Medan, Katolikana.com—Suasana aula Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura Medan terasa berbeda ketika civitas akademika berkumpul untuk merayakan Natal dan Tahun Baru.
Di antara jadwal kuliah, tugas, dan ritme hidup berasrama, perayaan ini memberi jeda: kesempatan untuk kembali mengingat bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengalaman iman tentang Allah yang hadir, menyertai, dan menyelamatkan manusia dalam keluarga serta komunitas hidup. Itulah warna yang mengalir dalam perayaan NATARU STP St. Bonaventura Medan, Selasa (20/1/2026).
Perayaan tahun ini mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Mat 1:21–25) dengan subtema “Keluarga STP St. Bonaventura Dipanggil untuk Hadir, Peduli, dan Melayani.”
Tema dan subtema itu bukan hanya jargon liturgis, melainkan dipertegas sebagai ajakan praktis: bagaimana keluarga kampus—dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa—menjadikan iman sebagai cara hidup sehari-hari.

Ekaristi sebagai pusat perjumpaan
Rangkaian NATARU diawali Perayaan Ekaristi di aula kampus. Misa dipimpin RP. Kornelius Anton Kefi, OFMConv, dengan konselebran RP. Antonius Son, OFMConv dan Tri Chandra Fajariyanto, OFMConv.
Sejak awal, nuansa yang muncul bukan “acara seremonial,” melainkan perjumpaan komunitas: para pengurus yayasan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa-mahasiswi duduk sebagai satu keluarga iman.
Ekaristi menjadi titik pusat karena di sana seluruh perbedaan peran dilebur dalam satu perjamuan syukur—syukur atas tahun yang telah dilalui, sekaligus permohonan kekuatan untuk melangkah di tahun yang baru.
Allah melihat hati, bukan penampilan
Bacaan pertama dari 1 Samuel 16:1–13 menghadirkan kisah pemilihan Daud: Allah tidak menilai seperti manusia menilai. Manusia melihat yang tampak, tetapi Tuhan memandang hati. Pesan ini terasa relevan dalam ruang pendidikan: kampus tidak hanya membentuk capaian akademik, melainkan membina kejujuran, ketekunan, serta kesiapan untuk dibentuk dalam proses.
Dari titik ini, perayaan NATARU membawa refleksi yang lebih tajam: perjalanan pendidikan—termasuk pendidikan calon guru agama dan katekis—bukan jalur instan. Ia menuntut karakter yang mau bertumbuh, bukan sekadar pencitraan “tampak baik.”
Hukum untuk manusia, bukan manusia untuk hukum
Injil Markus 2:23–28 menampilkan Yesus yang menegaskan bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia. Intinya jelas: iman tidak boleh kering dalam legalisme; kasih dan kemanusiaan harus menjadi pusat.
Dalam konteks kehidupan kampus, pesan ini berbunyi sederhana namun menohok: aturan diperlukan, tetapi tujuan akhirnya adalah membentuk manusia yang memanusiakan manusia.
Di titik inilah perayaan NATARU menyentuh realitas sehari-hari: relasi di kampus tidak selalu mulus. Ada perbedaan karakter, dinamika komunitas, kelelahan studi, juga benturan-benturan kecil.
Tetapi iman mengajar untuk tidak menjadikan ketegangan sebagai alasan saling menjauh; sebaliknya, ia menjadi ruang belajar untuk semakin matang.
Kampus sebagai keluarga yang berproses
Dalam homilinya, RP. Antonius Son, OFMConv menegaskan bahwa keluarga kampus STP St. Bonaventura bukan komunitas yang sempurna, tetapi komunitas yang berjalan bersama. Makna “keluarga” dibaca sebagai panggilan: bertahan, belajar, saling menopang, dan bertumbuh dalam proses—termasuk ketika relasi terasa melelahkan.
Bagi mahasiswa yang dipersiapkan menjadi pendidik iman, pengalaman hidup bersama semacam ini dipandang sebagai bagian dari “kurikulum” yang tidak tertulis: sebelum menjadi pendamping orang lain, seseorang perlu belajar mengelola diri, memahami orang lain, dan membangun kedewasaan rohani dalam perjumpaan harian.
Mewujudkan subtema: hadir, peduli, melayani
Subtema “Hadir, Peduli, dan Melayani” diterjemahkan dalam tindakan yang konkret. Hadir berarti mau mendengarkan dan menemani. Peduli berarti peka terhadap mereka yang sedang lelah, bergumul, atau tertinggal dalam proses. Melayani berarti siap terlibat, bekerja sama, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Di tengah tantangan zaman—tekanan akademik, manajemen waktu, sampai godaan jalan pintas yang ditawarkan teknologi—subtema ini juga menjadi semacam pengingat etis: pendidikan iman kehilangan martabatnya jika proses belajar kehilangan kejujuran, kedalaman, dan tanggung jawab personal.

Belajar harmoni dalam kebersamaan
Kehidupan kampus dianalogikan seperti sebuah kelompok musik: harmoni tidak tercipta jika setiap orang memainkan bagiannya sendiri tanpa mendengarkan yang lain. Dalam komunitas, ritme harus diselaraskan. Pesan ini terasa dekat dengan pengalaman mahasiswa: akademik menuntut disiplin, tetapi komunitas menuntut kerendahan hati.
STP St. Bonaventura, dengan demikian, tidak hanya menjadi ruang mempelajari teori iman. Ia menjadi ruang latihan untuk berjalan bersama, memahami perbedaan, dan menemukan perutusan dalam kebersamaan.
Sukacita, budaya, dan kepedulian nyata
Usai Misa, perayaan berlanjut dengan acara kebersamaan dan hiburan. Mahasiswa-mahasiswi menampilkan kreativitas seni; tarian Tor-tor Batak Toba menjadi salah satu momen penyambutan yang menguatkan nuansa budaya lokal dalam suasana syukur.
Dalam sambutannya, Ketua STP St. Bonaventura Medan Johannes Sohirimon Lumbanbatu menegaskan bahwa inti iman Katolik adalah keselamatan bagi semua orang. Ia juga menekankan pentingnya menghidupi tiga sikap—hadir, peduli, melayani—agar perayaan tidak berhenti sebagai acara, tetapi menuntun pada perubahan sikap hidup.
Rangkaian NATARU ditutup dengan tukar kado yang dikemas sebagai simbol kepedulian: setiap orang diajak menjadi “malaikat” bagi sesamanya—memperhatikan, mendoakan, dan hadir dalam hal-hal sederhana.
Dari sana, perayaan kembali ke inti Natal: kasih Allah yang nyata bukan karena kemegahan, melainkan karena kehadiran yang setia. (*)

Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM