Di Tengah Luka yang Tersembunyi, Uskup Labuan Bajo Hadir Membawa Kasih yang Menyembuhkan

0 33

Labuan Bajo, Katolikana.com — Di tengah luka-luka yang sering tersembunyi dari perhatian publik, Uskup Labuan Bajo menghadirkan kasih yang nyata melalui rangkaian kegiatan “Sehari Aksi KasihUskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus” dari kunjungan pastoral hingga pembaptisan di Rumah Aman pada Kamis (09/04/2026).

Kegiatan diawali dengan kunjungan penuh empati kepada Anak Nadila di Ngorang desa Ngorang Kecamatan Komodo dan Anak Okta di Sok Rutung Desa Golo Pongkor Kecamatan Komodo. Mereka adalah kaum difabel yang menjalani keseharian dalam keterbatasan, sebelum berlanjut pada perayaan sakramen pembaptisan bagi Anak Elisabeth Eleonora Michaela dan Anak Josef Mario Natalino Palma di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat.

Dalam kunjungan ini Uskup Labuan Bajo didampingi oleh Romo Richardus Manggu, Pr, (Vikjen), Romo Frans Nala, Pr (Sekjen),  Romo Yuvensius Rugi, Pr  Vikep Labuan Bajo sekaligus direktur Caritas, direktur Puspas Romo Charles Suwendi, dan Romo Silvianus Mongko, Pr. Hadir juga para pastor paroki.

Ini merupakan perwujudan komitmen Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus untuk mengunjungi kelompok rentan, difabel dan berkebutuhan khusus. Sejak menjadi uskup, setiap Natal dan Paskah, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus selalu menyempatkan diri mengunjungi orang-orang rentan, mendoakan mereka dan memberikan bingkisan Sembako, serta memberikan dukungan dan menguatkan keluarga-keluarga yang selalu bersama mereka.

Orang tua dari anak Nadila dan Okta menyampaikan ucapan terima kasih atas cinta, perhatian dan doa dari Bapa Uskup. Mereka merasakan kehadiran gereja yangg menyapa, merangkul, dan mendoakan orangg-orang sakit dan berkebutuhan khusus.

Demikian juga keluarga-keluarga mereka sungguh merasa terhormat atas kunjungan Bapa Uskup. “Kami sungguh merasa dekat dengan Gereja. Kami tidak ditinggalkan sendirian. Gereja mengambil bagian dalam penderitaan umat,” ujar seorang anggota keluarga.

Ketika Banyak Luka Disembunyikan dalam Diam, Kasih Justru Menemukan Jalannya

“Sehari Aksi Kasih” Mgr. Maksimus di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat. Foto: Vinsensius Patno

Hari ini, melalui “Sehari Aksi Kasih”, Uskup Labuan Bajo hadir menyapa Anak Nadila dan Anak Okta, kaum difabel yang kerap luput dari sorotan. Sebuah momen yang menghadirkan harapan baru di tengah keterbatasan.

Dalam kunjungan tersebut, Uskup tidak hanya hadir sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sebagai gembala yang mendekat dan mendengarkan. Ia menyapa Anak Nadila dan Anak Okta dengan penuh kehangatan, memberikan doa serta penguatan bagi mereka dan keluarga. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi sebagai kaum difabel, kehadiran Uskup Mgr. Maksimus Regus menjadi tanda nyata bahwa mereka tidak sendiri, bahwa kasih Tuhan tetap bekerja melalui perhatian yang sederhana namun tulus.

Suasana haru dan penuh keakraban terasa selama kunjungan berlangsung. Percakapan yang terjalin, senyum yang dibagikan, serta doa yang dipanjatkan menjadi kekuatan tersendiri bagi kedua anak tersebut. Momen ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada altar, melainkan bergerak keluar menjangkau mereka yang sering terpinggirkan.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat. Di tempat yang menjadi ruang perlindungan dan pemulihan ini, uskup memimpin perayaan sakramen pembaptisan bagi Anak Elisabeth Eleonora Michaela dan Anak Josef Mario Natalino Palma. Dalam suasana khidmat, air baptis dituangkan sebagai tanda kelahiran baru dalam iman, sekaligus simbol harapan akan masa depan yang lebih terang.

Bagi anak-anak yang dibaptis, momen ini bukan sekadar ritus keagamaan, melainkan awal dari perjalanan hidup yang disertai rahmat dan penyertaan Tuhan. Kehadiran para pendamping, keluarga, dan komunitas di Rumah Aman semakin mempertegas bahwa mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, melindungi, dan memulihkan.

Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat sendiri menjadi saksi bagaimana Gereja mengambil peran konkret dalam menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Di tempat ini, kasih tidak hanya diwartakan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Melalui “Sehari Aksi Kasih” ini, Uskup Labuan Bajo menegaskan bahwa pelayanan iman harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial. Dari kunjungan kepada kaum difabel hingga pembaptisan anak-anak di Rumah Aman, semuanya menjadi satu kesatuan dalam misi menghadirkan kasih yang menyembuhkan.

Pimpinan rumah perlindungan anak dan Perempuan SSpS Flores Barat Sr. Frederika Tanggu Hana,SSpS menyampaikan bahwa “hari ini, di tengah luka yang sering tersembunyi, harapan kembali dinyalakan bahwa setiap pribadi, betapapun rapuhnya, tetap berharga dan layak untuk dikasihi.

