Meruntuhkan Sekat Perbedaan

Sekolah Lintas Iman di Yogyakarta melahirkan calon-calon tokoh agama yang peduli masalah sosial.

0 159

Katolikana.com – Pada 2009, Elga Sarapung, seorang akademisi dan pegiat lintas iman menggagas sebuah sekolah pluralisme di kalangan orang muda di Yogyakarta. Ia melihat pertemuan orang-orang muda yang studi di Yogyakarta berasal dari berbagai pelosok Tanah Air.

Elga mengawali dengan mempertemukan mahasiswa-mahasiswi dengan basis (pendidikan) teologi untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Ia pun melibatkan institusi universitas di Yogyakarta, antara lain Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Institut DIAN/Interfidei. Gerakan baru ini diberi nama Sekolah Lintas Iman atau SLI.

“Idenya juga dalam rangka bagaimana calon-calon pimpinan agama-agama bisa mengerti, bisa sensitif dengan isu-isu sosial masyarakat. Jadi mereka tidak hanya akan jadi Pendeta yang sibuk dengan aktivitas internal begitu, begitu juga yang menjadi Romo, atau mungkin Ustadz atau Kyai. Tapi bagi kami penting untuk punya sensitivitas dalam persoalan-persoalan masyarakat,” ujar Elga saat diwawancara pada Oktober tahun lalu.

SLI pertama pun digelar pada tahun akademik 2009-2010, tepatnya pada bulan Oktober 2009 hingga Januari 2010. Tema yang diambil saat itu adalah “Filantropi dalam Agama-agama”. Kala itu, mahasiswa yang tergabung menjadi peserta SLI diajak untuk kunjungan lapangan ke instansi terkait, refleksi, dan live in selama dua hari satu malam di Wihara Mendut. Kurikulum yang sama dipertahankan sampai saat ini.

Kegiatan SLI dinamis, banyak interaksi, baik peserta, pemateri dan fasilitator. Suasana kesetaraan sangat terasa. Bahkan, tak jarang para peserta berani berdebat dengan fasilitator demi mendapat satu titik temu.

“Yang paling menonjol adalah toleransi. Sebelum mengikuti SLI, segala kegiatan umat beragama yang belum saya pahami, saya anggap bukan apa-apa, bahkan guyonan,” ujar Yuniati, salah seorang peserta SLI dari UKDW, kepada penulis, Oktober 2020 lalu.

“Tetapi setelah mengikuti SLI saya menjadi lebih memahami, menghargai, dan menerima segala perbedaan dalam penghormatan dan dukungan yang tinggi. Akibatnya tidak jarang saya didebat dan pemikiran saya diterima oleh beberapa fundamentalis dan fatalis yang ada dalam gereja,” kata Yuniati.

 

Elga Sarapung, fasilitator sekaligus pendiri SLI, berbicara di tengah peserta. Foto: istimewa

Sementara itu, Fata Hanifa, alumna SLI dari Universitas Gadjah Mada, menyebut SLI secara radikal mengubah cara pandangnya mengenai dialog interreligius saat diwawancara oleh penulis Oktober tahun lalu.

“Sebelum mengikuti SLI, saya pesimis dengan fungsi dialog interreligius. Saya terus bertanya, apakah dialog interreligius bisa memberikan perubahan terhadap besarnya jembatan prasangka buruk antaragama,” ucapnya.

“Namun, setelah mengikuti SLI, saya menjadi yakin bahwa dialog interreligius mampu mengecilkan besarnya jembatan prasangka buruk antaragama karena ruang yang diberikan untuk berdialog dan karena hadirnya mediator yang memiliki kemampuan mediasi sehingga proses dialog menjadi cair.”

“Maka, ketika saya berhadapan dengan perbedaan, saya jadi mengutamakan dialog, terutama dialog yang aman dan ekual, sehingga maksud dan tujuan dapat disampaikan dengan baik,” tuturnya.

Hingga tahun akademik ini, SLI telah memasuki angkatan ke-12. Topik-topik menarik dibahas setiap tahunnya, mulai dari ekologi, disabilitas, hingga politik. Narasumber yang berkompeten pun selalu dihadirkan setiap tahunnya, sehingga para peserta dapat memperoleh informasi dan materi dari orang pertama. Keikutsertaan Universitas Sanata Dharma sejak SLI II makin meramaikan kegiatan yang juga berstatus sebagai mata kuliah pilihan tersebut.

Para pendamping, yang biasa disebut fasilitator, senantiasa mendampingi para peserta dalam setiap SLI. Mereka menjadi teman seperjalanan para peserta, sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dalam kegiatan dialog. Untuk saat ini, yang menjadi fasilitator adalah Ibu Elga, Bapak Pendeta Wahyu Nugroho (UKDW), Romo YB Prasetyantha, MSF (USD), dan Ibu Inayah (UIN).

Meruntuhkan Sekat Perbedaan

Dalam perjalanannya, kata srawung dan rembug senantiasa muncul dalam dinamika SLI. Srawung merupakan bahasa Jawa yang berarti upaya bertemu dengan pribadi lain. Rembug, artinya saling berbicara atau berdiskusi. Hal ini tampak dari perjumpaan yang dilakukan para peserta sepanjang program, yang meruntuhkan sekat-sekat perbedaan asal-usul, agama, hingga latar belakang.

