Komisi HAK KAM Gelar Ibadah Pekan Doa Sedunia 2026 untuk Persatuan Umat Kristiani

0 15

Medan, Katolikana.com—Ibadah Pekan Doa Sedunia (PDS) 2026 untuk Persatuan Umat Kristiani mempertemukan sekitar 800 jemaat Katolik dan umat Kristen Protestan lintas denominasi dalam satu perayaan ekumene, dengan penekanan pada doa dan komitmen merawat persaudaraan dalam Kristus, di Ruang Orchid lantai 8 Gedung Catholic Centre (CC) Medan, Jumat (23/1/2026).

PDS sendiri merupakan gerakan doa sedunia yang secara tradisional dirayakan pada 18–25 Januari, dengan akar sejarah yang ditelusuri pada prakarsa “Church Unity Octave” pada 1908 dan kemudian berkembang menjadi gerakan ekumene yang lebih luas.

Ibadah PDS 2026 di Medan mengangkat tema doa persatuan dari Yohanes 17:21: “Supaya mereka semua menjadi satu… supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Pesan pokoknya menegaskan bahwa kesatuan umat Kristiani bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan kesaksian iman—agar dunia melihat Injil bekerja melalui relasi yang rukun.

Perayaan dipimpin RD. Benno Ola Tage selaku Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Medan, didampingi para imam, suster, serta pelayan dari berbagai gereja. Sejumlah denominasi dan jejaring gerejawi turut hadir, antara lain unsur Keuskupan Agung Medan, Yayasan Sumatera Berdoa, PGI, PGPI, PGLII, Bala Keselamatan, serta GKAHK.

Kesatuan Dimulai dengan Meninggikan Kristus

Dalam khotbahnya, Pdt. Dr. Yafet R. Marbun menegaskan bahwa persaudaraan Kristiani bertumpu pada relasi iman yang sama kepada Yesus Kristus, bukan pada kebanggaan organisasi atau identitas denominasi.

“Kenapa kita bersaudara?” tanya Pdt. Yafet. “Kalau bersaudara, di situ ada Tuhan. Yang mempersatukan kita itu hubungan kita dengan Yesus, bukan organisasi atau denominasi.”

“Kita bersaudara karena kita punya tujuan dan sumber yang sama. Apa yang kita pelajari pun dari Yesus Kristus,” lanjut Pdt. Yafet. “Supaya kesatuan ini berjalan terus-menerus, pertama: tinggikan Yesus melebihi segalanya.”

Ia mengingatkan bahwa kesatuan perlu dipelihara secara konkret—melalui perjumpaan, doa bersama, dan persekutuan yang berkelanjutan—agar “nyala api kasih” tetap hidup.

Ia juga menyoroti godaan yang kerap muncul dalam kehidupan gerejawi: ketika identitas kelompok lebih ditonjolkan daripada Kristus sendiri.

“Kadang-kadang kita terlalu bangga meninggikan organisasi, denominasi, atau gereja kita,” kata Pdt. Yafet. “Kalau mau melihat mana yang terbaik, tinggikan Yesus. Dialah yang membuat kita menjadi satu di seluruh permukaan bumi ini. Bila Kristus ditinggikan, orang akan baik kepada Kristus dan kepada Allah.”

Panorama Sinode Diosesan VII KAM

Seusai ibadah, peserta mendapat pengantar tentang Panorama Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan yang dipaparkan RP. Serafin Dani Sanusi, OSC.

Ia menekankan sinode sebagai ziarah iman umat Allah: ruang mendengarkan, membedakan kehendak Allah, dan memperbarui arah pastoral bersama. Dalam kerangka itu, semangat sinodal tidak berhenti pada internal Gereja Katolik, tetapi juga membuka peluang dialog dan kerja sama lintas iman dalam ranah kemanusiaan.

Harapan Agar Persaudaraan Tidak Berhenti

Dalam sambutannya, Pdt. Dr. Robert Benedictus menyampaikan harapan agar perjumpaan lintas denominasi semacam ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi kebiasaan rohani yang membentuk budaya saling menghormati, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

“Saya berharap hubungan kebersamaan kita dari begitu banyak latar belakang yang berbeda tidak berhenti di bulan Januari 2026 ini dan berkat Tuhan akan turun atas kita yang duduk bersama dan bersatu dengan rukun,” ucap Pdt Robert.

Jejak Sejarah Pekan Doa Sedunia

PDS memiliki tradisi panjang. Salah satu tonggak awalnya adalah prakarsa “Church Unity Octave” pada 1908, yang kemudian mendorong kebiasaan doa persatuan di berbagai tempat.

Gereja Katolik baru bergabung pada tahun 1968 setelah Konsili Vatikan II dan sejak itu gereja Katolik di seluruh dunia mulai mencantumkan dari tanggal 18 – 25 Januari berdoa untuk persatuan umat Kristen sedunia.    

Dalam perkembangannya, materi Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani juga disusun dan digunakan secara lebih luas melalui kerja sama ekumenis; dokumen rujukan menyebut bahwa materi yang disiapkan bersama oleh unsur Faith and Order (WCC) dan lembaga Gereja Katolik mulai digunakan secara resmi pada 1968. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.