Belajar Toleransi dari SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran

Perjuangan alumni-alumni santri menghadirkan kehidupan toleransi di Pangandaran

0 87

Katolikana.com – Perjuangan panjang menghadirkan toleransi di tengah kehidupan masyarakat Pengandaran. Sebuah sekolah yang didirikan orang-orang muda, mampu bertahan dan melewati tantangan berat dalam memahami perbedaan antaragama.

Sekolah Menengah Kejuruan Bakti Karya Parigi, Pangadaran, yang dikelola oleh sebagian besar alumni santri, tak menjamin luput dari tuduhan-tuduhan miring, seperti kristenisasi.

Athif Roihan Natsir, Kepala Sekolah SMK Bakti Karya Parigi, Pangadaran, menceritakan pengalaman dan perjuangannya menghadirkan toleransi melalui sekolah. Ia menceritakannya kepada Katolikana.com, pada Mei 2021 lalu.

Athif Roihan Natsir, Kepala Sekolah SMK Bakti Karya Parigi. Foto: Istimewa

Kecurigaan ‘kristenisasi’ itu dipantik oleh alasan sederhana. SMK Bakti Karya Parigi merupakan sekolah  pertama di Pangandaran yang menerima siswa-siswi dari seluruh Indonesia dengan program kelas multikultural. Alhasil warga sekitar awalnya sempat terheran-heran dengan banyaknya siswa-siswi sekolah yang terlihat asing bagi mereka. Terutama dengan kehadiran siswa-siswi asal Indonesia Timur.

Konsep tentang sekolah ini digagas oleh sekelompok mahasiswa asal Pangandaran yang terkumpul dalam Komunitas Sabalad. Komunitas ini awalnya bergerak dengan semangat berbagi ilmu kepada masyarakat Pangandaran melalui cara non-formal, seperti kelas pelatihan menulis dan Bahasa Inggris.

Penyelamatan Sekolah

Namun pada tahun 2016, mereka resah saat mengetahui ada sebuah sekolah swasta di Pangandaran yang terancam tutup karena jumlah siswa-siswinya kurang dari 20 orang. Keresahan ini mengantar Komunitas Sabalad berinisiatif mengambil alih pengelolaan sekolah dan melakukan intervensi.

Mereka lantas menggagas sebuah program beasiswa penuh dan memutuskan untuk menerima siswa-siswi dari seluruh Indonesia. Program inilah yang mereka namakan kelas multikultural.

Athif bercerita bahwa celotehan salah satu barista asal Jakarta yang dolan ke Komunitas Sabalad lah yang membuat mereka makin mantap mengeksekusi gagasan ini. “Ini kopi aja dari mana-mana bisa ketemu di Pangandaran, kok orangnya nggak bisa?”, ucap Athif menirukan komentar si barista.

Maka kelas multikultural juga tidak dirancang seperti program kelas khusus di sekolah pada umumnya yang biasanya hanya terdiri dari 1-2 kelas khusus saja, SMK Bakti Karya Parigi sengaja mendesain agar semua siswa-siswi sekolah masuk dalam program kelas multikultural. Tujuannya agar seluruh siswa-siswi sama-sama mendapatkan kesempatan berjumpa dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda.

Konsep ini nyatanya berhasil menarik minat banyak pelajar ke sekolah yang  nyaris tutup. Saat ini, SMK Bakti Karya Parigi memiliki 70 siswa-siswi yang berasal dari 24 provinsi.

Tinggal Bersama di “Pesantren”

Kelas multikultural pun tak hanya diterapkan sebatas dalam ruang kelas di sekolah. Sebab siswa-siswi juga diasramakan dalam asrama putra dan asrama putri yang dikelola dengan konsep pesantren. Di asrama tersebut, siswa-siswi tidak hanya tinggal, tetapi juga ada jadwal rutin pengajian atau pendalaman agama setelah maghrib dan isya.

