Kisah Saya Menikah Beda Agama: “Tak Sekalipun Kami Bertengkar Soal Agama”

Kesaksian pasangan menikah beda agama Katolik dan Islam.

1 1,467

Katolikana.com – Saya terlahir di keluarga Katolik, namun saya memilih tetap mengikuti Yesus atas keputusan saya sendiri, bukan karena kedua orangtua saya.

Saya sempat mendeklarasikan diri sebagai Atheis, sebagai Agnostic, sempat mau pindah Hindu, tapi pada akhirnya saya kembali pada Yesus.

Perjalanan saya sampai ke sini nggak mudah dan banyak sekali keraguan, pertanyaan, kebencian, dan luka batin yg rasanya ngga habis-habis. Sampai pada suatu titik, setelah di SMA juga diajari semua agama (yes, the perks of studying in a Kolese sekolah Yesuit tapi mengajarkan semua agama atau teologi), saya lalu mendapat momen – semacam pencerahan. Dan anehnya, tokoh utama yang menunjukan saya ke jalan itu bukan orang Kristiani. That’s just how mysterious God works is.

Nah kisah saya ini soal bagaimana saya mengimani Yesus dalam perjalanan saya menjalani relasi beda agama dengan pasangan. Saya anak bontot dari dua bersaudara, perempuan semua. Selepas SMA saya memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta – ratusan kilometer terpisah dari keluarga saya.

Bapak saya yang sangat keras dan ketat orangnya itu tidak suka ketika tahu saya pacaran dengan orang beragama Islam. Saya pernah tiba-tiba saja ditelepon bapak sambil beliau marah-marah, menuding saya sudah pakai jilbab dan ibadah ke Masjid. Berbagai ancaman saya terima sampai kuping saya panas sekali rasanya dan pipi saya juga basah karena saya sedih sekali.

Namun demikian, saya percaya Tuhan tahu isi hati saya yang terdalam.

BACA JUGA! Nikah Beda Agama, Takut? Ini Prosedur dan Syarat Pernikahan Secara Katolik.

Nah, sedikit kilas balik dan cerita agak sentimentil ya, kawan. Mentang-mentang saya ini merasa sudah dapat pencerahan dan yakin Yesus itu selalu mendengarkan saya.

Suatu ketika saya lagi main di sawah di daerah Sedayu, Yogyakarta, saya itu ngajak ngobrol Tuhan dalam hati. Saya bertanya, “Tuhan, memang gimana sih caranya mencintai orang dengan tulus itu? Gimana sih caranya punya kebesaran hati seperti Engkau mengampuni Yudas?”

Berat, ya, pertanyaannya. Saya lupa dengan pertanyaan saya sendiri, hanya dalam beberapa menit setelahnya karena asyik melihat bebek jalan berbaris di sawah (maklum, anak kota banget deh!), tetapi sepertinya Tuhan tidak. Sepertinya Tuhan sungguh mendengar, dan dia jawab semua dengan rencana-Nya yang indah.

 

Penulis bersama pasangannya mengikuti jalan salib di Bukit Doa, Manado. Foto: Maria Ambarastuti.

 

Sekitar dua bulan kemudian saya pacaran dengan pasangan saya – saat ini menjadi suami saya. Kemudian, sudah kira-kira berjalan setahun, ada acara kumpul keluarga besar di Gandaria, Jakarta Selatan. Waktu itu Simbah Kakung (kakek) saya masih hidup. Saya lagi duduk di sebelah simbah saya ketika bapak menghampiri kami, dan dia bilang, “Pak, Ambar ini pacarnya orang Islam lho, bayangin.”

Respons simbah saya itu tidak akan pernah saya lupakan. Beliau tersenyum! Beliau menjawab, “Lha, ngopo? Kita ini kan terbuka sama semua. Semua saudara.”

Makjleb rasanya. Hati saya adem ayem.

