Nikah Beda Agama, Takut? Ini Prosedur dan Syarat Pernikahan Secara Katolik

Proses, syarat-syarat, dan prosedur menikah beda agama di gereja Katolik.

5 22,641

Katolikana.com – Sesudah saya menuliskan kisah hidup saya menikah beda agama Katolik dan Islam. Kali ini kepada Katolikana.com, saya akan menceritakan proses dan prosedur pernikahan beda agama secara Katolik.

Sebelumnya, jangan melewatkan membaca Kisah Saya Menikah Beda Agama: “Tak Sekalipun Kami Bertengkar Soal Agama”.

Tidak sedikit yang bertanya kepada saya soal menikah beda agama. Bukan hanya dari orang atau pasangan yang berbeda agama saja, tetapi dari banyak orang lain yang bahkan tidak memiliki pasangan sama sekali bertanya kepada saya soal topik ini. Tidak jarang yang mengeluhkan soal kesulitan mengurus berkas administrasi untuk persiapan pernikahan mereka. Beberapa juga ada yang curhat ke saya karena hubungannya akhirnya kandas, entah itu karena tidak dapat restu orangtua, menyerah duluan karena ribetnya administrasi, tidak ada yang mau menikahkan mereka, dan sebagainya.

Saya sangat berempati dengan teman-teman yang memiliki tantangan lebih berat dari saya dan suami. Nah, tulisan ini akan menceritakan proses saya dan suami saat mau menikah.

Saya seorang Katolik dan suami saya Muslim. Saat usia pacaran kami sekitar 6 tahun, kami memutuskan untuk menikah, tetapi kami tidak langsung bicara dengan pihak keluarga karena kami mau keputusan yang matang dan persiapan yang matang pula. Kami nggak mau ujug-ujug (tiba-tiba) datang ke keluarga tanpa solusi.

Setelah kami mencari info sana-sini, kami memutuskan untuk menikah secara Katolik. Alasan paling utama adalah karena gereja Katolik mengakui pernikahan beda agama. Memang, itu artinya tidak ada Sakramen Pernikahan untuk saya, tetapi itu adalah proses yang paling menghormati prinsip kami berdua, yaitu kebebasan untuk memilih dan memeluk kepercayaan yang diyakini akan diakui dan dihormati.

Kedua, menurut Undang-Undang Perkawinan Indonesia, suatu pernikahan itu dianggap sah oleh negara apabila pernikahan itu dilangsungkan secara sah menurut suatu agama tertentu (bahasanya mungkin berbeda dengan kalimat saya, tapi intinya seperti itu). Maka, menikah secara Katolik juga menjadi alasan praktis bagi kami, karena dari segi administrasi (harapannya) tidak ada hambatan yang signifikan.

Nah, suami dan saya sepakat untuk melangsungkan pernikahan tersebut di kapel kampus kami tercinta. Mengapa di sana? Sederhana saja, kami berjumpa pertama di kampus dan banyak mengalami pasang surut anak rantau sebagai pribadi maupun pasangan di situ pula. Selain itu, kami cukup dekat dengan salah satu Romo dosen yang kami mintai tolong untuk menjadi Romo yang memberkati pernikahan kami.

Nah, cukuplah ya cerita sentimentilnya, sekarang ke perkara yang sebenarnya dan yang ditunggu-tunggu… Apa saja syaratnya?

Prosedur yang harus dijalani itu ada dua, yaitu prosedur dari segi negara dan gereja. Negara mengharuskan semua calon pasutri untuk melengkapi berkas-berkas mulai dari RT hingga kantor Catatan Sipil. Hal itu berlaku sama persis untuk kami yang notabene adalah WNI.

Saya sedikit mengalami kendala di kantor kelurahan. Waktu itu saya minta bantuan ibu saya juga untuk mengurus kelengkapan administrasi di kelurahan sementara saya mengurus yang di gereja.

