Tantangan Pastoral di Era Digital
Meninjau Dampak Phubbing bagi Orang Muda Katolik

0 16
Martino Baptista Djata

Oleh Martino Baptista Djata

Katolikana.com—Teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Kehadirannya tidak lagi sekadar membantu meringankan pekerjaan, tetapi juga memungkinkan berbagai aktivitas dijalankan.

Perubahan ini dirasakan oleh semua kelompok usia, terutama orang muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Mereka menikmati berbagai manfaatnya sekaligus menghadapi persoalan yang menyertainya.

Salah satu persoalan tersebut muncul dalam penggunaan teknologi komunikasi. Di tengah kemudahan untuk terhubung dengan orang yang berjauhan, pengguna gawai justru dapat mengabaikan orang yang berada di hadapannya. Perilaku ini dikenal sebagai phubbing, gabungan kata phone dan snubbing, yakni mengabaikan lawan bicara karena perhatian tertuju pada ponsel.

Phubbing dapat merenggangkan relasi tatap muka dan mengurangi kualitas komunikasi antarpribadi. Dalam kehidupan menggereja, perilaku ini juga menjadi tantangan bagi pendampingan iman dan pelayanan pastoral. Orang muda dapat hadir secara fisik dalam keluarga, komunitas, atau kegiatan kerohanian, tetapi perhatiannya terserap oleh layar gawai.

Keadaan ini dapat dipahami sebagai krisis kehadiran: seseorang berada bersama orang lain tanpa sungguh-sungguh memberikan perhatian. Gereja perlu meresponsnya melalui pendekatan pastoral yang relevan agar orang muda mampu membangun relasi yang utuh dan bermakna di tengah kehidupan digital.

OMK sebagai Subjek yang Terpanggil

Sebagai bagian integral dari Gereja, Orang Muda Katolik (OMK) bukan sekadar penerima pendampingan pastoral. Mereka merupakan subjek aktif yang dipanggil untuk menjadi saksi Injil di tengah dunia. Orang muda mengambil bagian dalam kehidupan Gereja saat ini sekaligus memikul tanggung jawab atas keberlanjutan pelayanannya.

Dalam surat apostolik kepada kaum muda sedunia pada Tahun Pemuda Internasional 1985, Paus Yohanes Paulus II menempatkan orang muda sebagai pembawa harapan dan pemilik masa depan (Hardiwardaya, 1994: 183).

Pandangan tersebut menegaskan bahwa OMK memiliki peran penting dalam perjalanan Gereja dan masyarakat. Panggilan itu menuntut keterlibatan nyata dalam menghidupi nilai-nilai Injil. Orang muda perlu menyadari tanggung jawabnya sebagai bagian dari umat awam yang menghadirkan Gereja dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui panggilan kaum awam, Gereja menemukan bentuk kehadirannya di tengah dunia. Dalam kehidupan dan karya mereka, iman memperoleh wujud yang dapat dijumpai dalam masyarakat (Gitowiratmo, 1994: 151). Karena itu, cara OMK berkomunikasi, membangun hubungan, dan memperlakukan sesama merupakan bagian dari kesaksian iman mereka.

Phubbing sebagai Tantangan bagi Panggilan OMK

Panggilan untuk menjadi saksi Injil dan penggerak persekutuan berhadapan dengan kebiasaan mengabaikan sesama demi layar ponsel. Dalam konteks ini, phubbing berkaitan dengan kualitas kehadiran dan kesediaan memberikan perhatian kepada orang lain.

Dalam pembahasan mengenai homo digitalis, F. Budi Hardiman menggambarkan persoalan manusia yang menciptakan teknologi, tetapi kemudian dapat diatur dan dikendalikan olehnya (Deni, 2022: 8). Gagasan tersebut membantu kita melihat bagaimana penggunaan teknologi dapat membatasi kebebasan ketika seseorang kesulitan mengendalikan perhatian dan kebiasaannya sendiri.

Ketika perhatian terus tertuju pada gawai, keberadaan sesama di hadapan kita berisiko terabaikan. Tubuh hadir dalam perjumpaan, tetapi pikiran terserap oleh aktivitas digital.

Dalam kehidupan OMK, keadaan semacam ini dapat muncul saat pertemuan komunitas, diskusi kelompok, katekese, berbagi pengalaman iman, maupun kegiatan kebersamaan lainnya. Penggunaan gawai yang tidak berkaitan dengan kegiatan dapat mengalihkan perhatian dari pembicaraan dan mengurangi keterlibatan dalam kelompok.

Persoalannya terletak pada cara menggunakan teknologi dan kemampuan menentukan kapan perhatian perlu diberikan sepenuhnya kepada sesama.