Beberapa tahun pacaran, Simbah Kakung juga kemudian meninggal dunia, dan layaknya pasangan pada umumnya kami menghadapi masalah dan itu cukup mengguncang keyakinan saya akan hubungan kami.

Nah, tiba-tiba saja di momen itu saya teringat pertanyaan saya ke Tuhan waktu jalan-jalan di sawah. Lalu seakan ada yang bisikin saya, “Ini lho jawabanmu”. Waduh, kaget saya. Dan saya juga langsung teringat pula respon simbah saya. Di situlah saya terhenyak, oh iya ya, kasih itu lebih besar dari segalanya. Mengampuni adalah bagian dari kasih. Percaya setiap manusia punya harapan dan memberi harapan dan membantu manusia lain untuk menjadi lebih baik itu wujud kasih.

Ya itulah yang lalu menjadi bahan obrolan panjang kami berdua sebagai pasangan dan itu pula yang mendasari hubungan kami berdua bahkan setelah hampir 18 tahun kami menjalin hubungan bersama.

Tentu saja hubungan kami tidak lantas mulus licin bak kulit Song Hye Kyo, ya. Justru makin bertubi-tubi masalahnya dan menguras fisik serta emosional kami berdua. Namun, tidak sekalipun kami bertengkar soal agama. Tidak pernah sekalipun, dari sejak kami pacaran tahun 2006 sampai detik ini agama menjadi isu pertengkaran. Sama sekali.

Yang sibuk meributkan soal agama itu malah orang lain. Ada yang meragukan keimanan kami semata karena pasangan kami beda agama, ada yang bisik-bisik mennyuruh kami untuk mengajak pasangan pindah agama, dan banyak lainnya. Tapi semua itu tidak datang dari kami berdua. Malahan kalau ada orang yang ngomong begitu ke kami, itu akan jadi bahan gosip kami berdua sebelum maraton nonton serial Netflix. Dan kami akan selalu kembali berdua penuh kasih.

Faith. Spritualism. Itu tuh susah dipahami cuma dari Buku Suci. You gotta EARN it, experience it, so DEEP. Dan kamu nggak bisa, dan NGGAK AKAN PERNAH bisa memaksakan itu ke orang lain. Saya nggak bisa bicara pengalaman spiritualisme suami saya, ya, tapi dari apa yang sudah kami lalui selama ini, saya yakin suami saya sependapat sama saya. Keimanan itu bukan sekadar mengutip ayat dengan lancar di luar kepala, tetapi praktik keseharian kita itu yang menunjukkan keimanan kita.

Itulah kenapa, buat saya, buat kami berdua menikah beda agama bukan masalah. Lha wong, tiap orang perjalanan iman dan spritualismenya beda-beda, kok. Tapi dua makhluk bisa saling mencintai dan menghargai itu nggak harus sama kulitnya.

Suami saya Islam, dan sampai sekarang Islam. Saya nggak pernah usik keimanannya dan ibadahnya. Itu urusannya sama Tuhan. Dia juga begitu ke saya. Kami berjalan beriringan berdua karena kasih. Mengeksekusi rencana-rencana besar yang sudah Tuhan siapkan untuk kami dengan tekun, dengan tulus. Sudah, begitu saja hidup kami.

Buat yg masih mencari-cari, semoga jalanmu tercerahkan. Follow your heart, because in the end, we will meet our Creator and only He can judge us. No one else.

God bless!

Editor: Basilius

 

Lahir di Jakarta, 2 April. Menjadi buruh bahasa di bidang penerjemahan sejak 2006, sekarang domisili di Yogyakarta.

1 Comment
  1. Br Honorius says

    Terima kasih utk sharing pngalaman mnikah beda Agama. Semoga tetap terjaga cunta suci kalian berdua n berikan jg kebebasan utk anak2 memilih jln hidupnya. Selama di dunia ini Kita mmng bs beda Agama tp pada hakekatnya bermuara pada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yg sama, satu. Tuhan memberkati

Leave A Reply

Your email address will not be published.