“Yang namanya mengenal, mengenal dengan arti yang dalam, ya. Itu kan tidak sebatas mengetahui berdasarkan teori. Nah, mengenal yang lebih dalam itu memang kita perlu betul-betul masuk ke dalam kerumahtanggaan mereka,” ujar Yusak Tri Darmanto, mantan fasilitator yang juga salah satu pendiri SLI dari UKDW, kepada penulis Oktober 2020 lalu.

“Pengalaman itu berhasil menciptakan perubahan-perubahan yang konstruktif dalam diri seseorang tentang agama lain. Yang semula kaku-kaku menjadi agak lentur. Yang semula tidak berani berkelakar, berkelakar, tanpa harus merasa kelakarannya itu menodai. Mengapa? Karena kita sudah kenal.

“Masalah kita bersama itu ketika ada di sebuah institusi dalam rangka militanisme itu entah sadar entah tidak itu kita membangun fanatisme-fanatisme. Dan fanatisme-fanatisme itulah yang kemudian menguasai hidup saya, membuat saya ini setiap kali mau melakukan kadang-kadang yang terpikir itu agamamu apa,” ia menambahkan.

Sedangkan rembug (Jawa), yang dapat diartikan sebagai upaya bermusyawarah, tampak saat para peserta berusaha menemukan solusi atas permasalahan yang diangkat SLI setiap tahunnya. Rembug, yang biasa dialami di tengah masyarakat, menjadi salah satu jalan masuk paing mudah untuk berdialog.

“Yang mendukung menurut saya Jogja itu kan masih masyarakatnya masyarakat komunal. Jadi lebih mudah diajak untuk rembugan, itu bagi saya. Ini positif, ya. Yang kedua, kegiatan-kegiatan kampung ya masih hidup, gitu ya. Itu kan juga menurut saya potensial untuk digunakan sebagai media merekatkan masyarakat,” kata Waryono, tokoh pendiri SLI dari UIN Sunan Kalijaga, saat ditemui penulis pada Oktober tahun lalu.

 

Rm. YB Prasetyantha, MSF, salah seorang fasilitator SLI dari Unniversitas Sanata Dharma, berdialog dengan para peserta SLI XI, Sabtu, 8 Februari 2020. Foto: Istimewa

 

SLI telah mencetak puluhan, bahkan ratusan alumni, yang menjadi agen inklusivisme dalam masyarakat. Mereka, yang kebanyakan berprofesi sebagai pemuka agama, bahkan tak jarang membawa nilai-nilai inklusivitas yang didapat dalam SLI saat sudah berkarya di tengah masyarakat.

“Sejauh saya melihat, para peserta yang ikut SLI ke depannya lebih mudah terbuka,” ujar Romo Prasetyantha, fasilitator dari USD, dalam wawancara Oktober tahun lalu. “Mungkin apakah ini karena SLI-nya, atau sebenarnya karena kita sendiri dalam tradisi teologi kita (Katolik) yang setelah Konsili Vatikan II memang sudah seperti itu.”

Berkembangnya SLI tak lepas dari jasa Institut DIAN/Interfidei, yang telah malang melintang dalam kegiatan lintas iman di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Dengan dimotori Ibu Elga, lembaga ini rutin mengadakan kajian, penelitian, dan seminar terkait konteks kebinekaan di Indonesia. Bahkan, tak jarang mereka turut hadir dan memberi solusi atas permasalahan keagamaan, yang rentan terjadi di Indonesia.

“Memang harus ada semakin banyak inisiatif-inisiatif untuk kegiatan lintas iman, bukan hanya bertumpu pada pemerintah saja. Tapi kita, kelompok-kelompok keagamaan, termasuk kampus-kampus, sekolah-sekolah, harus ikut berpartisipasi. Jadi, jangan sampai merasa terbatasi untuk mengkreasikan sebuah program atau kegiatan yang bisa mempertemukan orang,” ujar Elga.

“Selama ini kan dialog-dialog diatur secara formal. Kalau Kemenag tidak undang, FKUB tidak undang pimpinan agama-agama, hampir-hampir tidak pernah terpikirkan untuk bertemu. Itulah yang coba kami biasakan sejak sekarang dalam program-program kami dengan guru-guru, dengan anak muda, dengan pemimpin agama berbasis komunitas sebagai prasyarat di dalam mengelola perbedaan.”

“Karena kalau kita tidak pernah berjumpa, tidak pernah berdialog, omong kosong jika kita bilang hidup saling menghargai. Atau di kepala kadang masih banyak stereotip, masih banyak hal yang ingin saya tahu tentang orang itu, mereka yang lain, tapi enggan menanyakan hal itu,” pungkasnya.

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama Katolikana dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Menyelesaikan Sarjana Filsafat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kini menjadi mahasiswa di Magister Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selain kuliah, ia juga menjadi reporter olahraga di sebua media online.

Leave A Reply

Your email address will not be published.