Ketika ibu saya mengumpulkan berkas, ditanyalah ibu saya oleh petugas loket, anaknya mau menikah sama siapa. Percayalah, “siapa” di sini bukan berarti si petugas loket kenal ibu saya dan menunjukkan keprihatinannya manusia macam apa yang akan menikahi anaknya ibu saya, oh, bukan… “siapa” di situ seagama atau tidak. Kentara sekali karena ketika ibu saya menjawab nama, si petugas merespon bahwa bukan nama yang dia ingin ketahui tapi agamanya apa. Ibu saya jawab jujur, Islam.

Si petugas kembali melontarkan komentar bahwa itu tidak boleh, dilarang oleh negara. Ibu saya mencoba tenang dan santai saja. Namun, setelah urusan kelar, ibu saya menghujani saya dengan berbagai kekhawatirannya, sampai-sampai saya yang sudah pede (percaya diri) sekali maju menikah beda agama, sempat ciut juga. Hanya saja saya berbekal aturan pemerintah yang sependek saya tahu tidak melarang secara eksplisit, jadi saya tetap maju jalan dengan semua rencana yang sudah kami susun. Puji Tuhan, akhirnya semua berjalan dengan baik dan lancar.

Kemudian ada prosedur gereja. Semua prosedur dan syarat sama saja dengan pasangan sesama Katolik. Tidak ada bedanya dan tidak diperumit. Pengalaman saya 6 tahun lalu, saya mendatangi sekretariat paroki tempat saya dibaptis, karena di situlah saya harus mengurus semua proses awal, yaitu pendaftaran.

Syarat pendaftarannya adalah melengkapi semua berkas yang diperlukan. Kalau nggak salah itu surat baptis, krisma, lalu dokumen N1-N4 (ini yang diperoleh dari kecamatan dan catatan sipil), KTP, KK gereja. Itu yang saya ingat, sebaiknya cek ke sekretariat masing-masing, ya, memastikan tidak ada perubahan. Lalu mengisi formulir pendaftaran. Nah, untuk yang beda agama di formulir nanti akan mengisi keterangan beda agama, supaya nanti nggak ditanyain mana surat baptis calon pasangannya.

 

Penulis merayakan pesta perkawinan yang ke-4 di Gereja Katolik di Yogyakarta. Foto: Maria Ambarastuti

 

Setelah itu, mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Dulu namanya ini, sekarang sepertinya sudah berbeda, ya. Karena kami saat itu tinggal di kota berbeda, sempat disarankan untuk mengikuti KPP di kota masing-masing saja. Diperbolehkan asal nggak lupa nanti menyertakan sertifikat KPP. Namun kami memutuskan mengikuti kursus bersama di Gereja Blok B, Jakarta. Oh iya, sertifikat KPP itu ada masa berlakunya ya, yaitu 6 bulan. Jadi kalau sampai 6 bulan setelah kursus belum menikah, dianggap sertifikatnya hangus dan harus ikut KPP lagi.

Setelah mengikuti KPP dan dapat sertifikat, tahap selanjutnya adalah Kanonik. Pada tahap ini, pasangan akan bertemu dengan Romo untuk ngobrol sama Romo soal kesiapan mental sebelum menikah. Romo akan mengajukan beberapa pertanyaan dan kroscek kelengkapan data kita.

Awalnya Romo akan minta kita dan pasangan untuk menghadap dan berdiskusi soal perbedaan agama, khususnya terkait anak. Dan ada kesepakatan yang perlu ditandatangani terkait sepakat bahwa anak akan dididik secara Katolik. Lalu obrolan akan dilanjutkan secara terpisah, entah yang laki dulu atau perempuan dulu.

Banyak yang suka bingung Kanonik itu ngapain, sih? Tenang aja, Kanonik itu proses di mana Romo mau mencari tahu apakah sebenarnya pasangan ini sudah saling kenal satu sama lain, benar tidak ada paksaan untuk menikah, dan siap dengan segala konsekuensinya.

