Mendengar Panggilan di Tengah Sukacita Orang Muda Toraja

0 29

Toraja Utara, Katolikana.com—Kursi-kursi di gedung Art Center Rantepao, Toraja Utara, terisi penuh. Orang muda dari berbagai paroki di Kevikepan Toraja, Keuskupan Agung Makassar, berhimpun bersama para pastor, suster, dan frater. Sekitar 800 orang menghadiri perjumpaan yang mempertemukan sukacita kaum muda dengan pertanyaan tentang arah hidup.

Di panggung, gerak dan lagu menjadi bahasa pembuka. Tim kepemudaan bersama para suster dan frater mengajak peserta mengikuti melodi serta gerakan yang akrab dengan dunia mereka. Pertanyaan tentang panggilan mendapat ruang di tengah suasana kebersamaan.

Perjumpaan dalam rangka Hari Minggu Doa Panggilan Sedunia, Minggu (26/4/2026) lalu, membawa ajakan yang melampaui sebuah perayaan: bagaimana seseorang mengenali panggilan Tuhan dalam kehidupannya?

Bagi orang muda, pertanyaan tersebut dapat hadir bersamaan dengan berbagai pilihan tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan masa depan. Mengenali panggilan berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan, memahami diri, dan mempertimbangkan kepada siapa hidup hendak dipersembahkan.

Bahasa yang Dekat dengan Orang Muda

Di bawah bimbingan RD. Hendrik Palimbo, tim kepemudaan Kevikepan Toraja bersama para suster dan frater membawakan animasi panggilan melalui gerak dan lagu. Bentuk penyajiannya dekat dengan dinamika kaum muda dan budaya media sosial sehingga mudah diikuti peserta.

Pilihan pendekatan ini memperlihatkan usaha Gereja untuk menjumpai kaum muda melalui bahasa yang mereka kenal. Musik, gerakan, dan kreativitas menjadi jalan masuk untuk membicarakan sesuatu yang mendalam: hubungan dengan Kristus dan kesediaan mengambil bagian dalam pelayanan.

Kehadiran para suster dan frater juga mendekatkan pembicaraan tentang hidup bakti kepada pengalaman perjumpaan. Mereka tampil bersama kaum muda, berbagi ruang dan kegiatan. Panggilan memperoleh wajah melalui orang-orang yang sedang menjalaninya.

Tema kegiatan, “One in Christ, United in Mission”, mengajak peserta melihat hubungan antara persatuan dengan Kristus dan keterlibatan dalam misi Gereja. Setiap orang mempunyai jalan hidup yang khas, sekaligus kesempatan untuk saling melengkapi.

Kreativitas kaum muda mendapat tempat dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mereka hadir sebagai peserta yang ikut menghidupkan perjumpaan, membawa cara berekspresi dan semangat kebersamaan mereka sendiri.

Mengenali Jalan untuk Melayani

Gerak dan lagu kemudian berlanjut pada Perayaan Ekaristi. Dalam homili, peserta diajak menempatkan kedekatan dengan Kristus sebagai dasar untuk memahami panggilan.

“Kita sekalian dipanggil untuk bersatu dengan Yesus dalam setiap karya dan misi Gereja,” demikian salah satu penegasan yang disampaikan.

Pesan itu mengarahkan perhatian pada hubungan yang perlu dirawat sebelum seseorang menentukan bentuk pengabdiannya. Panggilan tumbuh melalui kesediaan mengenal Kristus dan membawa kasih-Nya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian orang dapat menemukan jalan tersebut dalam imamat atau hidup bakti. Sebagian lainnya menjalaninya melalui kehidupan berkeluarga, pekerjaan, dan keterlibatan sebagai umat awam. Beragam jalan itu mempunyai ruang pengabdian masing-masing dalam Gereja dan masyarakat.

Karena itu, pembinaan panggilan perlu membantu orang muda memahami pilihan hidup secara jujur. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bertanya, mengenal berbagai bentuk pelayanan, dan mempertimbangkan keputusan dengan bebas serta bertanggung jawab.

Pertemuan dengan para imam, suster, dan frater dapat menjadi salah satu ruang untuk memulai pencarian tersebut. Pengalaman bersama membuka percakapan tentang kehidupan yang mungkin sebelumnya terasa jauh dari keseharian mereka.

Ruang bagi Sebuah Jawaban

Perjumpaan di Rantepao memperlihatkan pentingnya komunitas dalam mendampingi pencarian orang muda. Paroki, keluarga, dan para pendamping mempunyai peran untuk menyediakan ruang yang aman bagi pertanyaan tentang masa depan dan panggilan.

Tidak setiap pertanyaan harus segera memperoleh jawaban. Keputusan hidup membutuhkan waktu, pengenalan diri, doa, dan pendampingan. Sukacita dalam pertemuan bersama dapat menjadi awal, sementara proses mengenali panggilan diteruskan dalam keseharian.

Di situlah pengalaman di Art Center menemukan maknanya. Gerak dan lagu mengajak orang muda terlibat; perjumpaan mendekatkan mereka dengan kehidupan para pelayan Gereja; Ekaristi mengarahkan pencarian itu kepada Kristus.

Setelah meninggalkan gedung, pertanyaan tentang panggilan tetap mempunyai tempat: bagaimana menjalani hidup dengan setia dan menjadikannya berguna bagi sesama?

Jawabannya dapat tumbuh melalui langkah-langkah yang sederhana—kesediaan berdoa, membantu keluarga, terlibat dalam pelayanan paroki, atau mendampingi orang yang membutuhkan. Melalui pengalaman itulah orang muda belajar mengenali jalan pengabdiannya dan, pada waktunya, memberikan jawaban yang sungguh lahir dari hati. (*)

Kontributor: Fr. Louis Ernesto Sariang, calon imam Keuskupan Agung Makassar

Leave A Reply

Your email address will not be published.