Mgr. Maksimus Regus: OMK Jangan Terjerat Judi Online

0 106

Labuan Bajo, Katolikana.com – Pada hari Minggu (3/5/26) Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus mengunjungi Stasi Nggorang, Paroki St. Theresia Lisieux Longgo. Ini merupakan kunjungan biasa untuk merayakan ekaristi hari Minggu bersama umat.

Uskup Labuan Bajo itu dijemput oleh puluhan OMK yang sudah berkumpul di perempatan Nggorang sejak pukul 07.00 wita. Dengan bersepeda motor, mereka mengantar Mgr. Maksi menuju Kapel yang terletak di bukit Watu Langkas. Ia diterima secara adat dan diiringi dengan tari-tarian.

Mgr. Maksi didampingi oleh Rm. Frans Nala (Sekjen) dan Rm. Charles Suwendi (Direktur Puspas). Suasana tampak meriah, karena prosesi penerimaan ini tidak hanya melibatkan orangtua, tetapi juga anak-anak dan orang muda seluruh paroki.

Dalam perayaan ekaristi yang berlangsung khidmat dan meriah, Mgr. Maksi menyampaikan tiga pesan penting. Pertama, pelayanan. Setelah kebangkitan Kristus, jumlah orang-orang percaya semakin banyak. Namun, hal itu tidak diikuti dengan jumlah para pelayan. Dengan demikian, ada jemaat yang dilayani, ada juga yang tidak bisa dilayani.

Maka, ada yang bersungut-sungut karena tidak bisa dilayani. Hal yang sama kadang terjadi dalam kehidupan kita. Semua orang menuntut agar dilayani. Bacaan suci hari ini mengajak kita untuk menjadi pelayanan bagi sesama. Pelayanan itu bukan hanya di Gereja, tetapi mulai dari keluarga kita masing-masing. Bapa dan mama hendaknya saling melayani dalam keluarga, demikian juga anak-anak. Itulah tanda kehadiran Kristus dalam hidup kita.

Kedua, Kristus sebagai fondasi kehidupan. Dasar dan pusat hidup kita sebagai orang beriman adalah Kristus. Kita hanya akan bertumbuh dan berkembang apabila selalu berpaut pada Kristus. Dialah yang memampukan kita untuk setia, tekun, dan bertahan di tengah tantangan dan persoalan apa pun.

Ketiga, jalan keselamatan. Kristus sendiri berkata “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup”. Ia memberi jaminan kepada kita bahwa siapa pun yang melalui Dia akan mengalami keselamatan. Bagi kita, Kristus bukan hanya penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri dan keselamatan. Memang tidak tertulis nama “Jalan Yesus”, tetap jalan itu ada di dalam hati kita masing-masing, yakni jalan iman.

Mgr. Maksimus Regus mendapat sambuat ketika mengunjungi Stasi Nggorang, Paroki St. Theresia Lisieux Longgo pada 3 Mei 2026. Foto: Visensius Patno/katolikana.

Persekutuan Sinergis

Selanjutnya, dalam sambutan di akhir perayaan ekaristi, Mgr. Maksi mengapresiasi pertumbuhan iman dan perkembangan umat Stasi Nggorang. “Stasi ini sangat dinamis dan terus bertumbuh. Hal itu tampak jelas dalam keterlibatan dan partisipasi umat dalam acara hari ini mulai dari penjemputan hingga perayaan ekaristi. Bukan hanya orang tua, tetapi juga orang-orang muda dan anak-anak ikut terlibat”.

Mgr. Maksi juga mengajak umat untuk memelihara persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. “Sebagaimana tema pastoral kita tahun ini ‘persekutuan sinergis’, saya mengajak kita untuk terus membangun kebersamaan dengan menyatukan potensi dan kekuatan kita untuk membangun stasi, paroki dan keuskupan kita. Sebab tanpa persekutuan, kita tidak mungkin bisa berkembang”.

Pastor Paroki Longgo, RP. Vinsen Ndelo, O.Carm, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Mgr. Maksi. Kami perlu menyampaikan kepada Bapa Uskup bahwa rangkaian perayaan hari ini dirancang oleh orang-orang muda dan didukung sepenuhnya oleh orangtua. “Sejak beberapa bulan lalu kami menghimpun OMK dari kelima stasi dan mengukuhkan mereka. Hari ini, sebagian dari mereka hadir di sini,” kata Romo Vinsen.

Menurutnya, Stasi Nggorang merupakan stasi besar dengan potensi umat yang banyak. “Salah satu tumpuan paroki ini adalah Stasi Nggorang. Sebab hampir setengah dari jumlah umat Paroki Longgo ada di stasi ini. Stasi ini juga sangat dinamis dan mandiri karena umat yang tinggal di sini bervariasi. Mereka memiliki semangat kebersamaan dan jiwa membangun yang sangat tinggi. Jalan yang melingkari bukit ini menuju Kapel dibuat oleh umat sendiri tanpa bantuan paroki”.

Penyambutan Mgr. Maksimus Regus saat menunjungi di Stasi Nggorang, Paroki St. Theresia Lisieux Longgo. Foto: Visensius Patno/Katolikana

Jangan Terjerat Judi Online

Setelah perayaan ekaristi, OMK diberi kesempatan untuk beraudiensi dengan Mgr. Maksi. Acara ini sengaja didesain untuk mendorong keterlibatan OMK dalam kegiatan Gereja. Hal ini disampaikan oleh Ketua OMK, Ino, dalam sambutannya mengawali sesi dialog, yang telah menjaring OMK dari kelima stasi sejak 4 bulan yang lalu.

Jumlahnya kurang lebih 500 orang, namun yang betul-betul aktif hingga sekarang kurang lebih 200 orang. Ia mengapresiasi teman-teman OMK sudah mulai aktif di KBG dan Stasi, terlibat dalam koor dan liturgi. Rencanya pendampingan tidak hanya berkaitan dengan liturgi, tetapi juga pengembangan diri dan pelatihan kewirausahaan orang muda.

Mgr. Maksi dalam kata-kata peneguhannya menyampaikan kepada orang muda Katolik agar melihat diri mereka sebagai Gereja masa kini, bukan hanya masa depan. Gereja menyiapkan banyak wadah dan memberi tempat bagi orang muda untuk terlibat dalam kegiatan iman dan pelayanan sosial. Maka, orang muda harus rela memberi diri kepada Gereja. Jangan selalu menunggu.

 “Kadang ada orang muda yang menunda pelayanan. Ia berpikir, tunggu berusia 60 tahun dulu baru terlibat dalam kegiatan Gereja, tetapi ternyata usianya tidak sampai 60 tahun. Akhirnya, dia kehilangan kesempatan yang amat berharga untuk melayani Tuhan. Karena itu, jangan menunda-nunda waktu untuk melayani Tuhan”.

Sedangkan terkait pendampingan orang muda, Mgr. Maksi menekankan pentingnya mengakomodir kebutuhan dan harapan konkret orang muda. “Kita mesti masuk melalui pintu orang muda, tetapi keluar melalui pintu Gereja. Kita perlu mendekati orang muda, mendengarkan mereka, dan menangkap kebutuhan mereka. Gereja hadir untuk menjawabinya bersama-sama dengan mereka”.

Mgr. Maksimus Regus memberkati anak-anak Sekami di Stasi Nggorang, Paroki St. Theresia Lisieux Longgo. Foto: Visensius Patno/Katolikana

Sesi dialog berjalan sangat menarik. Begitu banyak pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang muda terkait pergumulan hidup dan harapan mereka kepada Gereja. Salah seorang dari antara mereka, Mario, menanyakan kepada Mgr. Maksi, tentang upaya yang dilakukan Gereja, agar orang-orang muda Katolik tidak terjerumus dalam praktik judi online.

Mgr. Maksi menjelaskan bahwa judi itu termasuk dosa, karena orang tidak mengembangkan diri dan segala kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya melalui pekerjaan. Ia menyia-nyiakan kesempatan untuk berkembang, dan menghancurkan masa depannya. Ini amat meresahkan.

“Orang muda tidak boleh terjerumus dalam praktik-praktik yang tidak sehat seperti ini. Jadilah pribadi yang kreatif, inovatif, dan pekerja keras. Tuhan akan memberkati orang-orang yang demikian.”

Menurut Mgr. Maksimus, dalam wadah OMK perlu dikembangkan keterampilan dan semangat berwirausaha, sehingga OMK menjadi mandiri dan sejahtera dengan usaha sendiri.

Sesi dialog ini diakhiri dengan doa dan berkat yang diberikan oleh Mgr. Maksi kepada semua orang muda yang hadir, termasuk anak-anak Sekami. Mereka sungguh merasakan kehadiran dan perhatian Gereja dalam pergumulan hidup mereka melalui peneguhan dan motivasi dari Sang Gembala. Mereka pun berharap agar Keuskupan Labuan Bajo selalu memberi dukungan bagi kegiatan-kegiatan OMK.

Leave A Reply

Your email address will not be published.