Dampak terhadap Kehidupan Rohani dan Persekutuan

Perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus kecemasan bagi kehidupan spiritual umat dan keterlibatan mereka dalam Gereja (Subu, 2022: 174). Peluang tersebut tampak dalam kemudahan mengakses bahan pendalaman iman, menjalin komunikasi, dan memperluas pewartaan. Sementara itu, kecemasan muncul ketika penggunaan teknologi mengganggu perhatian dan kedalaman keterlibatan.

Dalam kehidupan rohani, kebiasaan mengalihkan perhatian kepada gawai dapat menghambat penghayatan liturgi, doa, dan kegiatan pastoral. OMK mungkin berada di tempat kegiatan, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti apa yang sedang berlangsung.

Spiritualitas memerlukan kesadaran, kedekatan dengan sesama, serta relasi yang mendalam dengan Tuhan. Semuanya membutuhkan perhatian dan keterlibatan diri (Tambunan dan Arifianto, 2026: 81). Karena itu, kebiasaan membagi perhatian secara terus-menerus perlu menjadi perhatian dalam pendampingan iman.

Phubbing juga dapat memengaruhi kualitas persekutuan dan relasi sosial. Ketika layar gawai lebih banyak mendapat perhatian daripada orang yang sedang berbicara, lawan bicara dapat merasa diabaikan atau tidak dihargai. Jika berlangsung berulang kali, kebiasaan tersebut berisiko mengurangi keterbukaan dan kedekatan dalam komunitas.

Kebersamaan OMK pun dapat kehilangan kedalamannya. Pertemuan tetap berlangsung, tetapi kesempatan untuk saling mendengarkan dan memahami tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Hal ini menjadi hambatan bagi panggilan OMK untuk menghadirkan kasih Kristus dan membangun persekutuan.

Edukasi Digital dan Spiritualitas Relasional

Untuk merespons phubbing, diperlukan pendampingan yang menghubungkan pemahaman tentang teknologi dengan pembiasaan hidup beriman. Dua pendekatan berikut dapat menjadi perhatian.

Pertama, memberikan edukasi digital kepada OMK. Edukasi merupakan langkah awal untuk membantu orang muda memahami manfaat, keterbatasan, dan konsekuensi penggunaan teknologi. Pendampingan perlu menumbuhkan kesadaran bahwa teknologi merupakan sarana yang dapat digunakan secara bertanggung jawab, termasuk untuk pewartaan Injil.

Melalui edukasi tersebut, OMK diharapkan semakin mampu mengenali kebiasaan penggunaan gawainya dan memahami pengaruhnya terhadap relasi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk mengatur perhatian serta menggunakan teknologi sesuai kebutuhan.

Kedua, mengembangkan pendekatan spiritualitas relasional. Pendekatan ini menekankan bahwa pertumbuhan iman berkaitan erat dengan cara manusia membangun hubungan. Kehidupan rohani Kristiani tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan sesama (Handoko, 2026: 212).

Melalui spiritualitas relasional, OMK diajak menyadari dirinya sebagai pribadi yang membutuhkan dan bertanggung jawab atas hubungan dengan orang lain. Kehadiran dalam komunitas perlu disertai kesediaan mendengarkan, memahami, dan memberikan perhatian.

Relasi melalui media digital tetap memiliki tempat dalam kehidupan orang muda. Namun, penggunaannya perlu berjalan bersama keterlibatan dalam perjumpaan langsung, sehingga komunikasi digital mendukung keberlangsungan hubungan dengan sesama.

Hadir Sepenuhnya bagi Sesama

Phubbing merupakan tantangan bagi kualitas persekutuan dan kehidupan rohani OMK. Ketika gawai terus menyerap perhatian, orang muda berisiko kehilangan kesempatan untuk mendengarkan, memahami, dan hadir bagi sesama. Kebiasaan ini perlu diperhatikan karena OMK dipanggil menjadi subjek aktif, penggerak komunitas, dan saksi kasih Kristus.

Gereja dapat meresponsnya melalui edukasi digital yang berimbang dan pendampingan spiritualitas relasional secara konsisten. Sebagai pribadi yang diciptakan menurut citra Allah (imago Dei), orang muda diajak menggunakan teknologi dengan kesadaran serta tanggung jawab terhadap sesama.

Kemampuan mengelola penggunaan gawai membantu OMK memberikan perhatian pada perjumpaan yang sedang dijalani. Dari kesediaan untuk hadir dan mendengarkan itulah persekutuan dapat bertumbuh, sehingga panggilan menjadi garam dan terang memperoleh wujudnya dalam kehidupan sehari-hari di era digital. (*)

Penulis: Martino Baptista Djata, Mahasiswa Semester 5 Prodi Ilmu Filsafat, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif, Ledalero

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.