My plan is always to be conected to Jesus. (Rencana saya adalah untuk selalu terhubung dengan Yesus)
Surakarta, Katolikana.com – Perayaan Ekaristi Kaum Muda bersamaan dengan Pengembalian Relikui Santo Carlo Acutis, bertepatan dengan Hari Minggu Paskah V diselenggarakan di Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta, pada Minggu (3/5/2026), pukul 17.00 WIB.
Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Fransciskus Anggras Prijatno, MSF., Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, SJ., dan Romo Antonius Gregorius A Lalu Pr., didukung paduan suara dari Lingkungan Santo Vincensius Sumber dan Petugas Tata Tertib dari Lingkungan Ambrosius Purbayan.

Mewariskan teladan kesucian modern
Santo Carlo Acutis (1991–2006) adalah santo milenial pertama Gereja Katolik yang dikanonisasi pada 7 September 2025.
Ia mewariskan teladan kesucian modern melalui penggunaan teknologi internet untuk evangelisasi serta kecintaan mendalam pada Ekaristi.
Legacy atau warisan yang ia tinggalkan, hidupnya menunjukkan bahwa kesucian dimungkinkan di zaman modern.
Kekudusan merupakan tindakan kebaikan sederhana sehari-hari yang dilakukan dengan iman yang besar.
Ia dikenal ramah, membantu teman yang kesulitan, dan membela yang lemah.
Ia rajin mengikuti Misa harian menginspirasi banyak orang untuk mendekatkan diri pada Sakramen Maha Kudus.

Pengantar Misa
Romo Steven A Lalu Pr, dalam kata pengantar menyampaikan bahwa kaum muda yang menjadi pemilik masa kini dan masa mendatang bersama umat mengikuti perayaan Ekaristi dan senantiasa memilih Tuhan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Jalan menuju surga.
“Dihadapan kita ada relikui Santo Carlo Acutis. Seorang anak muda yang sungguh-sungguh mengikuti jalan Yesus Kristus untuk menuju ke surga. Ia memilih jalan yang menginspirasi banyak orang dalam mencintai Ekaristi. Santo Carlo Acutis dijadikan tempat berdoa dan meniru teladannya”,kata Romo Steven A Lalu.

Kisah Carlo Acutis dalam homili
Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi membagikan kisah Carlo Acutis dalam homili.
Di dalam buku berjudul “Carlo Acutis 5 Jalan Otentik Menjadi Orang Kudus”, ada sebuah cerita yang sangat menarik.
Suatu hari, Carlo Acutis berjalan membawa anjingnya berkeliling di Asisi, Italia untuk mengisi liburan.
Saat jalan-jalan, ia menangkap sesuatu yang sering kali luput dari perhatian orang lain. Ia melihat seorang pengemis, tidur di tanah berhari-hari di taman umum.
Acutis tidak memalingkan wajahnya, tidak mempercepat langkahnya, dan tidak mencari alasan untuk menjauh.
Sejak saat itu ia mengingatkan pada neneknya, Luana, untuk menyiapkan makanan. Tidak hanya sekali, atau dua kali, namun berkali-kali. Dalam makanan yang disiapkan ia menyelipkan uang jajannya sebanyak satu Euro. Bungkusan itu ditinggalkan disamping pengemis, tanpa menunggunya bangun.
Acutis tidak menuntut ucapan terima kasih dari pengemis itu. Ia hanya ingin memastikan bahwa saat mata pengemis itu terbuka, ada tanda bahwa pengemis itu tidak sendirian.
Dari kesaksian hidup Acutis, Paus Fransiskus pernah berpesan pada orang muda untuk berani mengambil resiko dalam hidup. Lebih baik kita sakit dan berani keluar dari rumah kita masing-masing untuk melayani, untuk “mengotori tangan kita ini” untuk membantu yang miskin dan yang membutuhkan, daripada kita sakit, karena mengurung diri di kamar, di rumah, “mager” malas bergerak, dan sibuk dengan dirinya sendiri.
Sharing kesaksian pengalaman
“Selama hari Jumat hingga hari Minggu, di tengah kita ada relikui Santo Carlo Acutis. Maka saya mengundang kaum muda untuk bersaksi, membagikan pengalaman konkrit perjumpaan dengan relikui Carlo Acutis. Selama tiga hari belajar apa, apa ada mukjizat, atau ada pengalaman yang dialami?”, ajak Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi.

Davina, mahasiswi, pemandu Pameran Carlo Acutis
“Saya belajar, apapun yang menjadi niat kita, hal-hal baik yang diniatkan, akan mudah terlaksana apabila dibarengi dengan kegigihan dan keyakinan pada Yesus Kristus.
Saat pameran saya berpikir akan lelah, menggerutu melayani banyak orang, menghabiskan energi. Selama tiga jam memandu, kaki memang terasa sakit. Namun setelah dijalani sampai malam saya merasakan perubahan dalam diri saya. Saya semakin senang dan merasa berguna bagi banyak orang, dan berani berbicara di depan banyak orang.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa dengan tekun berjalan bersama Tuhan Yesus apa yang ditakutkan akan hilang dan niat baik akan terlaksana.
Berlin, mahasiswi bimbingan Romo Tino
Pengalaman mengikuti talkshow Mukjizat Ekaristi Santo Carlo Acutis, saya memiliki insight sebagai orang muda harus punya relasi yang baik dengan Tuhan Yesus. Bagaimanapun caranya.
Satu hal yang saya highlight dari pembelajaran Santo Carlo Acutis adalah: “Kita tidak perlu menjadi seperti Santo Carlo Acutis namun kita bisa meneladan cara berelasi dengan Allah. Kita tidak perlu membuat website atau berperilaku seperti Santo Carlo Acutis namun kita bisa melakukan hal-hal sesuai passion masing-masing”.
Ririn, “women behind the show” pameran dan ziarah relikui
Mukjizat apa yang terjadi selama tiga hari?
Pertama tentang perjumpaan, banyak orang datang ke gereja. Ada yang diam, ada yang banyak bicara dan sebagainya namun setelah masuk ke gereja yang ada Tubuh dan Darah Kristus dan Santo Carlo Acutis, meskipun hanya sehelai rambut, namun kehadirannya begitu terasa. Saat datang ke gereja ini semula lelah, namun pulang dengan membawa berkat melimpah.
Kedua perjumpaan dengan banyak orang menghadirkan pertolongan dan kegembiraan. Banyak orang yang datang, ketakutan sedikit yang datang ternyata tidak demikian. Saat talkshow pun banyak yang datang meskipun cuaca panas. Mendengarkan pemaparan dan berdiskusi dengan Bapak Hery, Romo Steven dan Romo Bagas meneguhkan bahwa orang muda berjalan tidak sendirian.
Santo Carlo Acutis merasakan apa yang dirasakan kaum muda dan memberikan keteduhan. Banyak orang muda di luar hiruk pikuk, setelah masuk ke gereja menjadi tenang dan mudah-mudahan sepulang dari sini membawa sesuatu.
Ketiga ada orang baik yang memberi suport dengan menyediakan konsumsi yang cukup bagi para OMK.
Peneguhan
Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, SJ tidak menyimpulkan sharing kesaksian dari kaum muda namun memberikan peneguhan bahwa refleksi iman Santo Caro Acutis selalu mengarahkan, mengkoneksikan relasi dengan Yesus. Santo Carlo Akutis mengatakan: “My plan is always to be conected to Jesus“.
Santo Caro Acutis selalu terhubung dengan :”Jalan, kebenaran dan hidup Yesus sendiri”.
Ucapan terima kasih
Penghujung akhir Misa disampaikan ucapan terima kasih dari Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik Kevikepan Surakarta kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Pameran Mukjizat Ekaristi dan Ziarah Relikui Santo Carlo Acutis yang disampaikan oleh Mahendra Kiki Saputra.
Pengembalian Relikui ke Kevikepan Bandung
Romo Kepala Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta sekaligus Moderator BP PKK Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pada Paroki Santo Paulus Kleco yang telah menjadi tempat terselenggaranya Pameran Mukjzat Ekaristi dan Ziarah Relikui Santo Carlo Acutis.
Ucapan terima kasih juga disampaikan pada Penerbit Buku Obor, Komisi Kepemudaan, Komisi Kerasulan Mahasiswa dan berbagai pihak serta petugas liturgi, Bidang Liturgi Paroki Santo Paulus Kleco dan Komsos Kleco yang telah membantu terlaksananya live streaming.
Selanjutnya Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF menyampaikan sepatah kata pengembalian Relikui Santo Carlo Acutis ke Kevikepan Bandung kepada Romo Antonius Gregorius A Lalu Pr.
Pada kesempatan yang sama Romo Fransiscus Anggras Prijatno berharap acara yang telah berlangsung membawa dampak kepada kaum muda. Kaum muda diajak melakukan refleksi supaya ketika hari Minggu tidak datang ke gereja; ada penyesalan.
“Jika hari Minggu kaum muda tidak ke gereja, dan merasa “baik-baik” saja maka acara ini tidak memberi daya apa-apa”, kata Romo Anggras.
“Kepada semua umat semoga kita semakin khusuk, semakin khidmad ketika merayakan Ekaristi, sehingga perayaan Ekaristi sungguh-sungguh membawa dampak dan teladan orang muda milineal Santo Carlo Acutis sungguh berdaya dalam kehidupan kita”, lanjut Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta