Refleksi 32 Tahun Episkopal Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ: Menghadirkan Wajah Gereja yang Berbelas Kasih di Tengah Umat

0 138
Mgr Aloysius Sudarso Uskup Emiritus Keuskupan Agung Palembang merayakan ulang tahun ke – 32 Episkopal dengan memotong tumpeng Rabu,(25/3/2026) (Foto: Daris)

PALEMBANG, KATOLIKANA   – Keluarga besar Keuskupan Agung Palembang merayakan momen penuh syukur atas peringatan 32 tahun tahbisan episkopal (uskup) Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ. Acara yang berlangsung di Gedung Pastor Bonus, Kompleks Keuskupan Agung Palembang, Jalan Tasik, pada Rabu (25/3) ini dihadiri oleh jajaran Kuria, puluhan imam, biarawan-biarawati, serta perwakilan umat yang memenuhi ruangan dengan sukacita.

Rangkaian acara khidmat ini dibuka dengan ibadat syukur yang dipimpin oleh RD Gading Sianipar, dilanjutkan dengan ramah tamah yang merefleksikan perjalanan panjang sang gembala dalam memimpin Gereja Katolik di Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.

Tiga Fase Pelayanan: Dari Gembala Lokal hingga Misi Kemanusiaan Nasional

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, RD Yohanes Kristianto, dalam sambutannya menyoroti dedikasi luar biasa Mgr. Sudarso yang terbagi dalam tiga fase historis: sebagai Uskup Pembantu (Auxiliary), Uskup Utama yang meneruskan tongkat estafet Mgr. Joseph Soudant, dan kini sebagai Uskup Emeritus.

“Romo Kris,” sapaan akrab Vikjen yang merupakan imam pertama yang ditahbiskan oleh Mgr. Sudarso di Curup, menekankan bahwa status ‘Emeritus’ (pensiun) tidak menyurutkan langkah beliau. “Bagi Mgr. Sudarso, pelayanan tidak memiliki batas pensiun. Di usia 81 tahun, beliau justru memperluas cakrawala pelayanannya ke tingkat nasional melalui Karina (Caritas Indonesia). Beliau hadir di garis depan wilayah bencana, memastikan wajah Gereja yang inklusif menyentuh mereka yang terpinggirkan, difabel, dan kaum papa,” ujar RD Yohanes Kristianto.

Semangat ini pula yang menginspirasi terbentuknya Paroki Tanggap Bencana di seluruh wilayah Keuskupan Agung Palembang, sebagai perwujudan nyata ajaran sosial Gereja untuk selalu berpihak pada yang lemah.

Ungkapan syukur dengan memotong tumpeng ulang tahun ke – 32 Episkopal Mgr Aloysius Sudarso, SCJ

Sosok Perekat dan Visi Gereja Sumatera yang Satu

Apresiasi mendalam juga datang dari Uskup Agung Palembang saat ini, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Lewat sebait pantun yang hangat, beliau menggambarkan Mgr. Sudarso sebagai sosok yang sangat bugar dan bahagia di masa purnatugasnya.

Dalam refleksinya, Mgr. Yuwono menceritakan peran krusial Mgr. Sudarso sebagai “jembatan” antargenerasi di kalangan para Uskup se-Sumatera (Regio Sumatera). “Beliau adalah perekat antara kelompok Uskup Senior dan Uskup Muda. Di tengah dinamika rapat kerja, Mgr. Sudarso selalu mampu mencairkan suasana dengan humornya, sehingga tercipta soliditas. Visi beliau sangat jelas: Gereja di Sumatera harus tumbuh, berkembang, dan dikelola secara sinergis bersama-sama,” ungkap Mgr. Yuwono.

Kilas Balik Panggilan: Antara Kerendahan Hati dan Musik Klasik

Dalam sesi testimoni yang penuh haru sekaligus jenaka, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, membagikan kisah pergulatan batinnya saat pertama kali ditunjuk oleh Tahta Suci Vatikan. Beliau mengaku sempat merasa tidak pantas memikul tanggung jawab besar sebagai Uskup Palembang.

Satu cerita unik yang mengundang tawa hadirin adalah pengalaman retret pribadinya di Pantai Samas, Bantul, sebelum ditahbiskan. Niat hati ingin mencari Tuhan dalam keheningan, beliau justru digoda oleh cerita mistis penjaga penginapan tentang keberadaan penguasa laut selatan. “Hal itu membuat buyar pikiran saya, hingga akhirnya saya memutuskan pindah retret ke biara SVD di Puncak,” kenang beliau.

Mgr. Sudarso juga mengenang masa-masa awal mendampingi Mgr. Joseph Soudant (Uskup asal Belanda). Meski sering dianggap sebagai “orang Jawa kampung” yang hanya tahu gamelan, Mgr. Sudarso diam-diam mengejutkan para misionaris Eropa dengan kemampuannya bermain piano, gitar, hingga kegemarannya mendengarkan musik klasik Mozart dan Beethoven saat menempuh perjalanan jauh ke paroki-paroki terpencil.

Penuh syukur atas ulang tahun ke – 32 Epikospal Mgr Aloysius Sudarso

Filosofi Pelayanan: Kesederhanaan dan Keteguhan Iman

Peringatan 32 tahun ini juga menjadi pengingat akan nilai kesederhanaan para misionaris terdahulu. Mgr. Sudarso menceritakan bagaimana ia belajar hidup dengan uang saku yang sangat terbatas bersama Romo Petrus Maria Joseph Weusten,SCJ di mana integritas dan kejujuran di atas segalanya.

Beliau juga mengenang peristiwa unik saat penahbisannya pada 23 Maret 1994. Saat prosesi penumpangan tangan sebuah tradisi suci simbol turunnya Roh Kudus Uskup Padang kala itu, Mgr. Situmorang, menekan kepalanya dengan sangat keras. “Mungkin itu cara beliau memastikan agar iman saya sekeras batu karang sebelum terjun melayani umat,” seloroh Mgr. Sudarso.

Kini, di usia 81 tahun, Mgr. Aloysius Sudarso tetap berdiri tegak sebagai teladan kesetiaan bagi seluruh umat. Perjalanan 32 tahun episkopal ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Gereja bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal kehadiran dan keberpihakan kepada kemanusiaan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.