Labuan Bajo, Katolikana.com — Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 menghasilkan perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar selama lima hari penyelenggaraan. Capaian tersebut mendorong Keuskupan Labuan Bajo untuk memperkuat pengelolaan festival sebagai perayaan iman dan budaya yang memberdayakan masyarakat serta memperhatikan lingkungan.
Analisis Tim Strategi Event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mencatat manfaat festival bagi perekonomian, keterlibatan masyarakat, dan kehidupan sosial-budaya. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi keuskupan sebagai penggagas dan penyelenggara festival.
Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, festival yang berakar pada iman dan kekayaan budaya lokal mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Kami bersyukur dan berbangga bahwa Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara semakin menunjukkan dampak nyata. Kehadirannya tidak hanya memperkaya kehidupan iman dan budaya masyarakat lokal, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian daerah dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional,” ungkapnya.
Mgr. Maksimus menegaskan komitmen keuskupan untuk terus menyelenggarakan festival secara profesional, dengan pengelolaan yang semakin baik dan manfaat yang semakin luas.
“Melalui festival ini, iman Katolik diungkapkan dalam dialog dengan budaya Manggarai, penghargaan terhadap tradisi lokal, penguatan persaudaraan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta tanggung jawab bersama untuk merawat lingkungan hidup,” tambahnya.
Memberdayakan Masyarakat Lokal
Laporan Tim Strategi Event Kementerian Pariwisata yang dipaparkan pada Senin (12/10/2026) mencatat sekitar 45.000 pengunjung selama lima hari penyelenggaraan. Sebanyak 89 persen merupakan penduduk lokal, sedangkan sisanya wisatawan nusantara dan mancanegara.
Selain menghasilkan perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar, festival mencatat perputaran ekonomi di Nusa Tenggara Timur sebesar Rp18,01 miliar. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp11,77 miliar, sementara kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT sebesar Rp9,04 miliar.

[Sisipkan infografis Dampak Ekonomi Festival Golo Koe 2026]
Masyarakat lokal juga terlibat langsung dalam penyelenggaraan. Festival melibatkan 375 tenaga kerja lokal dan 883 pelaku seni budaya. Sebanyak 173 unit gerai komersial atau tenant yang berpartisipasi seluruhnya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, menyebut hasil analisis tersebut sebagai dorongan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan.
“Kami bersyukur bahwa Festival Golo Koe tidak hanya menghidupkan iman dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian lokal. Hasil analisis ini menjadi kebanggaan sekaligus bahan evaluasi bagi kami untuk memperkuat profesionalitas penyelenggaraan, memperluas keterlibatan masyarakat, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Romo Ivan menegaskan komitmen panitia untuk mengembangkan festival sebagai agenda tahunan keuskupan yang semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Menghidupkan Budaya dan Persaudaraan
Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara dikembangkan sebagai ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan kehidupan masyarakat. Penghormatan kepada Bunda Maria Diangkat ke Surga berpadu dengan perayaan tradisi Manggarai dalam semangat persaudaraan dan keterbukaan.
Perjumpaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan liturgis, prosesi Arca Maria Assumpta Nusantara, pertunjukan seni budaya, serta keterlibatan komunitas dan pelaku usaha lokal.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, dimensi spiritual tetap menjadi inti festival. Seni dan tradisi menjadi sarana pengungkapan iman sekaligus pelestarian identitas budaya, sementara aktivitas ekonomi dan pariwisata membuka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Festival ini juga menghidupkan gagasan pariwisata sebagai ziarah perjumpaan: perjalanan yang memberi kesempatan untuk mengenal sesama, menghargai perbedaan, dan memperdalam penghormatan terhadap martabat manusia.

Memperkuat Kepedulian terhadap Lingkungan
Analisis dampak festival turut mencakup pengukuran emisi karbon dan upaya mitigasinya. Berdasarkan asesmen melalui kolaborasi Jejakin, Kementerian Pariwisata, BPOLBF, dan panitia, total emisi selama penyelenggaraan tercatat sebesar 26.536,70 kilogram setara karbon dioksida (kgCO₂e).
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, sebanyak 603 pohon telah ditanam selama rangkaian kegiatan festival. Asesmen memperkirakan penanaman tersebut menghasilkan stok karbon sebesar 58.926,65 kgCO₂e dalam periode perhitungan delapan tahun.
Angka itu lebih besar 32.389,95 kgCO₂e dibandingkan emisi festival. Namun, selisih tersebut merupakan hasil proyeksi dalam rentang delapan tahun, bukan penyerapan karbon yang seluruhnya telah terwujud saat festival berakhir.
Upaya ekologis ini perlu disertai pemeliharaan pohon dan perbaikan pengelolaan kegiatan, termasuk penanganan sampah, pengurangan material sekali pakai, serta peningkatan kesadaran lingkungan seluruh pihak yang terlibat.
Menjaga Keberlanjutan Festival
Penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 menghadapi tantangan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Festival berlangsung dengan sejumlah penyesuaian.
Keuskupan Labuan Bajo memandang hasil analisis dampak sebagai pijakan untuk memperbaiki penyelenggaraan dari tahun ke tahun. Prioritasnya mencakup profesionalitas pengelolaan, perluasan partisipasi masyarakat, pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, dan tanggung jawab lingkungan.
Festival Golo Koe akan tetap menjadi agenda tahunan keuskupan. Melalui kerja sama dengan pemerintah, komunitas budaya, pelaku usaha, dan masyarakat, keuskupan berharap perayaan iman ini terus memberikan manfaat bagi warga Labuan Bajo dan Flores, sekaligus mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. (*)

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.