Perutusan dalam Pandemi: Bau Bawang dan Pengapnya Bus Malam

Perjalanan Suster Laurentina ke desa Maubesi, Nusa Tenggara Timur

0 73

Katolikana.com – Pandemi Covid-19 membuat tugas perutusan tertunda. Setelah beberapa bulan, akhirnya saya menjalankan tugas perutusan itu. Berikut ini sepotong cerita perjalanan saya ke desa Maubesi, sebuah daerah di pedalaman Timor, pada 28 Mei 2020.

Inginnya saya di rumah saja seperti yang lainnya, namun apa daya saya harus melaksanakan tugas ke luar daerah dan tidak bisa ditunda lagi, karena memang sudah tertunda beberapa bulan maka saya harus mengadakan perjalanan ke luar kota. Perjalanan menuju desa Maubesi di wilayah kabupaten Timor Tengah Utara membutuhkan perjuangan tersendiri untuk situasi saat ini tidak mudah bagi saya.

Dengan perjalanan yang ditempuh dari kota Kupang ke Maubesi membutuhkan waktu 4-5 jam dengan mengendari bus umum langganan kami tidak beroperasi pada siang dan pagi hari selama Pandemi Covid-19 ini, mereka hanya beroperasi pada malam hari saja.

Perjalanan menuju agen bus dibutuhkan waktu setengah jam, berangkat dari biara jam 18.30 dan tiba di agen jam 19.00. Saya masih menunggu hampir 2,5 jam karena bus baru akan jalan pada pukul 21.00, bahkan bisa lebih karena menunggu penumpang yang lain.

Malam itu bus terlambat jalan karena menunggu kontainer dari pelabuhan yang memuat bawang merah yang akan dibawa ke Atambua. Hampir pukul 21.30, malam terasa dingin, bus melaju menembus kegelapan malam dan menyusuri jalan yang berliku.

Ada kebiasaan saya bila naik bus, memesan kursi paling depan agar tidak merasa pusing. Namun, udara dalam bus malam itu mengganggu pernafasan saya. Engap sekali rasanya. Ada muatan empat karung bawang merah dalam bus. Bau bawang merah yang tak karuan itu, sedikit berkurang dan agak melegakan nafas saat saya membuka jendela.

Bagi saya hal yang saya hindari adalah melakukan perjalanan ke luar kota pada malam hari. Selain gelap gulita, beberapa rute jalan yang saya lalui adalah daerah rawan atau tidak aman. Dalam situasi normal, saya selalu memilih pagi hari untuk perjalanan ke luar kota. Namun, kali ini saya tak bisa memilih, bus yang kami tumpangi hanya berjalan pada malam hari pada masa Pandemi Covid-19 ini.

Dari Posko ke Posko

Kota Kupang merupakan zona merah maka saat memasuki perbatasan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang juga masuk zona merah harus melalui pemeriksaan. Demikian juga saat memasuki wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, setiap perbatasan harus melalui posko dan wajib diperiksa tanpa kecuali.

Ketika tiba di perbatasan antar kabupaten semua penumpang wajib melapor ke Posko Covid. Kami langsung diperiksa suhunya, KTP, dan mendapatkan beberapa pertanyaan. Dan yang membuat tidak nyaman adalah fasilitas dan tenaga yang terbatas. Ini yang membuat prosesnya lama sekali, apalagi KTP saya masih Jawa Tengah, sehingga banyak pertanyaan yang harus saya jawab.

Saat masuk ke suatu desa, hal yang sama juga saya alami. Para relawan yang berada di desa tersebut menjaga posko 24 jam. Kami melewati posko sesuai dengan aturan yang berlaku, satu persatu kami diukur suhu tubuh kami, jika ada yang tidak wajar maka akan banyak catatan dari petugas. Akhirnya pemeriksaan pun selesai.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Syukur pada Allah akhirnya kami tiba dengan selamat tepat pukul 02:00 dini hari. Lalu kami pun beristirahat.

*Kisah ini bagian miniproject #KatolikanaBercerita saat Pandemi Covid-19. 

 

Editor: Basilius

 

Biarawati  berkarya di Kupang, pendamping korban human trafficking dan pekerja migran Nusa Tenggara Timur

Leave A Reply

Your email address will not be published.