Dua Tahun Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus Ajak Umat Bangun Gereja yang Mendengarkan

Labuan Bajo, Katolikana.com – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengajak umat membangun Gereja yang dekat dengan umat, mendengarkan mereka yang terluka, menguatkan yang lemah, serta merawat alam. Ajakan tersebut disampaikan dalam surat pastoral menyambut dua tahun perjalanan Keuskupan Labuan Bajo.

Surat pastoral berjudul Melangkah dalam Pengharapan itu ditandatangani di Labuan Bajo pada Jumat (30/10/2026). Surat tersebut ditujukan kepada para imam, biarawan, biarawati, seluruh umat beriman, dan mereka yang berkehendak baik.

“Dalam semangat dua tahun Keuskupan ini, marilah kita terus membangun Gereja yang dekat dengan umat, mendengarkan mereka yang terluka, menguatkan mereka yang lemah, merawat alam, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari,” tulis Mgr. Maksimus.

Ia mengakui bahwa dua tahun perjalanan keuskupan tidak selalu mudah. Ada sukacita yang patut disyukuri, tetapi juga air mata yang tidak selalu terlihat dan perjuangan yang tidak dimengerti semua orang.

“Kita telah melangkah. Tidak selalu mudah. Tidak selalu cepat. Namun, kita tetap berjalan,” tulisnya.

Memohon Maaf

Dalam surat tersebut, Mgr. Maksimus memohon maaf atas pelayanan pastoral yang belum menjangkau seluruh umat, termasuk perkataan dan tindakan para pelayan pastoral yang melukai sesama.

“Saya memohon maaf apabila pelayanan pastoral kami belum menjangkau semua orang, termasuk mereka yang terluka akibat kata-kata dan tindakan kami serta para pelayan pastoral kami,” tulisnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan, kerja sama, masukan, dan dedikasi dalam pelayanan pastoral. Rasa syukur disampaikannya atas setiap perjumpaan di Komunitas Basis Gerejawi (KBG), stasi, paroki, dan komunitas.

Menurut Mgr. Maksimus, masih banyak karya yang menanti keterlibatan umat, baik dalam keluarga, komunitas, maupun keuskupan. Ia mengajak umat tetap melangkah meskipun perjalanan bersama belum mencapai seluruh harapan.

“Kita mungkin belum sampai sejauh yang diharapkan, tetapi Kristus selalu berjalan bersama kita,” tulisnya.

Solidaritas bagi Umat

Mgr. Maksimus secara khusus menyampaikan doa dan solidaritas kepada warga yang terdampak gempa bumi pada 15 Agustus 2026. Ia juga menyapa keluarga-keluarga yang sedang berjuang menghadapi berbagai keadaan dan tantangan.

Kepada para petani, nelayan, pekerja, dan mereka yang mencari nafkah dengan penuh kesabaran, ia memberikan peneguhan bahwa Tuhan melihat setiap tetes keringat mereka.

Orang muda diajak tidak takut menghadapi masa depan. Sementara itu, mereka yang sakit, berduka, kecewa, atau merasa sendirian diingatkan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Kepada para imam dan kaum religius, Mgr. Maksimus berpesan agar tetap setia menjalankan tugas pelayanan.

“Pelayanan yang dilakukan dengan cinta tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan,” tulisnya.

Merawat Pengharapan

Mgr. Maksimus mengajak umat tidak terlalu cemas memikirkan panjangnya perjalanan yang masih harus ditempuh. Ia meminta umat melihat kembali bagaimana Tuhan telah menuntun kehidupan mereka.

“Hidup bukan perlombaan. Berjalanlah seturut kemampuanmu,” pesannya.

Menurutnya, kehadiran Tuhan dapat dialami melalui hal-hal sederhana, seperti doa dalam keluarga, senyum seorang anak, uluran tangan kepada sesama, dan kesetiaan dalam pekerjaan.

Ia juga mengingatkan umat agar tidak kehilangan harapan ketika suatu rencana membutuhkan waktu lebih lama daripada yang dibayangkan. Umat diajak terus belajar dan berusaha tanpa membebani diri dengan tuntutan untuk selalu sempurna.

“Lakukan yang terbaik, dengan segala keterbatasanmu, bersama Tuhan,” tulisnya.

Mengutip Matius 6:34, Mgr. Maksimus mengingatkan umat agar tidak dikuasai kekhawatiran tentang hari esok. Ia mengakui adanya doa yang seolah belum terjawab serta rencana yang tidak berjalan sesuai harapan.

“Kesulitan adalah bagian dari perjalanan, bukan akhir dari harapan,” tulisnya.

Menutup surat pastoralnya, Mgr. Maksimus mengajak umat terus berkarya dengan bersandar pada Kristus sebagai sumber pengharapan.

“Di tengah situasi kehidupan yang mungkin tidak menentu, teruslah melangkah. Jangan menyerah. Tuhan belum selesai berkarya dalam diri kita.” (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.