Ketika Imam Katolik Memimpin MTQ di Manggarai Barat, Maknanya Apa?

0 21

Labuan Bajo, Katolikana.com —Peristiwa unik sekaligus inspiratif terjadi di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Seorang imam Katolik dipercaya menjadi ketua Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), sebuah kegiatan keagamaan umat Islam yang sarat nilai spiritual dan identitas komunitas.

Imam Katolik di Labuan Bajo, Romo Richardus Manggu, Pr terpilih sebagai Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Richard adalah Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo. Dia juga menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Manggarai Barat.

Romo Richard terpilih dalam rapat pembentukan panitia MTQ XXXI tingkat Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo, Selasa (7/6/2026). Rapat pembentukan panitia itu dipimpin Kepala bagian Kesejahteraan Daerah (Kesra) Sekretariat Daerah Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Nambut.

“Sebagai ketua umum Romo Richar Manggu, Pr,” kata Fransiskus saat membacakan susunan panitia MTQ XXXI Tingkat Kabupaten Manggarai Barat.

Selain Romo Richard, sejumlah tokoh kristiani dan muslim menjadi panitia kegiatan tersebut. Rapat pembentukan panitia itu dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Agustinus Gias, perwakilan Kementerian Agama, MUI Manggarai Barat, ketua LPTQ Manggarai barat Syarif Malik, sejumlah perwakilan OPD , BAZNAS Manggarai Barat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Hadir pula perwakilan Polres Manggarai Barat perwakilan Kodim 1630/Manggarai Barat, dan perwakilan TNI Angkatan Laut. Adapun MTQ XXXI Tingkat Kabupaten Manggarai Barat dilaksanakan selama lima hari, 27 April-1 Mei 2026. “Pelaksanaan MTQ akan berlangsung di Masjid Nurul Falah Wae Mata Labuan Lajo,” kata Fransiskus.

Saat diikonfirmasi terpisah, Romo Richard menyambut baik penunjukan dirinya sebagai ketua panitia MTQ tersebut. Pilihan tokoh-tokoh muslim untuk menjadikannya sebagai ketua panitia memperlihatkan wajah Manggarai Barat yang terbuka dan toleran.

“Saya sangat menghargai penghargaan dari para tokoh muslim, dan sebagai Ketua FKUB Manggarai Barat saya berusaha memenuhi harapan kita semua: menegaskan komitmen Manggarai Barat yang terbuka dan toleran dan di sisi lain wajah keuskupan Labuan Bajo yang inklusif dan terbuka,” kata Romo Ricard.

Penunjukan ini menjadi sorotan karena menghadirkan praktik nyata toleransi lintas iman di tengah masyarakat yang majemuk. Dalam konteks umum, MTQ merupakan ajang religius yang tidak hanya berisi perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembinaan iman dan ekspresi keagamaan umat Islam.

Namun di Manggarai Barat, kepercayaan untuk memimpin kegiatan tersebut justru diberikan kepada tokoh dari luar komunitas Muslim. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keterbukaan dan kepercayaan sosial yang telah terbangun kuat di tengah masyarakat.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat menilai, keputusan tersebut bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan hasil dari relasi sosial yang telah lama terjalin. Kehidupan lintas agama di wilayah ini dikenal harmonis, dengan tradisi saling mendukung dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“Ini bukan sekadar simbol, tetapi wujud nyata kepercayaan dan kebersamaan,” ungkap salah satu tokoh masyarakat di Labuan Bajo.

MTQ sendiri memiliki posisi penting dalam kehidupan umat Islam, tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai keagamaan. Karena itu, keterlibatan pemimpin dari latar belakang berbeda menjadi pesan kuat tentang inklusivitas.

Pengamat sosial menilai, peristiwa ini dapat menjadi contoh praktik baik toleransi di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan keberagaman, Manggarai Barat justru menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dilandasi kepercayaan dan dialog.

Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar praktik seperti ini tidak berhenti pada level seremoni. Nilai toleransi yang ditampilkan diharapkan dapat terus hidup dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, pelayanan publik, dan relasi sosial sehari-hari.

Peristiwa ini juga dinilai memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Sekolah dan lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadikannya sebagai contoh konkret pembelajaran tentang kebhinekaan dan kepemimpinan inklusif.

Situasi rapat penentuan pimpinan MTQ, Manggarai Barat, yang menunjuk Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richardus Mangu Pr/Foto: Istimewa

Representasi Keterbukaan

Dengan peristiwa ini, Manggarai Barat tidak hanya dikenal sebagai destinasi pariwisata unggulan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menunjukkan harmoni sosial yang nyata.

