Labuan Bajo, Katolikana.com – Suasana hening dan khidmat menyelimuti ratusan umat di Gereja Santo Petrus Sernaru Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo pada Sabtu (4/04/2026) malam, ketika dilaksanakan perayaan Misa Vigili Paskah, peristiwa besar dalam liturgi tahunan Gereja Katolik.
Misa malam Paskah itu dipimpin Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan didampingi oleh Romo Frans Nala, Sekjen Keuskupan Labuan Bajo.
Dalam Kotbahnya uskup Labuan Bajo menekankan tentang iman yang bangkit, bergerak dan bersaksi. Tema Paskah Keuskupan Labuan Bajo tahun 2026 yaitu “Kristus yang Sudah Bangkit Mendahului Kita ke Galilea.” Tema ini bukan hanya sebuah slogan rohani, tetapi inti dari Injil malam suci perayaan Paskah.
Kisah dimulai “setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar,” ucap Mgr. Maksi. Detail ini sangat penting. Dalam bahasa simbolik Injil, fajar menandai peralihan dari gelap menuju terang—dari dukacita menuju harapan—dari kematian menuju kehidupan. Dua Maria datang ke makam bukan dengan kemenangan tetapi dengan luka, air mata, dan kebingungan. Namun, justru di tempat kematian itu Allah membuka horizon baru.
Mgr. Maksi mengungkapkan bahwa, malaikat berkata, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.” Kata Yunani yang dipakai adalah ēgerthē yang artinya telah dibangkitkan. Bentuk pasif ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan tindakan manusia, melainkan karya Allah sendiri. Kebangkitan adalah inisiatif ilahi, tanda bahwa kasih Bapa lebih kuat daripada kubur.
Ada tiga isu kunci yang sangat kuat dalam Injil ini. Pertama adalah Dari makam menuju harapan dimana Paskah mengubah ruang luka. Makam dalam teks ini melambangkan semua pengalaman tertutup dalam hidup kita seperti kegagalan, kehilangan, konflik keluarga, kecemasan sosial, bahkan luka pastoral Gereja. Namun, justru di sana batu digulingkan.
Untuk apa batu digulingkan? Apakah agar Yesus bisa bangkit? Bukan, Yesus bisa bangkit begitu saja tanpa harus membuka pintu makan. Menarik bahwa batu tidak digulingkan untuk membiarkan Yesus keluar; Kristus yang bangkit tidak lagi dibatasi ruang. Batu digulingkan agar para murid melihat dan percaya. Ini adalah revelatory sign atau tanda pewahyuan. Allah membuka apa yang tertutup agar manusia berani membaca makna baru dalam sejarah hidupnya.
Bagi kita, makam itu bisa berupa rasa lelah dalam perjuangan hidup, tekanan ekonomi keluarga, atau ketegangan sosial yang kadang memecah relasi. Paskah menegaskan bahwa tidak ada batu yang terlalu berat bagi Allah.
Kata kunci yang kedua adalah bahwa Ia mendahului kamu ke Galilea dimana kebangkitan selalu berdaya mengutus. Inilah pusat tema kita malam ini. Galilea bukan sekadar lokasi geografis. Galilea menghadirkan makna simbolik kita. Galilea adalah tempat awal panggilan, ruang keseharian, wilayah hidup biasa: danau, perahu, keluarga, pekerjaan, jalan-jalan kampung.
Secara teologis, Galilea adalah ruang misi. Kristus yang bangkit tidak menunggu murid di makam, tetapi mendahului mereka ke tempat hidup nyata. Dengan kata lain, Tuhan sudah lebih dahulu hadir di pasar, di rumah tangga, di sekolah, di kantor, di ladang, di laut, dan di ruang pelayanan umat.
Istilah ini sangat kuat yaitu praevenient grace atau rahmat yang mendahului. Sebelum kita mencari Dia, Kristus sudah lebih dahulu hadir di “Galilea” kehidupan kita.
Kata kunci yang ketiga adalah dari ketakutan menjadi kesaksian. Ayat 8 mengatakan para perempuan itu pergi dengan takut dan sukacita besar. Ini sangat manusiawi. Kebangkitan tidak langsung menghapus rasa takut, tetapi mengubah takut menjadi keberanian.
Ketika Yesus sendiri menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu,” rasa takut berubah menjadi adorasi dan perutusan. Mereka memegang kaki-Nya tanda bahwa Kristus yang bangkit sungguh nyata, bukan ilusi. Lalu mereka diutus menjadi pewarta pertama.
Di sini kita belajar bahwa murid Paskah bukan orang yang tanpa luka, tetapi orang yang membiarkan dirinya dijumpai Kristus dan kemudian pergi bersaksi.
Mengakhiri homilinya Uskup Maksi menyampaikan bahwa pesan pastoral malam ini sederhana namun mendalam. Jangan tinggal di makam. Pergilah ke Galilea. Kembalilah ke keluarga dengan hati yang dipulihkan, ke lingkungan dengan semangat rekonsiliasi, ke masyarakat dengan wajah sukacita. Jadilah saksi bahwa Kristus hidup melalui cara kita mengampuni, melayani, dan menjaga persaudaraan.
Kristus yang bangkit sudah mendahului kita ke Galilea Labuan Bajo, ke rumah-rumah umat, ke pesisir, ke jalan pelayanan, dan ke masa depan Keuskupan kita. Tugas kita hanya satu yaitu berani pergi dan menjumpai Dia di sana.
Dengan lilin menyala di tangan, umat berdiri serempak, menghadirkan cahaya yang melambangkan iman yang tetap hidup di tengah kegelapan. Cahaya lilin itu menjadi simbol kehadiran Kristus sebagai terang yang menuntun umat dalam perjalanan iman. Pada momen pembaruan janji baptis, umat diajak menegaskan kembali komitmen untuk menolak dosa dan kuasa kegelapan, serta memperbaharui kesetiaan kepada Kristus.
Dalam suasana hening, umat menjawab pertanyaan liturgis yang dipimpin oleh Mgr. Maksi mengikrarkan kembali janji yang dahulu diterima dalam Sakramen Baptis.
Usai pembaruan janji, uskup memercikkan air suci kepada seluruh umat. Percikan air yang mengenai umat yang tetap berdiri dengan lilin menyala menjadi tanda pembaruan diri, sekaligus pengingat akan rahmat baptisan yang menyucikan dan menghidupkan.
Kemudian Romo Frans Nala menegaskan bahwa pembaruan janji baptis tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan panggilan untuk terus memperbarui hidup sebagai pengikut Kristus.
“Pembaruan janji baptis ini mengingatkan kita bahwa iman harus terus dihidupi. Kita dipanggil meninggalkan kegelapan dosa dan berjalan dalam terang Kristus setiap hari,” ujar Romo Frans.
Ia menambahkan, simbol lilin dan air suci memiliki makna mendalam dalam kehidupan umat beriman. Cahaya lilin melambangkan Kristus sebagai terang dunia, sedangkan air suci menjadi tanda penyucian sekaligus kehidupan baru dalam iman.
Perpaduan cahaya lilin dan percikan air suci menghadirkan suasana reflektif yang kuat. Perayaan malam itu tidak hanya menjadi rangkaian liturgi, tetapi juga pengalaman batin yang meneguhkan kembali identitas umat sebagai anak-anak terang. Momen bermakna memperbaruhi komitmen umat akan iman, kasih, dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Basilius Triharyanto

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.