Melalui “Sehari Aksi Kasih” Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr, Maksimus Regus hari ini menegaskan bahwa pelayanan Gereja harus menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat baik spiritual maupun sosial. Dari kunjungan sederhana hingga sakramen suci, semuanya menjadi satu kesatuan dalam misi kasih yang tak terbatas.

“Hari ini menjadi pengingat bahwa kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata mampu menghadirkan harapan, terutama bagi mereka yang sering kali terlupakan,” ungkap Sr, Rita.

Kasih Seorang Gembala: Dari Kaum Difabel hingga Anak-anak yang Ditinggalkan

Mgr. Maksimus Regus berdoa dan mengunjungi anak-anak difabel pada “Sehari Aksi Kasih”, Kamis (9/4/2026). Foto: Vinsensius Patno

Romo Hermen Sanusi,  Pr Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo menjelaskan bahwa kasih seorang gembala sejati tidak mengenal batas. Ia tidak berhenti pada kata-kata atau seremonial belaka, tetapi menjelma menjadi kehadiran yang nyata, menyentuh, merangkul, dan memulihkan. Itulah yang tampak dalam diri Uskup Labuan Bajo Mgr, Maksimus Regus  ketika ia memilih untuk hadir di tengah kaum difabel dan anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya.

Dalam kunjungan kepada anak-anak, seperti Nadila dan Okta, yang hidup sebagai kaum difabel, dirasakan bahwa kasih itu terasa begitu dekat. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Yang ada hanyalah perjumpaan yang tulus seorang gembala yang melihat, mendengar, dan memahami. Di tengah keterbatasan fisik yang mereka alami, Uskup menghadirkan kekuatan batin bahwa mereka tetap berharga, tetap dicintai, dan tidak pernah dilupakan.

Kasih itu kemudian menemukan puncaknya dalam perayaan pembaptisan Anak Elisabeth Eleonora Michaela dan Anak Josef Mario Natalino Palma di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat. Anak-anak yang pernah mengalami penolakan, yang ditinggalkan oleh orang tuanya, kini diterima dalam pelukan Gereja. Air baptis yang dituangkan bukan sekadar simbol iman, tetapi juga tanda penerimaan bahwa mereka memiliki tempat, memiliki identitas, dan memiliki masa depan.

Di momen itulah, Gereja menunjukkan wajahnya yang paling manusiawi agar menjadi rumah bagi yang tidak memiliki rumah, menjadi keluarga bagi yang kehilangan keluarga. Pembaptisan bukan hanya peristiwa sakramental, tetapi juga pernyataan tegas bahwa tidak ada satu pun kehidupan yang sia-sia atau tak layak untuk dicintai.

Apa yang dilakukan Uskup Labuan Bajo hari ini adalah pengingat yang kuat bahwa menjadi gembala berarti berani masuk ke dalam luka umatnya. Menemani mereka yang rapuh, menguatkan yang lemah, dan memeluk mereka yang ditolak.

Di tengah dunia yang sering kali cepat menghakimi dan melupakan, kasih seperti inilah yang menjadi terang. Kasih yang tidak bertanya “mengapa”, tetapi memilih untuk hadir dan mencintai tanpa syarat.

Kasih yang Menyentuh Luka Sekaligus Menampar Nurani Kita

Apa yang dilakukan Uskup Labuan Bajo dalam “Sehari Aksi Kasih” bukan sekadar kisah menyentuh. Ia adalah cermin yang diam-diam menampar nurani kita semua.

Dalam “Sehari Aksi Kasih” Mgr. Maksimus melakukan pembabtisan anak-anak/Foto: Vinsensius Patno

Di satu sisi, kita menyaksikan kasih yang begitu konkret. Seorang gembala turun langsung mengunjungi anak Nadila dan anak Okta, kaum difabel yang kerap hidup di pinggir perhatian. Ia hadir, menyapa, mendengarkan, dan menguatkan. Tindakan sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya karena dunia kita sering kali terlalu sibuk untuk berhenti dan peduli.

Namun di sisi lain, pertanyaan yang lebih dalam tak bisa dihindari  mengapa mereka harus menunggu “aksi kasih” untuk merasakan kehadiran? Di mana kita masyarakat, komunitas ketika mereka menjalani hari-hari dalam keterbatasan?

Realitas kaum difabel di banyak tempat, termasuk di Flores Barat, masih jauh dari kata inklusif. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga ruang sosial yang ramah masih menjadi perjuangan. Mereka sering kali tidak hanya menghadapi keterbatasan fisik, tetapi juga stigma, pengabaian, bahkan ketidakpedulian.

Di titik ini, tindakan Uskup Labuan Bajo tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga kritik diam yang keras. Gereja hadir, merangkul, dan memulihkan. Tetapi seharusnya, tanggung jawab itu tidak berhenti di Gereja. Ia adalah panggilan bersama.

Kasih yang sejati tidak cukup dirayakan sebagai peristiwa sesaat. Ia harus menjadi sistem. Ia harus menjadi kebijakan. Ia harus menjadi budaya. Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus selalu memiliki komitmen untuk memperhatikan orang-orang kecil, sakit, difabel dan berkebutuhan khusus.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.