Semua lebih seperti ngobrol dan mendapatkan nasihat dari Romo dan itu semua buat kebaikan kita sendiri. Ada yang takut bakal dikristenisasi. Haha..tenang saja, nggak bakal kok. Pas saya tanya ke pasangan saya, dia bilang yang ditanyakan hal umum banget, Romonya juga banyak ngajak bercanda.

Setelah Kanonik selesai, kita menunggu. Di sini satu-satunya fase yang membedakan dengan pasangan sesama Katolik. Kalau pasangan sesama Katolik setelah Kanonik selesai, Romo menyatakan pasangan tidak ada halangan menikah, maka kita bisa lanjut ke proses selanjutnya. Akan tetapi, untuk pasangan beda agama, kita harus memperoleh surat dispensasi dari Bapa Uskup.

Jadi setelah Kanonik, Romo yang tadi meng-Kanonik kita akan mengumpulkan semua berkas kita ke Keuskupan. Setelah Bapa Uskup memberikan surat dispensasi, barulah kita bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Tahap berikutnya adalah ketika izin menikah keluar, gereja tempat kita melakukan proses itu semua akan mengeluarkan pengumuman pernikahan dan akan diumumkan selama tiga minggu berturut-turut sebelum upacara pernikahan dilangsungkan. Tujuannya, memastikan bahwa memang pasangan yang disebutkan tidak memiliki halangan nikah.

Tambahan proses buat yang mau melangsungkan pernikahannya bukan di gereja tempat asal, harus memohon izin ke gereja tempat nanti akan melangsungkan pernikahan. Contoh, saya asal dari Jakarta tapi mau menikah di Jogja, jadi saya memberitahukan Romo yang akan memberkati pernikahan saya dan semua berkas asli yang diberikan Keuskupan harus diserahkan ke Romo yang akan menikahkan kami di lokasi penyelenggaraan. Saya dari awal juga sudah harus menyampaikan informasi ini ke pihak gereja asal saya supaya mereka juga menyiapkan surat-surat pengantarnya. Jadi, pastikan rencana kalian sudah benar-benar matang ya, sebelum menikah.

Setelah pernikahan di gereja selesai, kita melapor ke catatan sipil, deh. Bawa semua berkas persyaratan, datang sesuai janji, terus udah deh..kayak nikah lagi di catatan sipil, hehe.. Ada pasangan yang paginya ke catatan sipil dulu (tentunya sudah dengan perjanjian, ya) baru acara di gereja. Cuma waktu itu karena nikahnya di beda kota jadi pilihan itu tidak memungkinkan bagi kami.

Nah, itu tadi sharing soal prosedur menikah beda agama secara Katolik. Semoga bermanfaat, ya!

 

Editor: Basilius

 

Lahir di Jakarta, 2 April. Menjadi buruh bahasa di bidang penerjemahan sejak 2006, sekarang domisili di Yogyakarta.

5 Comments
  1. awan says

    saya mau tanya kak. apa kah skrng msh bisa menikah beda agama? saya tanya katanya uda ga bisa

  2. anida says

    Mba boleh minta nomor yg bisa di hub gak..aku mau nanya dan certa tentang pernikahan beda agama ke mba

  3. apri says

    saya mendapat berita bahwa pernikahan dua kali sudah tidak dapat di lakukan karena sekarang dtaa dukcakpil sudah online dan saling terhubungdan terkordinasi menjadi satu. lalu bagaiama cara nya untuk yang mau menikah beda agama ya ?

  4. Siti Mulia says

    mau tanya mbak … pernikahan beda agama Kathollik dan Islam … jadi utk yg islam tidak perlu ke KUA kah ? mohon jawabannya mbak … terimakasih

  5. Ari wibowo says

    Sekarang saya ingin melangsungkan pernikahan beda agama Wanita katolik dan saya Islam. Boleh tolong Save WA saya untuk kolsuktasi masalah ini saya mohon bantuannya 082210032113 khusus WA

Leave A Reply

Your email address will not be published.