Medan, Katolikana.com—Semangat sinodalitas umat tampak nyata ketika Kuasi Stasi Salib Suci Tanjung Anom merangkai syukuran Natal dan Tahun Baru 2026 dengan aksi penggalangan dana pembangunan gereja.
Perayaan yang diinisiasi Dewan Pastoral Stasi (DPS) bersama Panitia Pembangunan dan umat ini dilaksanakan dalam bentuk ibadat syukur, ramah tamah, hingga rangkaian acara kebersamaan, Minggu (18/1/2026), di aula Gereja Kuasi Stasi Salib Suci Tanjung Anom, Deli Serdang.
Syukuran Natal dan Tahun Baru kali ini tidak berhenti pada perayaan liturgis, tetapi diarahkan sebagai ruang persekutuan yang meneguhkan kerja bersama umat.
Penggalangan dana pembangunan gereja menjadi bagian integral dari perayaan: iman dirayakan, sekaligus diterjemahkan ke dalam solidaritas konkret untuk mewujudkan rumah ibadat yang layak bagi komunitas.
Perayaan diawali Misa Syukur yang dipimpin RP. Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC. Seusai Ekaristi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah, peluncuran konten media sosial penggalangan dana, lucky draw, hiburan, hingga lomba tari modern dance yang melibatkan perwakilan lingkungan.
Pesan homili: syukur atas tenaga dan harapan
Dalam homilinya, RP. Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC mengajak umat memaknai syukuran ini sebagai perayaan atas rahmat yang sederhana namun menentukan: energi, ketekunan, dan harapan untuk melanjutkan pembangunan gereja.
Ia menyinggung perjalanan satu tahun terakhir yang disebut penuh kerja keras, khususnya dalam upaya menargetkan pembangunan hingga lantai tiga. Menurutnya, proses itu membutuhkan keberanian, keyakinan, dan doa yang terus-menerus, sekaligus keterbukaan hati untuk digerakkan oleh Roh Kudus.
“Kita semakin yakin bahwa Allah menyertai dan memberkati kita. Roh Kudus menuntun kita untuk melaksanakan kehendak Allah di stasi ini. Tahun 2026 mari kita bersama-sama dengan penuh harapan dan keyakinan melanjutkan pembangunan gereja Stasi Salib Suci Tanjung Anom,” ujar RP. Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC.
Panitia: syukuran sebagai ruang persaudaraan umat
Ketua panitia perayaan, Budiman Hulu, menyampaikan terima kasih kepada panitia, para ketua lingkungan, serta seluruh umat yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan.
Ia menekankan bahwa acara ini terlaksana karena dukungan kolektif umat, termasuk kontribusi dari 12 lingkungan yang ada di Kuasi Stasi Tanjung Anom.
Syukuran ini, menurut panitia, dirancang bukan hanya sebagai selebrasi, tetapi sebagai ruang untuk memperkuat relasi, membangun kegembiraan bersama, dan meneguhkan persaudaraan di tengah proses pembangunan gereja yang masih berjalan.
Update pembangunan: progres dan kebutuhan
Ketua Panitia Pembangunan, Hamonangan Justinus Gultom, menyampaikan perkembangan pembangunan gereja yang disebut telah berlangsung sekitar satu tahun empat bulan. Ia menyebutkan proses dimulai sejak pemasangan pancang pondasi pada 14 September 2024.
Berdasarkan laporan yang disampaikan, biaya pembangunan yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp 2,9 miliar, sementara dana yang terkumpul berada di kisaran Rp 3 miliar.
Ia berharap dukungan umat terus mengalir agar pembangunan dapat dipercepat dan mencapai tahap yang memungkinkan perayaan-perayaan besar digelar di gedung yang baru.
“Kita tunjukkan rasa syukur kita dengan memberi sedikit dari kekurangan kita. Itulah harapan panitia pembangunan kepada umat yang turut berpartisipasi dan tergerak hatinya dalam membangun gereja stasi ini,” kata Hamonangan Justinus Gultom.
DPS: umat tidak berjalan sendiri
Ketua DPS Kuasi Stasi Tanjung Anom, Antonius Halawa, mengapresiasi kerja panitia pembangunan dan keterlibatan umat yang dinilainya konsisten. Ia mengimbau umat untuk tidak takut menghadapi tantangan pembangunan, sebab proses ini dijalani sebagai karya bersama yang ditopang iman.
Ia juga berharap kebersamaan yang sudah terbangun sejak awal tidak mengendur, sehingga pembangunan gereja dapat diselesaikan dengan semangat yang sama: saling meneguhkan, berbagi beban, dan menjaga persatuan.
DPP: dukungan penuh paroki
Ketua DPP Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Lamhot Sitorus, menilai progres pembangunan gereja kuasi stasi ini berjalan pesat. Ia menyampaikan dukungan penuh dari DPP dan mengajak umat terus berdoa agar target pembangunan—terutama penyelesaian hingga lantai tiga—dapat dicapai dalam tahun ini.
Menurutnya, antusiasme umat Kuasi Stasi Tanjung Anom dalam setiap kegiatan menjadi modal sosial dan rohani yang penting untuk menuntaskan pembangunan.
Strategi baru: penguatan media sosial dan “Gerakan 10 Ribu”
Dalam sambutan penutup, RP. Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC menyampaikan rencana pendekatan baru dalam penggalangan dana pembangunan gereja melalui kanal digital.
Ia menilai Kuasi Stasi Tanjung Anom belum banyak dikenal di luar wilayahnya, sehingga media sosial perlu dipakai untuk memperluas jejaring dukungan.
Ia memperkenalkan gerakan solidaritas “Gerakan Rp 10.000” (Gasibu) sebagai bentuk partisipasi sederhana namun berkelanjutan. Mekanisme gerakan ini didorong melalui akun media sosial yang dikelola untuk mendukung penggalangan dana secara lebih luas dan transparan.
“Cara ini tidak berat, yang penting kita mau bekerja sama. Setiap orang yang punya media sosial bisa ikut ambil bagian,” ujar RP. Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC.
Gerakan Rp 10.000 disebut sebagai ajakan solidaritas yang mudah diikuti, dengan tujuan membangun kebiasaan berbagi secara konsisten demi kelanjutan pembangunan gereja.
Puncak acara: lomba modern dance antarlingkungan
Sebagai puncak kegiatan, umat mengikuti lomba modern dance berpasangan yang diikuti 11 lingkungan. Tim juri—Sr. Eleonora Silalahi, KYM, Sr. Tabita Sinaga, KYM, dan Sr. Gregoria, KYM—mengumumkan para pemenang:
- Juara I: Lingkungan St. Louis Martin,
- Juara II: St. Arnoldus Jansen,
- Juara III: St. Lusia.
- Harapan I: Lingkungan St. Bernadette
- Harapan II: St. Benediktus
- Harapan III: St. Maximilianus Kolbe
Rangkaian syukuran ini menegaskan bahwa pembangunan gereja bukan sekadar proyek fisik, melainkan proses membangun persekutuan. Dalam semangat sinodalitas—berjalan bersama—Kuasi Stasi Salib Suci Tanjung Anom meneguhkan arah: iman yang dirayakan harus berbuah pada solidaritas yang nyata. (*)

Kontributor Katolikana, tinggal di Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Keuskupan Agung Medan.