Paroki St. Yoseph Palembang Perkenalkan Spiritualitas “Keheningan” melalui Devosi Santo Yosef Tidur

0 23
Patung Santo Yoseph Tidur yang terletak di Gereja Santo Yoseph Palembang yang di berkati pada Kamis,(19/3/2026) oleh RD Emmanuel Belo Sede

PALEMBANG, KATOLIKANA    –   Di era yang mendewakan pengakuan publik dan eksistensi digital, Paroki Santo Yoseph Palembang mengambil langkah spiritual yang berani. Bertepatan dengan Hari Raya Santo Yosef,  Kamis, (19/3/2026) paroki ini meresmikan era baru dalam kehidupan menggereja yang disebut sebagai “Spiritualitas Orang Biasa”, sebuah gerakan iman yang mengedepankan ketulusan dalam bekerja dan kepasrahan dalam doa.

Puncak perayaan ditandai dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh RD. Emmanuel Belo Sede, sekaligus pemberkatan Patung Santo Yosef Tidur di Ruang Doa Paroki. Simbol ini merupakan bentuk adopsi visi Paus Fransiskus yang mengajarkan bahwa kekuatan terbesar manusia justru sering kali lahir saat manusia berserah diri secara total kepada Tuhan di tengah istirahatnya.

Umat paroki Santo Yoseph Palembang berfoto di depan patung St Yosef Tidur selesai pemberkatan pada Kamis, (19/3/2026)

Rangkaian Novena yang dimulai sejak 6 Maret 2026 menjadi bekal refleksi bagi umat. RD. Titus Jatra Kelana menegaskan bahwa sosok Yosef adalah teladan nyata bagi warga biasa dalam menghadapi “Herodes” modern mulai dari krisis ekonomi, ketidakadilan politik, hingga krisis iklim.

Santo Yosef tidak melawan krisis dengan kemarahan atau pedang, melainkan dengan tindakan taktis yang penuh iman. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa sistem yang tidak adil mungkin bisa mengalihkan rute hidup kita, namun tidak akan pernah bisa menggoyahkan tujuan akhir kita jika kita berpegang pada Tuhan,” ujar Romo Jatra.

Pastor Paroki Santo Yoseph, RD. Hyginus Gono Pratowo, dalam homilinya menyoroti tiga pilar utama spiritualitas ini yang sangat relevan dengan panggung dunia saat ini:

  1. Kepahlawanan Tanpa Suara: Meneladani Santo Yosef yang tidak memiliki satu kata pun dalam Kitab Suci, namun tindakannya menyelamatkan sejarah.
  2. Penghargaan pada Rutinitas: Menghormati peran ibu rumah tangga dan pekerja yang menjalankan tugas raksasa demi keluarga meski tanpa sorotan kamera.
  3. Harmoni Ekologis: Sebagai tukang kayu, Yosef mengajarkan etika kerja yang menghargai alam, bertolak belakang dengan keserakahan ekonomi modern yang merusak ekologi.

Kehadiran Patung Santo Yosef Tidur yang terinspirasi dari tradisi Filipina dan India menawarkan perspektif baru tentang produktivitas rohani. Romo Gono menjelaskan bahwa “tidur” di sini adalah aktivitas iman. Saat manusia menjauh sejenak dari kebisingan dunia, di sanalah suara Tuhan terdengar lebih jernih.

Ruang doa ini kini diaktifkan sebagai “laboratorium iman“, tempat umat dapat meletakkan segala beban hidup mereka di bawah perlindungan Santo Yosef, membiarkan Tuhan bekerja melalui suara hati untuk menunjukkan jalan keluar.

RD Emmanuel Belo Sede mewakili Keuskupan Agung Palembang saat memberkati patung St Yosef Tidur

Menutup rangkaian acara, RD. Emmanuel Belo Sede yang mewakili Keuskupan Agung Palembang, memberikan apresiasi kepada seluruh umat. Ia berharap momentum ini menjadi pijakan bagi umat untuk tetap teguh dan berdampak di tengah ketidakpastian global, dengan menjaga kesucian keluarga melalui tindakan nyata yang senyap namun kuat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.