Warna-Warni FKY 2022 ‘Merekah Ruah’, Catat Kebudayaan Warga dalam Hal Pengelolaan Air dan Tanah

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2022 berkolaborasi bersama komunitas kesenian dan pengemudi truk.

0 113

Katolikana.comFestival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2022 telah terselenggara September 2022 lalu di beberapa tempat, antara lain: Taman Budaya Gunungkidul, Museum Kotagede, Gedung Kesenian Sleman, Taman Budaya Kulon Progo, dan Pendhapa Kalurahan Poncosari Srandakan.

Salah satu Ketua FKY 2022 Dony Maulistya mengatakan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2022 mengusung konsep dengan mencatat kebudayaan warga dalam hal pengelolaan air dan tanah, yang ditunjukkan dalam bentuk rupa maupun tanda.

Sebagai fokus, air dan tanah dapat dieksplorasi dengan berbagai pemaknaan melalui praktik-praktik kebudayaan. Isu ini dikerangkai dalam tema ‘Mengelola Air dan Tanah’ dengan judul ‘Merekah Ruah’.

Ketua FKY 2022 Dony Maulistya.

“Dalam semangat pencatatan kebudayaan tersebut, kata kunci yang digunakan FKY 2022 adalah keberdayaan warga,” ujar Dony Maulistya.

Menurut Dony, konsep ini berbeda dengan konsep FKY 2021 yang mengusung pencatatan kebudayaan warga terkait pengelolaan sampah dan dapur rumah tangga.

“Konsep yang diusung FKY selaras dengan tujuan dari FKY 2018-2022, yakni melakukan pencatatan kebudayaan dari segala aspek yang terlibat dalam produksi kebudayaan. Tujuan paling nyata adalah mencari positioning FKY, selama dua tahun FKY berusaha menempatkan posisi sebagai momentum pencatatan kebudayaan,” tambah Dony Maulistya.

Dalam proses penyesuaian kondisi di tengah virus Covid-19 yang masih melanda, FKY 2022 tidak terlepas dari banyak tantangan.

Menurut Dony, tantangan FKY 2022 lebih mengacu bagaimana upaya mengontrol emosi masyarakat dalam menikmati Festival Kebudayaan Yogyakarta.

“Tantangannya adalah mengontrol emosi publik untuk datang dan merasakan pengalaman FKY ini,” ujar Dony Maulistya.

Panitia memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan desain atau tampilan secara fisik ragam kebudayaan warga Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kolaborasi

Kehadiran FKY 2022 bersama pegiat budaya, seniman, kelompok atau komunitas seni, serta subjek pelaku kebudayaan berupaya mencatat segala jenis dan bentuk kebudayaan perihal air dan tanah.

Pada bentuk rupa air dan tanah, FKY 2022 berkolaborasi bersama komunitas kesenian dan pengemudi truk.

Menurut Dony, kelompok pengemudi truk turut serta menjadi pelaku kebudayaan melalui warna warni truk yang menghidupi mereka.

“FKY 2022 memiliki keunikan dengan melibatkan kelompok pengemudi truk yang rupanya telah menjadi penyumbang kebudayaan melalui truk mereka sebagai penunjang mata pencaharian mereka,” ujar Dony.

Sedangkan dalam bentuk tanda air dan tanah, FKY 2022 berkolaborasi bersama komunitas Shaggydoy Record dan ADA Sarang.

Kolaborasi bersama kedua komunitas membuka wadah bagi pergerakan musik dan penampilan kesenian independen di Yogyakarta melalui perayaan Festival Kebudayaan Yogyakarta.

“Kolaborasi khusus bersama komunitas, pelaku budaya, dan subjek budaya, seperti Shaggydog Record lewat festival kecil yang merayakan pergerakan musik independen di Jogja dan komunitas ADA Sarang melalui performance art,” ungkap Dony.

Di balik kolaborasi bersama pegiat dan pelaku budaya, FKY 2022 memiliki syarat khusus bagi individu atau kelompok yang ikut terlibat, yakni individu atau kelompok yang memiliki bisnis kecil atau bisnis baru di bidang kerajinan tangan dan kuliner.

“Syarat khusus FKY 2022 terletak pada program yang didesain sedemikian rupa, salah satunya program pasar FKY. Program ini hanya boleh diikuti oleh bisnis kecil dan UMKM yang menekuni kerajinan dan kuliner,” tambah Dony.

Suasana FKY 2022 di malam hari. Foto: Istimewa

Harapan

Keikutsertaan masyarakat Yogyakarta dalam memeriahkan FKY 2022 menjadi salah satu visi yang terpampang dalam poster FKY 2022.

Poster lain yang menjadi sorotan adalah gradasi antara bentuk, angka, huruf, juga warna menjadi simbol dari air dan tanah untuk menggambarkan FKY 2022.

Menurut Dony, harapan dari warna warni air dan tanah dalam FKY 2022 lebih mengutamakan kebutuhan psikologis pengunjung.

“Adanya perasaan baru yang muncul sebagai suatu pengalaman, setelah pengunjung mengikuti alur emosi FKY 2022 melalui alunan suara dan lagu,” ujarnya.

Terlepas bagaimana pengunjung menumpahkan perasaannya dalam sebuah tangisan atau rasa sedih, kehadiran FKY 2022 menjadi ruang kebebasan pengunjung berekspresi.

“Harapannya jelas pada pengunjung nantinya bisa merekahkan dampak baik, pengunjung bisa mengakses FKY ini sebagai sebuah pengalaman, sebuah penghiburan, dan ruang pertukaran pengalaman,” ujar Dony.

Selepas waktu pelaksanaan FKY 2022, pengunjung juga masih bisa merasakan dan mengingat kembali kemeriahan FKY 2022 dalam website fky.id.

Tim Katolikana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta berpose dengan Ketua FKY 2022.

Kilas FKY

Sejak 1980-an, Festival Kebudayaan Yogyakarta telah digagas oleh kelompok seniman di Yogyakarta.

Namun, keberhasilan penyelenggaraan baru dapat dirasakan pada tahun 1988 dengan nama Festival Kesenian Yogyakarta, setelah mendapat dukungan dari pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejak 1988-2022, FKY rutin dilaksanakan setiap tahunnya dengan melibatkan kelompok masyarakat sebagai pelaku kesenian dan kebudayaan.

Meski begitu, nama ’Festival Kesenian Yogyakarta’ hanya sampai di tahun 2018. Pada tahun 2019-2022 FKY menempatkan diri sebagai ’Festival Kebudayaan Yogyakarta’

”Tahun 2019 hingga 2022, FKY masih tetap mencari bentuk ataupun rupa sebagaimana sebuah festival kebudayaan” ucap Dony Maulistya. (*)

Kontributor: Bernadetha Christy Herdantia, Dessy Franly, Albertus Handy Widodo, Cokorda Agung Istri Wedawati.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.