60 Tahun Kevikepan Surakarta, Gelar Wilujengan Sebelum Perayaan Ekaristi dan Konser Teatrikal Kawula Satuhu

0 18

Surakarta, Katolikana.com – Perayaan Syukur 60 Tahun Kevikepan Surakarta dalam konteks budaya tidak meninggalkan tradisi yang ada, diyakini dan masih dilakukan di masyarakat. Tradisi tersebut adalah wilujengan.

Wilujengan merupakan tradisi doa bersama atau selamatan dalam budaya Jawa yang bertujuan memohon keselamatan, kelancaran, serta wujud syukur kepada Tuhan atas perjalanan iman umat Kevikepan Surakarta dalam rentang waktu 60 tahun.

Wilujengan sering disebut juga dengan istilah slametan dimakdukan agar gelaran acara perayaan iman Misa dan perayaan syukur pementasan seni budaya dapat berjalan dengan “wilujeng” selamat, luput dari marabahaya.

Wilujengan dalam rangka perayaan 60 tahun Kevikepan Surakarta dilakukan Selasa (6/10/2026) di Pamedan Pura Mangkunegaran. Hadir dalam acara Vikep Kevikepan Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr., Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF., Penasehat Panitia Bonifasius Cahyo Tri Nugroho, Ketua Panitia Yustinus Gabriel Rosanto Adi, panitia dan pengisi acara Konser Teatrikal Kawula Satuhu.

Wilujengan yang dimaknai sebagai rangkaian acara yang penting sekaligus memperkuat rasa kebersamaan, kerukunan, serta gotong royong di antara panitia, pengisi acara sekaligus bagi seluruh umat di Kevikepan Surakarta.

Tumpeng “Tumenga ing Pangeran” atau Menengadah, mengarah pada Tuhan dimaknai sebagai lambang kesetiaan iman.

Simbol  wilujengan
Simbol wilujengan menggunakan sajian simbolis yang memiliki makna filosofis mendalam diantaranya tumpeng yang melambangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan serta sesama manusia.

Secara filosofis, tumpeng yang mengerucut di tengah menyimbolkan Tuhan atau pusat kehidupan.

Sayuran dan lauk di sekeliling nasi tumpeng melambangkan isi alam semesta, keseimbangan ekosistem kehidupan, serta hubungan harmonis manusia dengan alam.

Apem dan kolak melambangkan permohonan maaf, pertobatan, dan pengingat kepada Sang Pencipta.

Ingkung atau ayam utuh yang dimasak bumbu kuning dengan posisi terikat, menyimbolkan ketundukan kepada Sang Pencipta dan pengendalian hawa nafsu.

Jajan pasar, dalam berbagai makanan tradisional yang melambangkan kerukunan dan hubungan baik antar manusia.

Kolak dan apem merupakan lambang permohonan maaf, pertobatan, dan pengingat kepada Sang Pencipta.

Prosesi wilujengan diawali dengan penyampaian tujuan wilujengan oleh ketua panitia, kemudian dilanjutkan doa dan santap bersama.

Usai wilujengan dilanjutkan dengan gladi bersih sebagai rangkaian mempersiapkan perayaan syukur 60 Tahun Kevikepan Surakarta. Satuhu gladhen, satuhu ngaturaken wohing panglimbang mrih saged unjuk syukur ing Ngrarsaning Pangeran. (Setia dan tekun berlatih sampai akhir persiapan Konser Teatrikal Kawula Satuhu, setia dan tekun mempersembahkan buah permenungan agar pantas sebagai  pujian syukur pada Tuhan).  (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.