Merawat Iman, Merayakan Budaya: Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Top Ten KEN 2026

0 36

Katolikana.com—Masuknya kembali Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara dalam Top Ten Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 bukan sekadar prestasi penyelenggaraan sebuah event.

Pengakuan ini adalah penegasan bahwa Indonesia memiliki kekuatan pariwisata yang bertumpu bukan hanya pada keindahan alam, tetapi juga pada kedalaman iman, kekayaan budaya, dan nilai kebersamaan sosial.

Dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Golo Koe hadir sebagai wajah lain pariwisata nasional. Sunyi namun bermakna, religius sekaligus inklusif.

Selama ini Labuan Bajo dikenal dunia karena pesona Komodo dan lanskap lautnya yang memukau. Namun Festival Golo Koe menunjukkan bahwa daya tarik sebuah daerah tidak berhenti pada panorama.

Di Bukit Golo Koe, iman Katolik diekspresikan secara terbuka, dialogis, dan membumi. Prosesi Maria Assumpta Nusantara, Ekaristi Agung, serta doa-doa yang menyatu dengan ruang publik menjadi penanda bahwa spiritualitas dapat hadir di tengah kehidupan sosial tanpa kehilangan kesakralannya.

Golo Koe, dalam konteks ini, bukan hanya lokasi geografis, melainkan ruang spiritual publik. Ia menjadi simbol bagaimana iman dirawat bukan secara tertutup, melainkan dirayakan dengan wajah yang ramah dan terbuka.

Di tengah masyarakat yang majemuk, festival ini menghadirkan pesan kuat bahwa ekspresi iman tidak harus menciptakan jarak, justru dapat menjadi jembatan perjumpaan.

Yang membuat Festival Golo Koe istimewa adalah caranya merangkul budaya lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan iman.

Tarian, musik, busana adat, dan simbol-simbol Manggarai tidak ditempatkan sebagai pelengkap seremonial semata, melainkan sebagai bahasa iman itu sendiri.

Budaya tidak dipentaskan  secara artifisial, tetapi dihidupi oleh masyarakatnya oleh sanggar seni, orang muda, komunitas adat, hingga sekolah-sekolah.

Di sinilah festival ini membedakan diri dari banyak event budaya lainnya. Ia tidak jatuh pada folklorisasi, di mana tradisi direduksi menjadi tontonan.

Sebaliknya, Golo Koe memberi ruang agar budaya tetap berakar pada nilai, sejarah, dan identitas kolektif masyarakat Manggarai. Iman dan budaya berjalan beriringan, saling meneguhkan, bukan saling meniadakan.

Masuknya Festival Golo Koe ke Top Ten KEN 2026 menjadi pengakuan nasional atas model festival yang bernilai KEN, sebagai program strategis pariwisata Indonesia, tidak hanya menilai kemeriahan acara, tetapi juga dampak, keunikan, dan keberlanjutan.

Dalam konteks ini, Golo Koe menawarkan contoh konkret bahwa event religi-budaya mampu memberi kontribusi nyata bagi citra pariwisata nasional yang berkarakter dan berakar. Pengakuan ini juga penting bagi NTT, wilayah yang kerap dipandang dari kacamata keterbatasan.

Golo Koe justru membalik narasi tersebut. Dari daerah pinggiran lahir praktik pariwisata berbasis nilai, toleransi, dan partisipasi masyarakat. Festival ini menguatkan posisi NTT bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai ruang pembelajaran sosial dan budaya bagi Indonesia.

Dampak sosial dan ekonomi festival ini pun patut dicatat. Keterlibatan UMKM lokal membuka ruang ekonomi yang lebih inklusif. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama.

Selain itu, perjumpaan lintas iman dan lintas budaya yang terjadi selama festival memperkuat kohesi sosial. Golo Koe menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat mempertemukan, bukan memisahkan.

Namun, pengakuan nasional juga membawa tantangan. Ketika sebuah festival semakin dikenal, risiko komersialisasi berlebihan tidak dapat dihindari.

Sakralitas iman perlu terus dijaga agar tidak tereduksi menjadi sekadar atraksi wisata. Demikian pula dengan lingkungan arus pengunjung yang meningkat harus diimbangi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Tantangan lain adalah regenerasi. Orang muda perlu terus dilibatkan bukan hanya sebagai pengisi acara, tetapi sebagai subjek utama pewaris nilai iman dan budaya. Tanpa keterlibatan generasi muda, festival berisiko menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan daya hidupnya.

Pada akhirnya, Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara bukan sekadar agenda pariwisata. Ia adalah gerakan kultural dan spiritual.  Merawat iman agar tetap hidup di tengah zaman, dan merayakan budaya agar tidak tercerabut dari akarnya. Masuknya Golo Koe ke Top Ten KEN 2026 adalah kebanggaan, tetapi sekaligus panggilan untuk terus bertumbuh dengan rendah hati.

Dari Bukit Golo Koe, Labuan Bajo mengirim pesan ke nusantara bahwa iman dan budaya, bila dirawat dengan bijak, dapat berjalan bersama memperkaya pariwisata, menguatkan identitas, dan merajut kemanusiaan Indonesia yang majemuk.

Merawat Iman, Merayakan Budaya, Memaknai Kebangsaan

Masuknya kembali Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara ke dalam daftar Top Ten Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 bukan sekadar urusan prestise.

Ini adalah cermin dari sebuah narasi yang lebih luas tentang bagaimana iman, budaya, dan pariwisata dapat berpadu untuk menghasilkan impact nyata bagi komunitas lokal, bagi pembangunan pariwisata di Indonesia, bahkan dalam wacana kebangsaan yang inklusif.

Pertama, posisi festival ini mengangkat persoalan makna iman yang kontekstual di ruang publik. Acara yang berakar dari tradisi Katolik ini tidak hanya mempertontonkan ritual religius sebagai tontonan spiritual semata, tetapi menjadikannya dialog terbuka antar masyarakat dan pengunjung.

Prosesi Patung Maria Assumpta yang diarak tidak hanya oleh umat Katolik, tetapi turut melibatkan masyarakat lintas agama dan komunitas lokal menjadi simbol bahwa spiritualitas tidak harus terasing dari ruang sosial yang plural.

Di sini, iman menjadi pengalaman bersama  bukan eksklusif, tetapi inklusif. Sangat menarik bahwa bentuk keterlibatan itu bukan sekadar simbolis termasuk peran nelayan muslim yang ikut serta dalam prosesi, pelibatan komunitas lintas agama dalam karnaval budaya, serta ruang partisipasi UMKM dari latar belakang yang beragam.

Kedua, festival ini menantang cara kita melihat budaya bukan sebagai artefak statis, tetapi sebagai praktek hidup yang terus bergerak dan dihuni oleh masyarakat.

Tari kolosal, karnaval budaya, pameran UMKM, dan panggung seni bukan hanya elemen dekoratif. Mereka adalah ruang di mana kultur lokal direproduksi secara aktif, melebur dengan dinamika masa kini, dan muncul sebagai bagian dari identitas kolektif yang percaya diri.

Dalam konteks ini, Golo Koe tidak hanya merayakan budaya Manggarai atau Flores, tetapi turut memberi kekayaan pada narasi budaya nasional bahwa Indonesia tidak hanya dilihat dari keragaman adat-istiadatnya, tetapi dari bagaimana tradisi itu berbicara kepada tantangan zaman termasuk dalam hal keberlanjutan, ekonomi kreatif, dan toleransi sosial.

Ketiga, kita tidak boleh mengabaikan dimensi ekonomi dan sosial dari festival semacam ini. Partisipasi ratusan UMKM lokal bukan hanya soal pameran produk, tetapi tentang keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan ekonomi berbasis budaya dan komunitas.

Festival Golo Koe 2024.

Ini menjadi jawaban atas kritik umum bahwa pariwisata sering kali menguntungkan pihak luar lebih banyak daripada masyarakat lokal.

Namun, di balik semua apresiasi itu, kita perlu bertanya lebih jauh apakah festival ini benar-benar memberi dampak yang merata dan berkelanjutan?

Bukankah ada risiko bahwa gelaran semarak semacam ini menjadi seasonal peak yang memberikan manfaat ekonomi sesaat tanpa struktur pemberdayaan jangka panjang?

Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab melalui data dan evaluasi kritis  bukan sekadar perayaan ulang tahun festival setiap tahun.

Keempat, dari perspektif kebangsaan, festival ini menjadi ruang yang unik untuk melihat bagaimana pluralitas Indonesia dipraktikkan di lapangan. Dalam sebuah era di mana wacana identitas sering kali dipolitisasi, Golo Koe menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar tuntutan normatif, tetapi realitas sosial yang dapat berjalan berdampingan dengan praktik keagamaan yang kuat.

Di saat banyak diskursus nasional terjebak dalam bipolarisasi, festival ini menunjukkan bahwa perjumpaan budaya dan iman dapat menjadi medium efektif untuk membangun narasi bersama.

Ini bukan sekadar selebrasi lokal, tetapi kontribusi pada cara Indonesia menceritakan dirinya sendiri sebagai bangsa besar yang mampu merayakan keragaman dengan keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan keterbukaan terhadap perbedaan.

Akhirnya, ketika festival ini kembali masuk daftar Top Ten KEN 2026, itu bukan hanya pengakuan atas kualitas penyelenggaraan atau daya tarik turisnya.

Pengakuan itu mestilah dibaca sebagai tanda penghargaan terhadap kekuatan nilai-nilai yang diusung festival ini spiritualitas yang inklusif, budaya yang hidup, komunitas yang bertumbuh, serta kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal.

Namun, apresiasi itu juga harus dibarengi dengan refleksi kritis berkelanjutan tentang bagaimana festival semacam ini dapat terus menguat tanpa kehilangan akar budaya, tanpa meninggalkan kelompok marginal, dan tanpa sekadar menjadi agenda tahunan yang rutin tanpa makna strategis.

Perjalanan Golo Koe sebagai event unggulan nasional adalah sebuah undangan untuk terus menguji apa sebenarnya yang kita rayakan ketika kita merayakan iman dan budaya?  bukan sekadar festivalnya, tetapi apa yang festival itu bangun dalam hidup masyarakatnya.

Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara: Tantangan atau Berkat bagi Keuskupan Labuan Bajo?

Kembalinya Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara ke dalam Top Ten Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 patut disambut dengan rasa syukur. Namun, bagi Keuskupan Labuan Bajo, pengakuan nasional ini tidak boleh berhenti pada euforia dan kebanggaan.

Ia justru mengajukan pertanyaan mendasar: apakah festival ini sungguh menjadi berkat pastoral, atau justru berubah menjadi tantangan serius bagi jati diri Gereja di tengah arus pariwisata dan popularitas?

Pertanyaan ini penting, sebab ketika sebuah perayaan iman masuk ke panggung nasional pariwisata, ia tak lagi hanya milik umat, tetapi juga menjadi konsumsi publik, industri, dan wacana nasional.

Dari sisi positif, Festival Golo Koe jelas merupakan berkat besar bagi Keuskupan Labuan Bajo. Di tengah dunia yang makin sekuler dan pragmatis, Gereja tidak bersembunyi di balik tembok sakristi, tetapi hadir di ruang publik dengan wajah yang ramah dan terbuka.

Prosesi Maria Assumpta, Ekaristi Agung, dan doa bersama di Bukit Golo Koe menjadi kesaksian bahwa iman Katolik masih hidup, bernapas, dan relevan dengan konteks zaman.

Lebih dari itu, Golo Koe menunjukkan wajah Gereja yang inkulturatif. Budaya Manggarai tidak dipinggirkan, melainkan diangkat sebagai medium pewartaan iman. Tarian, simbol adat, musik lokal, dan partisipasi masyarakat menjadi tanda bahwa Injil sungguh berakar di tanah Flores.

Dalam konteks ini, festival menjadi sarana evangelisasi kultural yang halus namun kuat—bukan lewat khotbah keras, melainkan lewat pengalaman bersama.

Pengakuan KEN 2026 juga memberi daya tawar moral bagi Keuskupan Labuan Bajo. Gereja tidak hanya dilihat sebagai institusi religius, tetapi sebagai mitra strategis dalam merawat harmoni sosial, toleransi, dan pembangunan manusia seutuhnya. Ini adalah berkat yang tidak kecil.

Namun, setiap berkat membawa konsekuensi. Tantangan terbesar festival ini justru lahir dari keberhasilannya sendiri. Ketika Festival Golo Koe semakin dikenal, risiko komodifikasi iman menjadi nyata. Spiritualitas bisa tergelincir menjadi sekadar atraksi; liturgi menjadi tontonan; devosi berubah menjadi agenda wisata.

Bagi Keuskupan Labuan Bajo, ini adalah ujian pastoral yang serius, bagaimana menjaga kesakralan iman di tengah tuntutan kemeriahan event, sponsor, jadwal pariwisata, dan ekspektasi publik? Gereja tidak boleh kehilangan kendali narasi, sehingga festival tidak dikendalikan sepenuhnya oleh logika pasar dan popularitas.

Ada pula tantangan internal yaitu keterlibatan umat. Jika festival hanya dikerjakan oleh segelintir panitia elit dan aparat, sementara umat menjadi penonton pasif, maka Golo Koe berisiko kehilangan roh gerejawi. Festival iman seharusnya memperkuat kehidupan menggereja, bukan sekadar menjadi proyek tahunan yang melelahkan.

Keuskupan Labuan Bajo kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, festival ini adalah kesempatan emas untuk menampilkan wajah Gereja yang dialogis, inklusif, dan kontekstual. Di sisi lain, ia menuntut kedewasaan pastoral agar Gereja tidak larut dalam euforia panggung nasional.

Tantangan lain adalah keberlanjutan. Apakah semangat iman yang dirayakan di Golo Koe sungguh berbuah dalam kehidupan umat sehari-hari? Ataukah ia hanya menjadi puncak emosional tahunan yang tidak diikuti pendalaman iman, pelayanan sosial, dan keberpihakan pada yang kecil?

Pada akhirnya, Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara adalah berkat sekaligus tantangan dan justru di situlah nilainya. Ia adalah berkat karena membuka ruang pewartaan yang luas; ia menjadi tantangan karena menuntut Gereja untuk terus waspada, rendah hati, dan setia pada inti panggilannya.

Bagi Keuskupan Labuan Bajo, masuknya Golo Koe ke Top Ten KEN 2026 bukanlah garis akhir, melainkan cermin refleksi: sejauh mana Gereja mampu menjaga keseimbangan antara iman dan budaya, antara liturgi dan pariwisata, antara popularitas dan kesetiaan Injil.

Jika dikelola dengan discernment yang jernih, Golo Koe tidak hanya akan menjadi festival unggulan nasional, tetapi juga tanda profetis: bahwa iman yang dirawat dengan benar tidak akan kehilangan kekuatannya, bahkan ketika berdiri di tengah sorotan dunia. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.