkatkan awareness pasangan untuk menerima pasangan apa adanya, mengenali mereka, dan siap berdamai dan bahwa hidup bersama itu bukan dengan mengubah. Hal tersebut butuh persiapan dan kesadaran penuh dari setiap individunya.

“Jika masih ada yang berpikir bahwa dengan menikah, akan mengubah pola pikir pasangannya, berarti dia masih punya harapan yang tidak realistis terhadap perkawinan,” jelas Thea.

Menurut Thea, KPP yang tidak berujung dengan pernikahan bukanlah hal tabu.

“Kesiapan mental seseorang dalam menjalani bahtera rumah tangga menjadi hal yang lebih penting,” tambahnya.

Jika Kursus Persiapan Pernikahan diikuti oleh calon pengantin yang akan menikah dalam waktu dekat, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) juga mempunyai satu program yang dapat diikuti oleh muda-mudi yang sedang berpacaran menuju arah yang lebih serius, yaitu Program Discovery. Infografis: Tim

Meski materi yang disampaikan dalam KPP sangat penting, Thea menemukan fakta bahwa masih terdapat pasangan yang malas untuk mengikuti KPP.

Selain itu, ada pula alasan takut untuk mengetahui fakta tentang pasangannya sehingga mereka menghindari KPP.

Pentingnya Mengikuti KPP

Manfaat mengikuti KPP sebelum menikah diakui oleh Raras. Ia merasakan dampaknya ketika menjalani rumah tangga, khususnya dalam hal komunikasi kepada pasangan.

Meski ia merasa bosan saat mengikuti materi, selain sebagai syarat Perkawinan, ia tetap menganjurkan pasangan yang ingin menikah untuk memahami materi-materi yang diberikan oleh pengajar dan Romo.

Gereja Katolik melihat baha Kursus Persiapan Perkawinan sangat penting karena mengacu pada hukum Gereja, yaitu menikah sekali seumur hidup.

Pasangan yang siap menikah harus menyadari konsekuensi ketika mereka memutuskan untuk menikah. Gereja memfasilitasi umat dengan Kursus Persiapan Perkawinan sebagai bentuk preventif.[]

Kontributor: Maria Nariswari, Laurencia Eprina Dian, Kevin Aditya (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.