Surakarta, Katolikana.com –
Perayaan Ekaristi Syukur 60 Tahun Kevikepan Surakarta akan digelar Rabu (7/10/2026) Pukul 17.00 di Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran Surakarta. Perayaan Ekaristi akan dipimpin Mgr. Robertus Rubiyatmoko Uskup KAS dan Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr Vikep Kevikepan Surakarta.
Tema yang diangkat dalam Perayaan HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta adalah “Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah.”
“Rasa syukur di tengah kehidupan masyarakat Kota Surakarta, di tengah budaya tradisi Jawa. Harapannya umat bisa hadir menyatu bersama masyarakat, berpadu dalam budaya dan tradisi Jawa serta bisa menghadirkan berkat bagi masyarakat. Bersama masyarakat Surakarta, Gereja menghadirkan berkat bagi siapa saja”, ungkap Vikep Kevikepan Surakarta, Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr.
Mengapa Pura Mangkunegaran Surakarta yang dipilih sebagai tempat Perayaan Ekaristi dan ungkapan syukur? Ternyata ada alasan menarik dibalik pemilihan venue tersebut. Selain karena keindahan dan keagungannya, Mangkunegaran ternyata punya histori kenangan manis bersama Gereja Katolik di Indonesia.

Tempat bersejarah
Pura Mangkunegaran dipilih sebagai tempat perayaan syukur HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta karena memiliki ruang yang cukup luas, untuk menampung umat, namun memiliki suasana yang tidak seperti stadion.
Selain itu Pura Mangkunegaran memiliki sejarah keterbukaan terhadap Gereja Katolik. Hal ini ditunjukkan dengan pernah diselenggarakan Perayaan Ekaristi Natal Tahun 1957 yang dipimpin oleh Mgr. Sugiyapranata, Uskup Agung Semarang saat itu. Pada 1957, K.G.P.A.A. Mangkunegara VIII memberikan ijin pada umat Katolik di Kota Surakarta untuk menggunakan Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran sebagai tempat diadakannya Misa Malam Natal yang diikuti kurang lebih 2.400 jemaat.

Berbagai rangkaian acara
HUT Ke-60 tidak hanya menggelar Misa namun juga menggelar acara yang menarik diantaranya isian acara Caos Dhahar, Angklung Purbayan, Seloka Paroki Dhanan, Musik rangkas SD Marsudirini dan Modern Dance PIA PIR. Selain itu juga digelar Konser Teatrikal “Kawula Satuhu” dengan bintang tamu Marwoto Klawer dan Lisa A. Riyanto.
Acara ini digelar sebelum dan sesudah Misa berlangsung.
Rangkaian acara juga diwarnai Periksa Kesehatan Gratis (Kuota Terbatas), Donor Darah dan Pijat Bayar Suka-suka (Nakamura).
Rundown Acara
Rundown di Mini Stage dan Area Pendhapa
15.30 Open Gate & Registrasi
16.00 Musik Rangkas SD Marsudirini
16.10 Angklung Purbayan
16.20 Modern Dance Paroki Mojosongo
16.30 Seloka Paroki Danan
16.40 Persiapan Perayaan Ekaristi
19.00 Caos Dhahar
19.25 Opening
19.30 Sambutan
19.40 Konser Teatrikal “Kawula Satuhu”
21.10 Closing Ceremony