 

Siswa-siswi SMK Bakti Karya Parigi. Foto: istimewa/sbk.sch.id

 

Siswa-siswi muslim didampingi oleh guru agama. Sementara siswa-siswi non-muslim didampingi oleh alumni beragama Katolik dan Protestan yang bersedia ikut membantu di sekolah.

“Pesantren itu kita nganggepnya tempat santri atau pesantrian, tempat orang-orang yang belajar, sesuai konsep awalnya. Jadi temen-temen yang non-Muslim pun logis untuk masuk ke situ,” jelas Athif.

Saat di bulan puasa, para pelajar non-Muslim bisa berdampingan dengan kegiatan yang melakukan pengajian Ramadan, yaitu dengan ‘ngaji Alkitab’. “Mereka berdampingan antara temen-temen yang ngaji tajwid dengan temen-temen yang ngaji Alkitab,” ucap Athif, lagi.

Tantangan Berat

Athif sendiri mengakui tidak mudah mengelola sekolah ini. Selain harus berjibaku menjaring siswa-siswi baru setiap tahunnya, komitmen memberikan beasiswa penuh juga membuat pengelola sekolah harus terus memutar otak guna mencari dana untuk operasional sekolah dan biaya hidup siswa-siswi sehari-hari.

Perbedaan latar belakang juga membuka fakta adanya gap pengetahuan diantara siswa-siswi. Ada yang sudah memiliki pengetahuan dasar yang baik lumrahnya anak lulusan SMP, tetapi ada kalanya guru-guru harus memberi bimbingan ekstra kepada siswa-siswi yang masih kesulitan untuk membaca, berhitung, dan menulis.

Namun demikian, tantangan terberat yang pernah dialami para pengelola sekolah ini adalah sulitnya mendapatkan kepercayaan warga. Salah satunya terjadi pada peristiwa Natal 2016, yang waktu itu juga awal peluncuran kelas multikultural.

Launching kelas multikultural itu kan 2016. Natal 2016 tuh karena kondisinya kita yakin udah pasti ada konflik di awal-awal (kalau menyelenggarakan Natalan di Pangandaran), jadi siswa-siswi kita bawa Natalan di Yogyakarta. Nah itu pulangnya dari Yogyakarta, ada isu kristenisasi dan kita dituduh misionaris yang menjalankan agenda itu di sekolah,” beber Athif.

Sekolah sempat diancam untuk ditutup karena memiliki siswa-siswi kristiani. Mereka dituduh melakukan kristenisasi. Masalah itu pun sampai ke bupati yang meredakan masalah tersebut. Bupati memediasi pengelola sekolah dengan masyarakat untuk mengklarifikasi tuduhan-tuduhan yang keliru.

Pertemuan itu berbuah kesepakatan, SMK Bakti Karya hanya boleh menerima maksimal 10 siswa-siswi dari satu agama di tahun ajaran selanjutnya. “Okelah kita terima sebagai jalan tengah. Nah, ternyata di tahun depannya jumlah siswa-siswi baru yang non-muslim ada 12. Ya kita dipanggil lagi sama Pak Bupati,” Athif tergelak.

“Bupati nanya, “Ini kenapa jadi 12? Katanya kemarin sepakat 10?”

“Ya kita jawab, “Lah, ini 10 kan Katolik. Ini yang hadir 2 lagi itu Protestan, Kan beda agama, Pak,” kisah Athif sembari tertawa lepas.

Tantangan-tantangan berat itu tak lantas membuat semangat para pengelola SMK Bakti Karya Parigi surut. Mereka percaya semua konflik itu dapat diselesaikan dengan dialog. Dan, bagi mereka, dialog hanya dapat tercipta jika masyarakat mau bertemu dan mau mengenal orang yang berbeda.

“Dengan ketemu orang lain itu banyak hal terkonfirmasi. Banyak hal yang tadinya hanya sekadar asumsi bisa jadi lebih jelas ketika kita ngobrol sebagai teman.” jelas Athif.

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama Katolikana dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.