Sebuah peristiwa yang pada pandangan pertama tampak tidak lazim justru menjadi cermin kedewasaan sosial yang patut direnungkan. Seorang imam Katolik dipercaya menjadi ketua Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Manggarai Barat. Dalam ruang yang secara identitas sangat lekat dengan tradisi Islam, kehadiran pemimpin dari latar iman berbeda menghadirkan pertanyaan mendasar apakah ini sekadar simbol toleransi, atau sebuah tanda bahwa kebhinekaan telah berakar dalam praktik hidup masyarakat?

Manggarai Barat, dengan Labuan Bajo sebagai wajah terdepannya, selama ini dikenal bukan hanya karena pesona alamnya, tetapi juga karena harmoni sosial yang relatif terjaga. Keragaman agama hidup dalam keseharian, tidak sekadar berdampingan, tetapi juga saling terlibat dalam berbagai dinamika sosial. Tradisi gotong royong, relasi kekeluargaan, dan kedekatan komunitas menjadi fondasi yang memungkinkan perjumpaan lintas iman berlangsung secara alami.

Dalam konteks itu, MTQ sebagai kegiatan religius umat Islam memiliki makna yang lebih dari sekadar perlombaan membaca Al-Qur’an. Ia adalah ruang ekspresi iman, identitas, dan kebanggaan komunitas. Karena itu, penunjukan seorang imam Katolik sebagai ketua bukanlah keputusan biasa. Ia menyentuh wilayah sensitif yang, jika tidak dilandasi kepercayaan mendalam, justru berpotensi menimbulkan resistensi. Namun, yang terjadi sebaliknya: kepercayaan diberikan, diterima, dan dijalankan.

Di sinilah letak makna simboliknya. Peristiwa ini menjadi representasi keterbukaan dan saling percaya antar umat beragama. Ia mengirimkan pesan kuat bahwa identitas iman tidak selalu menjadi batas, melainkan dapat menjadi jembatan. Dalam konteks yang lebih luas, ini adalah wajah Indonesia yang diidealkan—di mana perbedaan tidak dihapus, tetapi dirangkul dalam kerja bersama.

Namun, berhenti pada dimensi simbolik saja tidaklah cukup. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah peristiwa ini mencerminkan sesuatu yang lebih substantif? Indikasi awal menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari relasi sosial yang telah lama terbangun—relasi yang melampaui formalitas, masuk ke dalam ruang kepercayaan personal dan komunal. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan tidak lagi ditentukan semata oleh identitas agama, tetapi oleh integritas, kapasitas, dan penerimaan sosial.

Meski demikian, sikap kritis tetap diperlukan. Ada risiko bahwa peristiwa seperti ini direduksi menjadi sekadar simbol yang dipertontonkan, tanpa diikuti oleh praktik serupa dalam ruang-ruang lain. Toleransi bisa saja berhenti di panggung seremoni, tetapi tidak menjangkau persoalan nyata seperti ketimpangan sosial, akses pendidikan, atau dinamika kehidupan generasi muda. Pertanyaan reflektif perlu diajukan: apakah semangat lintas iman ini juga hadir dalam pengambilan keputusan publik, dalam pendidikan, dan dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah relevansi peristiwa ini bagi dunia pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah, khususnya pendidikan vokasi, memiliki peran strategis dalam menerjemahkan peristiwa sosial menjadi sumber pembelajaran kontekstual. Nilai toleransi tidak cukup diajarkan sebagai konsep, tetapi harus dihadirkan sebagai praktik nyata. Kepemimpinan lintas iman seperti ini dapat menjadi bahan refleksi bagi peserta didik tentang arti inklusivitas, dialog, dan kerja sama dalam keberagaman.

Peristiwa ini dapat menjadi inspirasi dalam membangun karakter generasi muda yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara sosial. Dunia kerja dan kehidupan masyarakat menuntut kemampuan berkolaborasi dengan berbagai latar belakang. Dalam konteks ini, toleransi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Peristiwa seorang imam Katolik memimpin MTQ di Manggarai Barat tidak boleh dilihat sebagai anomali semata. Ia adalah peluang-peluang untuk membaca ulang makna kebhinekaan, peluang untuk memperkuat praktik toleransi, dan peluang untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Labuan Bajo, dalam hal ini, tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pelajaran sosial yang berharga.

Kebhinekaan sejati tidak lahir dari slogan, melainkan dari kepercayaan yang dibangun dan dijalankan bersama. Dan ketika kepercayaan itu mampu melampaui sekat-sekat identitas, di situlah harmoni menemukan maknanya yang paling dalam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.