Mengenang Romo Benny di Pesantren Bumi Cendekia
Merawat Kebinekaan dan Mengawal Demokrasi

0 46

Yogyakarta, Katolikana.com — Peringatan untuk mengenang Romo Benny Susetyo di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (18/10/2026), menjadi ajakan untuk meneruskan perjuangannya merawat kebinekaan, membela kemanusiaan, dan menjaga demokrasi.

Sekitar 200 peserta dari beragam latar belakang agama dan suku menghadiri acara yang dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza tersebut. Hadir memberikan refleksi dan kesaksian, antara lain, Mahfud MD, Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid, serta perwakilan keluarga, Andreas Eddy Susetyo.

Sebagai tuan rumah, Kiai M. Iqbal Ahnaf menyampaikan kebanggaannya dapat mempertemukan para penggerak toleransi. Ia menjelaskan bahwa Pesantren Bumi Cendekia membiasakan santri terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat pinggiran dan komunitas lintas iman.

Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya meneladani keterbukaan yang diajarkan Gus Dur, Kiai Imam Aziz, dan Romo Benny.

Persahabatan yang Melampaui Perbedaan

Alissa Wahid mengenang kedekatan Romo Benny dengan ayahnya, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurutnya, persahabatan keduanya tumbuh dalam perjuangan membela kelompok rentan.

Alissa menuturkan, interaksi awal Romo Benny dan Gus Dur berkaitan dengan penanganan kasus pembunuhan di Jember dan Banyuwangi. Sejumlah tokoh agama turut menjadi korban dalam kekerasan yang dikaitkan dengan tuduhan perdukunan dan santet tersebut.

Hubungan keduanya kemudian berkembang menjadi persahabatan yang bertahan hingga akhir hayat Gus Dur. Salah satu kenangan yang disampaikan Alissa adalah telepon ayahnya kepada Romo Benny menjelang Natal.

“Romo Benny itu salah satu yang ditelepon oleh Gus Dur satu minggu sebelum Gus Dur wafat. Rupanya Gus Dur itu telepon Romo Benny mengucapkan selamat Natal,” kenang Alissa.

Baginya, perhatian tersebut memperlihatkan kedekatan pribadi keduanya, yang juga dipertemukan oleh kepedulian terhadap kemanusiaan.

Yogyakarta dan Jejak Romo Mangun

Mewakili keluarga, Andreas Eddy Susetyo menjelaskan bahwa pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi peringatan berkaitan dengan perjalanan awal aktivisme adiknya.

“Kenapa Yogyakarta? Menjelang ditahbiskan dan pada saat penahbisan, Romo Benny itu sering kali ke Yogyakarta. Rupanya dia berinteraksi dengan Romo Mangunwijaya. Romo Mangun yang mengajari beliau menulis,” tuturnya.

Andreas menyatakan komitmen keluarga untuk mendukung kelanjutan perjuangan Romo Benny. Ia juga mengingat pesan adiknya mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda.

“Kita harus mulai gerakan dari yang muda-muda ini,” ujarnya, mengutip pesan Romo Benny.

Mengawal Demokrasi dan Hukum

Dalam sesi memorial lecture, Mahfud MD mengajak peserta melihat perjalanan Indonesia sejak kemerdekaan. Menurut mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu, penguatan ikatan kebangsaan merupakan hasil perjuangan panjang para tokoh bangsa.

Namun, ia mengingatkan adanya persoalan dalam praktik demokrasi dan penegakan hukum yang perlu terus dikawal masyarakat.

“Demokrasi kita itu bergeser dari demokrasi yang substantif menjadi elektoral otokrasi. Orang mengambil keputusan-keputusan secara sepihak karena merasa menang. Karena dia merasa sudah ikut pemilu dan menang, dia boleh berbuat apa saja,” kata Mahfud.

Ia juga menyoroti penggunaan hukum untuk membenarkan kehendak penguasa.

“Pasangan elektoral otokrasi itu adalah otokratik legalisme. Hukum dijadikan alat untuk membenarkan kehendak yang sepihak meskipun salah. Hukum yang ada, jika tidak sesuai selera, diubah saja,” tegasnya.

Mahfud mengajak masyarakat tetap mengambil peran dalam menyuarakan kebenaran dan mengawasi jalannya kekuasaan. Ia menekankan pentingnya menjaga optimisme terhadap Indonesia sekaligus memastikan kemajuan menuju 2045 berlangsung secara adil.

Rangkaian acara turut menghadirkan kesaksian Ajar Budi Kuncoro, MY Esti Wijayati, dan Ravik Karsidi. Peserta juga menyaksikan video testimoni dari Megawati Soekarnoputri, GKR Hemas, Siti Ruhaini Dzuhayatin, serta Garin Nugroho.

Melalui kenangan tentang persahabatan, keberanian bersuara, dan kepedulian kepada kelompok rentan, peringatan di Pesantren Bumi Cendekia menegaskan tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan Romo Benny dalam kehidupan bersama. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.