Perayaan Ekaristi HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta, Rabu (7/10/2026) pukul 17.00 WIB akan disiarkan secara Live Streaming Youtube : Komsos Kevikepan Surakarta.
Cerminan hubungan baik Gereja Katolik dan budaya Jawa
Perayaan HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta menjadi ungkapan syukur sekaligus kesempatan untuk menegaskan kehadiran Gereja Katolik dengan masyarakat serta budaya Jawa.
Melalui Perayaan Ekaristi di Pura Mangkunegaran, Gereja Katolik ingin menunjukkan bahwa iman dan budaya dapat berjalan bersama, dalam semangat saling menghargai, menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Jawa di Kota Surakarta.
Nyawiji
Memadukan sikap iman dan tindakan “nguri-uri” memelihara budaya luhur warisan “para luhur minulya” penyelenggara Perayaan Ekaristi Kevikepan menyampaikan komitmen menyatukan tata busana dengan tradisi budaya yang dijunjung tinggi dengan mengenakan beskap dan kebaya bagi umat yang menghadiri Misa. Sedangkan bagi rohaniwan atau rohaniwati mengenakan jubah / habitus.
Pura Mangkunegaran menetapkan ‘awisan ‘ larangan menggunakan kain motif parang dan lereng, serta tidak mengenakan pakaian dengan bahan beludru ketika berkunjung (berada) di Pura Mangkunegaran.
Hal ini merupakan perwujudan dari nilai kesopanan dan pelestarian budaya Jawa. Di sisi lain menghidupi semangat “nyawiji“. Berkaitan dengan ini umat Katolik yang akan mengikuti Perayaan Ekaristi HUT Ke-60 Tahun Kevikepan Surakarta dihimbau untuk tidak mengenakan kain bercorak (bermotif) parang dan lereng dan tidak mengenakan beskap / kebaya dari bahan beludru.
Martabat keutamaan
Jika direfleksikan dalam konteks budaya kedekatan filosofi agama dan busana merujuk pada ungkapan “Agama ageming aji”. Ini adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti agama adalah pakaian orang yang mulia atau pakaian yang berharga.
Ungkapan ini berasal dari Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV. Ungkapan ini meneguhkan sebagai identitas dan kehormatan. Seperti pakaian indah yang dikenakan oleh orang mulia, agama menjadi perhiasan diri yang mencerminkan kemuliaan akhlak, kehormatan, serta martabat seseorang.
Martabat yang memiliki keutamaan pada akhirnya, mewujud dalam keberpaduan penghayatan iman dan perilaku yang diyakini dengan hati dan diwujudkan dalam setiap perbuatan sehari-hari, layaknya pakaian yang melekat pada tubuh.
Andum berkah, berbagi berkat bagi orang lain merupakan keutamaan yang melekat yang harapannya menyertai perjalanan hidup beriman umat Kevikepan Surakarta. Hal ini juga selaras dengan sesanti “Memayu hayuning buwana”.
Sekilas Kevikepan Surakarta
Surakarta adalah wilayah administratif gerejawi di bawah Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang didirikan pada 7 Oktober 1966.
Latar belakang pembentukan sebagai pemekaran wilayah. Kevikepan Surakarta dibentuk oleh Kardinal Yustinus Darmojuwono bersamaan dengan Kevikepan Kedu dan DIY.
Dasar hukum pembentukan kevikepan seiring dengan terbitnya dokumen gerejawi motu proprio Ecclesiae Sanctae oleh Paus Paulus VI yang mengatur jabatan Vikaris Episkopal (Wakil Uskup atau Vikep).
Secara strategis tujuan pembentukan dilakukan karena wilayah Keuskupan Agung Semarang terlalu luas. Tujuannya agar pelayanan pastoral para imam (romo) kepada umat menjadi lebih dekat, efektif, serta lebih memahami kondisi sosial, pendidikan, dan kesehatan setempat.
Wilayah administratif Kevikepan Surakarta berpusat di Gereja Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan Surakarta.
Perkembangan dan Wilayah Pelayanan
Cakupan wilayah meliputi Kota Surakarta dan sekitarnya termasuk Kabupaten Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, dan Wonogiri.
Pembagian rayon untuk mengoptimalkan pelayanan, wilayah ini dibagi menjadi 5 rayon, yaitu Rayon Kota Surakarta, Rayon Harjoboi (Sukoharjo-Boyolali), Rayon Gen Anyar (Sragen-Karanganyar), Rayon Klaten, dan Rayon Wonogiri.
Statistik Umat
Saat ini menaungi sekitar 29 paroki dan stasi dengan puluhan ribu umat Katolik serta dilayani oleh puluhan imam paroki.
Kevikepan Surakarta saat ini dipimpin oleh Romo Vikep (Vikaris Episkopal) Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr.
Pembagian Rayon Kevikepan Surakarta (29 Paroki, 1 Stasi). Kota Surakarta (Dirjodipuran, Kleca, Mojosongo, Purbayan,
Purbowardayan, Purwosari). Sukoharjo-Boyolali (Boyolali, Kartasura, Simo, Solo Baru, Sukoharjo). Sragen Karanganyar (Gemolong, Jumapolo, Karanganyar, Palur, Sragen). Klaten Timur (Cawas, Delanggu, Jombor, Ketandan, Klaten, Stasi Senden). Klaten Barat (Bayat, Dalem, Gondangwinangun, Kebonarum, Wedi). Wonogiri ( Baturetno, Danan, Wonogiri).
Link Profil Kevikepan Surakarta dan jumlah umat Per April 2026.
Lembaga pendidikan Katolik: yang ada di Kevikepan Surakarta: Karya Bakti, Santo Yosef Maria Pignatelli Surakarta, Pangudi Luhur, Marsudirini, Tarakanita, Slamet Riyadi, Paroki Boyolali, Mardi Lestari, Winaya Bakti, Kanisius, Dharma Ibu dan DED.
Pendidikan calon suster : Novisiat Suster SDP di Purbowardayan, Postulat dan Novisiat Suster MASF di Gentan Paroki Kleco.
Rumah-rumah pembinaan rohani / retret: Panti Semedi Sangkal Putung Klaten, Rumah Retret Tawangmangu Karanganyar.
Rumah Sakit Katolik : RS Brayat Minulya yang dikelola oleh Suster OSF di Surakarta, Klinik Pratama Assisi dikelola oleh Suster OSF di Surakarta, RSU Mardi Lestari yang dikelola Suster SFS di Sragen.
Panti Sosial: Panti Sosial Wredha di Kadipiro, Panti Asuhan Karuna Putra oleh Bruder BM dan Panti Asuhan Karuna Putri oleh Suster MASF.
Pemakaman Katolik Pucangsawit Paroki Purbowardayan.
Wisma Mahasiswa sekarang lebih dikenal dengan sebutan Parmas (Pastoral Mahasiswa Surakarta).
Tempat-tempat Peziarahan – Devosional di Surakarta:
- Gua Maria Marganingsih, di Paroki Bayat
- Gua Maria Mawar Musuk , di Paroki Boyolali
- Gua Maria Sendang Sriningsih, di Paroki Dalem
- Gua Maria Sendang Ratu Kenya, di Paroki Danang
- Gua Maria Bunda Pemersatu Tengklik, di Paroki Jumapolo
- Gua Maria Sendang Pawitra Tawangmangu, di Paroki Karanganyar
- Gua Maria Regina Mojosongo, di Paroki Purbowardayan
- Taman Doa St. Perawan Maria di Fatima Ngrawoh, di Paroki Sragen
- Gua Maria Wahyu Ibu-Ku Giri Wening, di Paroki Wedi
- Gua Maria di Fatima Sendang Klayu Jlegong, di Paroki Wonogiri. (*) – Foto dan sumber tulisan : Komsos Kevikepan Surakarta

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta