Singapura, Katolikana.com — Sejarah Gereja Katolik di Singapura bertaut dengan Malaka, bandar tua di Semenanjung Malaya, sekitar 200 kilometer di sebelah barat lautnya. Di kota yang kini menjadi bagian dari Malaysia itu, komunitas Katolik telah berakar sejak abad ke-16, sekitar tiga abad sebelum Inggris membuka pos dagang di Singapura pada 1819.
Bagi pembaca Indonesia, hubungan ini juga terasa dekat. Malaka menjadi salah satu pangkalan perjalanan misionaris menuju Maluku. Dari bandar yang sama, jalur perdagangan dan pewartaan menghubungkan komunitas-komunitas yang kini berada di negara berbeda.
Datang bersama armada rempah
Pada 1511, pasukan Portugis pimpinan Afonso de Albuquerque merebut Malaka, salah satu simpul perdagangan rempah di Asia. Bersama armada itu datang pula para imam yang melayani kebutuhan rohani pasukan dan penduduk Katolik.
Kehidupan Gereja berkembang di bawah sistem padroado, yakni hak dan kewajiban perlindungan yang diberikan Takhta Suci kepada Mahkota Portugis, termasuk dalam pembiayaan misi dan pengusulan pejabat gerejawi. Karena itu, penyebaran iman pada masa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepentingan dagang dan kekuasaan kolonial.
Pada 1521, Duarte Coelho mendirikan kapel di puncak bukit Malaka sebagai ungkapan syukur setelah selamat dari badai. Kapel itu kemudian diserahkan kepada Serikat Yesus pada 1548 dan dikembangkan menjadi pusat kegiatan misi serta pendidikan. Reruntuhan gereja yang kini dikenal sebagai Gereja Santo Paulus atau St. Paul’s masih dapat dijumpai di bukit tersebut.
Pada 4 Februari 1558, Paus Paulus IV mendirikan Keuskupan Malaka sebagai keuskupan sufragan dalam provinsi gerejawi Goa. Kehadiran lembaga gerejawi ini memperkuat kedudukan Malaka dalam jaringan misi Katolik di Asia.
Kristang dan iman dalam keseharian
Salah satu komunitas yang memelihara warisan Katolik Malaka adalah keluarga-keluarga Eurasia keturunan Portugis dan Asia, yang dikenal sebagai Kristang. Dalam kehidupan mereka, iman, bahasa, dan identitas komunitas saling berkaitan.
Bahasa kreol yang mereka gunakan, Papia Kristang, berarti “tuturan Kristen”. Doa, perayaan keagamaan, dan kehidupan keluarga menjadi ruang pewarisan bahasa sekaligus iman. Ketika keluarga-keluarga Eurasia berpindah ke pelabuhan lain, tradisi itu ikut menyebar, termasuk ke Singapura.
Penggunaan Kristang kemudian menyusut seiring menguatnya bahasa-bahasa lain. Berbagai kegiatan pengajaran dan kebudayaan diupayakan untuk menjaga bahasa warisan tersebut tetap hidup.

Dari Malaka ke Maluku
Salah satu tokoh yang berulang kali singgah di Malaka adalah Santo Fransiskus Xaverius. Lahir di Navarra pada 1506, ia termasuk kelompok sahabat awal Santo Ignatius Loyola yang mendirikan Serikat Yesus. Ia berangkat dari Lisabon pada 1541 dan tiba di Goa pada tahun berikutnya.
Xaverius pertama kali datang ke Malaka pada 1545. Setelah beberapa bulan berkarya di sana, ia berlayar ke Maluku dan tiba di Ambon pada 14 Februari 1546. Sepanjang 1546–1547, ia melayani komunitas di Ambon, Ternate, dan wilayah Moro, termasuk Morotai.
Di Maluku, Xaverius mengunjungi komunitas Kristen yang sudah ada dan mengupayakan kelanjutan pelayanan mereka. Setelah kembali ke Malaka pada 1547, ia mengatur agar para imam Yesuit meneruskan karya tersebut.
Malaka kembali menjadi tempat persinggahannya sebelum berangkat ke Jepang pada 1549. Perjalanan misinya kemudian mengarah ke Tiongkok, tetapi ia wafat pada 3 Desember 1552 di Pulau Shangchuan, di lepas pantai Tiongkok.
Jenazahnya dibawa ke Malaka dan dimakamkan sementara di gereja yang kini dikenal sebagai St. Paul’s pada 1553, sebelum dipindahkan ke Goa. Xaverius dikanonisasi pada 1622 bersama Ignatius Loyola.
Bertahan di bawah pembatasan
Kekuasaan Portugis di Malaka berakhir pada Januari 1641 ketika VOC, dengan dukungan Johor, merebut kota itu setelah pengepungan panjang. Pemerintahan Belanda yang mendukung Gereja Reformasi membatasi kehidupan Katolik. Para imam diusir, sejumlah gereja dihancurkan, dan gereja di puncak bukit dialihkan untuk ibadat Protestan.
Di tengah pembatasan tersebut, umat awam, termasuk keluarga-keluarga Kristang, tetap memelihara doa dan devosi. Kehidupan iman diteruskan dalam keluarga meskipun pelayanan imam sangat terbatas.
Tekanan berangsur melonggar pada awal abad ke-18. Gereja Santo Petrus atau St. Peter’s, yang lazim disebut berdiri pada 1710, menjadi penanda pulihnya ruang ibadat Katolik. Gereja itu berdiri di atas tanah sumbangan Franz Amboer, seorang Belanda, dan dikenal sebagai gereja Katolik tertua di Malaysia yang masih digunakan.
Pada 1795, Inggris menduduki Malaka. Sementara itu, Serikat Misi Asing Paris atau MEP, yang berakar pada gerakan misi abad ke-17, telah mengembangkan karya di Asia melalui para vikaris apostolik yang diutus Takhta Suci. Jaringan ini kelak berperan dalam perkembangan Gereja di Singapura.
Warisan yang sampai ke Singapura
Ketika Stamford Raffles datang ke Singapura pada 1819, pelabuhan baru Inggris itu berada dalam kawasan yang telah memiliki sejarah Katolik selama tiga abad. Perpindahan keluarga-keluarga Eurasia dari Malaka ikut membawa tradisi iman tersebut ke Singapura.
Pada 11 Desember 1821, imam MEP Laurent Imbert singgah di Singapura. Ia menjumpai sekitar selusin umat Katolik yang menginginkan pelayanan imam tetap. Laporannya menjadi salah satu catatan awal terpenting tentang komunitas Katolik di pulau itu. Kunjungannya kemudian dikenang sebagai tonggak awal sejarah Gereja Katolik Singapura.
Imbert kelak menjadi uskup dan wafat sebagai martir di Korea pada 1839. Pesannya kepada rekan-rekan misionaris tentang gembala yang menyerahkan nyawa bagi domba-dombanya dikaitkan dengan pemilihan nama Gereja Gembala Baik di Singapura. Gereja itu diberkati pada 1847 dan menjadi katedral pada 1888.
Kehidupan Katolik di Singapura tumbuh melalui pertemuan berbagai jalur misi dan perpindahan umat. Warisan Malaka merupakan salah satu bagian penting dari proses tersebut.
Iman yang diteruskan umat
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan,” tulis Paulus (1Kor 3:6). Dalam kisah Malaka, pewarisan iman melibatkan para misionaris sekaligus umat awam yang merawat kehidupan rohani keluarga dan komunitasnya.
Dekret Konsili Vatikan II Ad Gentes menegaskan bahwa Gereja peziarah pada hakikatnya bersifat misioner (AG 2). Sejarah Malaka memberi bahan refleksi tentang panggilan itu, termasuk keterkaitan misi dengan kolonialisme dan ketahanan umat ketika perlindungan kekuasaan berakhir.
Bagi umat Katolik Indonesia, kisah ini membuka kesempatan untuk mengenali hubungan sejarah antarwilayah sekaligus menghargai peran keluarga dalam meneruskan iman. Reruntuhan gereja menyimpan jejak masa lalu; kehidupan komunitas menunjukkan bagaimana warisan itu terus dijalankan. (*)

Penulis berdomisili di Singapura. Kontributor lepas untuk sejumlah media Katolik, antara lain UCA News dan Radio Veritas Asia.