Ketika Pelayan Prodiakon Terluka: Tetap Setia dalam Panggilan

Pertemuan Prodiakon Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

0 67

Surakarta, Katolikana.com – Prodiakon adalah umat awam Katolik yang diangkat oleh Uskup untuk membantu imam dalam pelayanan liturgi dan mendukung tugas imam di paroki.
Tugas utama membagikan komuni saat Misa atau kepada orang sakit dan lansia serta memimpin ibadat sabda tertentu.

Pertanyaan mendalam yang menjadi permenungan ketika pelayan prodiakon terluka, bagaimana membangun sikap tetap setia dalam tugas panggilan sebagai prodiakon?

Para prodiakon Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta berfoto bersama Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF dalam Temu Prodiakon, Selasa (22/9/2026)

Menguraikan, mendampingi, memberikan pemaparan, meneguhkan tugas perutusan prodiakon, pada Selasa (22/9/2026), Pukul 19.00 – 21.00 WIB di Ruang Berthier, Kepala Paroki Santo Paulus Kleco Romo Fransiscus Anggras Prijatno, dalam Pertemuan Prodiakon Paroki Kleco Surakarta memberikan pencerahan melalui tema “Ketika Pelayan Terluka: Tetap Setia dalam Panggilan” dengan mengajak para pridiakon merenungkan kutipan sabda 2 Korintus 12:9 “Sebab kasih karunia-Ku cukup bagimu, karena dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”.

Suasana sukacita dan reflektif mewarnai Temu Prodiakon Paroki Kleco Surakarta

Refleksi kontekstual
Pertemuan prodiakon yang dihadiri tidak kurang dari 80 orang prodiakon tidak sekadar pertemuan rutin, namun lebih dari itu mengajak prodiakon mendalami, merenungkan dan mensharingkan pengalaman iman tentang pengalaman yang (mungkin) saat ini menggoyahkan kesetiaan dalam melayani di Paroki Santo Paulus Kleco. Selain itu juga menyadari bagaimana sejauh ini sebagai prodiakon mengalami rahmat Tuhan yang “cukup” saat berada di titik terendah dalam pelayanan.

Mengalami, merenungkan, meneladani Rasul Paulus

Refleksi teologis
Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF mengajak para prodiakon merefleksikan kutipan sabda dalam refleksi dengan mengajak peserta merenungkan dan menghayati 2 Korintus 12:9 “Sebab kasih karunia-Ku cukup bagimu, karena dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”.

Reposisi batin
Proses menata ulang sikap rohani dalam menghadapi luka-luka disampaikan oleh Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF dengan tiga poin kunci:

  • Luka bukan penghalang Kuasa Allah. Tuhan tidak menunggu kita sempurna. Justru di tengah kelemahan kasih-Nya nyata
  • Ketergantungan total pada Rahmat (Grace). Pelayanan bukan kekuatan kita, melainkan semata-mata karena kasih karunia-Nya.
  • Mengubah persepsi atas kelemahan. Saat kita merasa terluka atau lemah, Kristus mengambil alih peran utama.
Pengalaman praktis Re-Centering Menata Ulang Motivasi Pelayanan

Membangun paguyuban yang solid
Selain mengajak peserta melakukan refleksi teologis dan reposisi batin nara sumber juga memberikan refleksi pengalaman praktis yang secara terus menerus perlu di upayakan, dengan kerendahan hati untuk menyembuhkan luka dan membangun paguyuban komunitas prodiakon yang solid.

“Memberi adalah komunikasi terbaik”, kata Romo Anggras setelah mengajak peserta merefleksikan pengalaman dengan menyaksikan video singkat tentang seorang anak yang mengalami luka batin, dan menyembuhkan luka batinnya dengan mengingat kebaikan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya, 30 tahun lalu. (*)

Memberi adalah komunikasi terbaik

Leave A Reply

Your email address will not be published.