Paskah, Telur Lambang Kehidupan Baru dan Jalan Melalui Yesus, homili Misa Hari Raya Paskah I, Gereja Santo Paulus Paroki Kleco, Surakarta, Minggu (5/4/2026), Pukul 08.00 WIB.
Surakarta, Katolikana.com – Minggu Paskah, yang jatuh pada 5 April 2026, adalah puncak perayaan iman Kristiani memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, melambangkan kemenangan atas dosa dan maut. Perayaan ini mengakhiri rangkaian Pekan Suci (Minggu Palma hingga Sabtu Suci) dan masa Prapaskah selama 40 hari.
Umat merayakan dengan sukacita, perayaan Ekaristi dan tradisi kehidupan baru. Perayaan ini dirayakan dengan meriah melalui lagu pujian dan liturgi kebangkitan.
Panduan Misa dalam Tata Liturgi Paskah Paroki Kleco pada Hari Raya Paskah I, Minggu (5/4/2026), pukul 08.00 WIB, secara khusus mengajak dan mengundang keluarga untuk mengajak anak-anak merayakan Paskah. Perayaan Ekaristi dipimpin Kepala Paroki Santo Paulus Kleco Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF. Dalam perayaan paskah tradisi yang menyertai perayaan adanya telur paskah.
Telur Paskah melambangkan kehidupan baru dan kebangkitan.
Perayaan Paskah, Telur Lambang Kehidupan Baru dan Jalan Melalui Yesus menjadi pintu masuk katekese dalam homili yang diangkat Romo Fransicus Anggras Prijatno, MSF.

Dialog interaktif
Mengawali homili, Romo Anggras memperagakan diri, layaknya seperti tukang sulap yang bertanya pada anak-anak apa yang ada dalam genggamannya. Gerakan pertama, genggaman pertama “kosong” tidak menggenggam apa-apa. Gerakan yang kedua dalam genggaman terdapat sebutir telur.
Saat Romo Anggras menanyakan pada anak-anak yang duduk di beberapa barisan kursi gereja depan : “Apa makna telur paskah?” banyak anak yang mengangkat jari telunjuk dan berebutan ingin menjawab pertanyaan.
Seorang anak bisa menjawab secara tepat dan benar dan mendapat hadiah telur dari genggaman Romo Anggras yang menjawab “Telur lambang kelahiran baru”.
Dialog interaktif ini selain membuat suasana sukacita juga mengajak anak-anak “berpikir tipis-tipis” mengenali pengetahuan iman.

Yesus mengatasi kematian
Titik akhir manusia ada di kematian. Dengan kebangkitan Yesus, Yesus mengatasi kemanusian. Dengan kata lain Yesus adalah Allah.
Benar apa yang dikatakan Paulus, jika Yesus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita.
Sebagai manusia Yesus sama dengan manusia pada umumnya. Dengan kebangkitan Yesus, titik akhir tidak ada pada kematian tetapi kehidupan bersama dengan Allah.
Itulah titik akhir umat Allah yang beriman kepada Yesus. Tidak lagi di kematian, tetapi hidup bersama dengan Allah.
Cara yang “jitu” kembali pada Allah hanya lewat Yesus. Yesus telah mengatakan :”Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada orang yang bisa sampai pada Bapa jika tidak melalui Aku”. Kita harus ikut Yesus agar sampai pada Allah.
Yesus yang berasal dari Allah akan kembali pada Allah. Dengan kebangkitan, Yesus hendak mengatakan :”Akulah Allah”.
Dibenarkan oleh Allah
Semua yang dilakukan Yesus selama hidup dibenarkan oleh Allah.
“Maka jangan ragu, jangan bimbang, percayalah pada Yesus”, ajak Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF pada anak-anak dan umat yang hadir di gereja maupun yang mengikuti live streaming.
“Yesus akan membawa umatnya kembali kepada Allah karena Yesus berasal dari Allah,” lanjut Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF.
Jangan sia-siakan kebangkitan
“Sama seperti yang dikatakan Paulus jika Yesus tidak bangkit maka akan sia-sialah iman kita. Maka peliharalah Yesus, jangan sampai lepas dari hidup kita dan jangan sia-siakan kebangkitan-Nya. Karena dengan kebangkitan Allah yang mengutus-Nya membenarkan setiap perkataan dan tindakan yang selama ini dilakukan Yesus ketika Yesus berada di tengah-tengah kita”.
“Selamat Paskah. Semoga kita menemukan kehidupan yang baru setelah kita mengakhiri hidup di dunia ini untuk bersama dengan Yesus kembali bersatu dengan Allah”, kata Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF mengakhiri homili.

Menerima telur paskah
Usai Misa sekitar 800 anak menerima pembagian telur paskah. Sukacita tampak memancar dari wajah para anak-anak yang merayakan paskah.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta