Surakarta, Katolikana.com – Tema “Turning Stories into Action” (Mengubah Cerita Menjadi Tindakan) merupakan tema Peringatan Hari Epilepsi Sedunia tahun 2026. Tema ini menekankan langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran, dukungan, dan inklusi bagi penyandang epilepsi.
Poin-poin penting terkait tema
“Turning Stories into Action” adalah fokus perhatian, untuk tidak hanya berbagi kisah, tetapi berkomitmen pada tindakan nyata, termasuk mengedukasi pertolongan pertama, mengurangi stigma, dan memastikan keamanan.
Peringatan yang dikenal dengan istilah “Purple Day” atau “Hari Ungu” merupakan gerakan internasional untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, memutus stigma negatif, dan menunjukkan dukungan bagi penderita epilepsi yang ditandai dengan mengenakan atribut ungu.
Tema ini juga mau mengajak menghentikan stigma bahwa epilepsi adalah aib, dan menekankan bahwa epilepsi dapat dikelola dengan pengobatan dan dukungan.
Penderita epilepsi
Penderita epilepsi adalah penderita yang mengalami gangguan neurologis, bukan penyakit menular atau gangguan jiwa, dan penderita tetap bisa hidup produktif dengan penanganan medis yang tepat.
Penderita epilepsi saat mengalami serangan sakit sering diilustrasikan mengalami kejang, tubuh menjadi kaku, kemudian diikuti sentakan otot yang tidak terkendali pada lengan dan kaki.
Selain itu, penderita mengalami tatapan kosong, kebingungan sementara, hingga gerakan repetitif seperti mengunyah dan seringkali disertai mulut berbusa.
Apabila dalam situasi tertentu, di tempat umum, ada penderita epilepsi terjatuh mendadak dan duduk termenung atau kebingungan setelah mengalami serangan maka bantuan yang bisa dilakukan dengan memberikan ruang aman dan tidak menahan gerakan penderita saat kejang.
Semua kelompok usia
Epilepsi dapat diderita oleh semua kelompok usia, tetapi biasanya dimulai saat masih anak-anak atau saat berusia lebih dari 60 tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko Epilepsi
Epilepsi disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Sebagian besar penyebab terjadinya epilepsi masih dalam penelitian, tetapi diduga terkait dengan sejumlah faktor berikut ini:
• Cedera kepala
• Malformasi arteri vena
• Meningitis
• HIV/AIDS
• Lumpuh otak (cerebral palsy)
• Sindrom Down
• Neurofibromatosis
Selain itu, ada kondisi atau penyakit yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami epilepsi, antara lain:
- Kelahiran prematur
- Kelainan otak saat lahir
- Lahir dalam kondisi kekurangan oksigen
(hipoksia) - Diabetes selama kehamilan
- Perdarahan otak
- Tumor otak
- Riwayat epilepsi dalam keluarga
- Stroke
- Penyakit Alzheimer
- Penyalahgunaaan NAPZA, seperti kokain
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Demensia
- Infeksi saat kehamilan sehingga janin mengalami kerusakan otak.
Gejala Epilepsi
Gejala utama epilepsi adalah kejang, namun bentuknya sangat beragam tergantung pada area otak yang terdampak. Kejang dapat berupa kejang total dan kejang parsial atau sebagian.
Berikut detail gejalanya:
Kejang Umum (Menyeluruh):
Tonik-Klonik: Tubuh mendadak kaku, jatuh, diikuti sentakan otot yang tidak terkendali pada lengan dan kaki. Sering kali disertai mulut berbusa atau lidah tergigit.
Absans (Petit Mal): Tampak seperti melamun atau tatapan kosong selama beberapa detik, biasanya tanpa jatuh.
Atonik: Kehilangan kekuatan otot secara mendadak yang menyebabkan penderita tiba-tiba terjatuh.
Kejang Parsial (Sebagian):
Sensorik: Merasakan sensasi aneh seperti kesemutan, mencium bau yang tidak ada, atau perubahan rasa pada lidah secara mendadak.
Otomatisme: Melakukan gerakan repetitif tanpa sadar, seperti mengunyah, mengecap bibir, menggosokkan tangan, atau berjalan berputar-putar dalam kondisi kebingungan.
Psikis: Perasaan takut, cemas, atau deja vu yang muncul tiba-tiba.
Stigma negatif penderita epilepsi.
Terhadap penderita epilepsi stigma yang sering dibubuhkan antara lain seperti anggapan penyakit menular, kutukan, atau gangguan jiwa, masih melekat kuat di masyarakat, menyebabkan diskriminasi, isolasi sosial, dan hambatan karir bagi Orang Dengan Epilepsi (ODE).
Hal ini memicu rasa malu, rendah diri, dan stres berat, bahkan membuat penderita menyembunyikan kondisinya.
Dukungan bagi penderita epilepsi
Dukungan meliputi :
Pertolongan pertama saat kejang.
Pertolongan pertama pada saat kejang
- Tetap tenang: Jangan panik.
- Amankan lokasi: Singkirkan benda tajam atau keras disekitar penderita.
- Lindungi kepala: Alas kepala dengan bantal, jaket, atau benda lunak.
- Posisi miring: Miringkan tubuh penderita ke satu sisi untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mencegah tersedak liur/muntah.
- Jangan mencoba menahan gerakan kejang.
- Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut penderita.
Temani hingga sadar: Tetaplah di samping penderita sampai mereka benar-benar pulih dan tawarkan bantuan untuk mengantar pulang jika diperlukan.
Manajemen pengobatan, dan dukungan emosional.
Komunitas, konseling, dan edukasi keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi stigma.
Materi tulisan ini telah ditinjau oleh dr. Clara Valencia Okkywulandari, Sp.N (Dokter Spesialis Syaraf) dari RS Brayat Minulya Surakarta.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta