Kisah Hangat dari Warugunung, Saat Anak Muslim Ikut Syukuran Komuni Pertama Sahabatnya

0 128

Surabaya, Katolikana.com – Sebuah  pemandangan menyejukkan hati yang sarat akan nilai toleransi tersaji dalam perayaan hari raya Tubuh dan Darah Yesus bagi umat Katolik, Minggu (7/6). Di tengah kesucian momen anak-anak kelas IV SD menerima Sakramen Komuni Pertama, sebuah kisah nyata tentang moderasi beragama justru lahir dari kepolosan anak-anak di kawasan Warugunung, Surabaya.

Suasana hangat ini terekam saat momen syukuran salah satu penerima Komuni Pertama, Elisabeth Evangelina Bhoki Sairo atau yang akrab disapa Velin. Acara yang berlangsung sederhana tersebut mendadak menjadi perhatian karena kehadiran tamu yang tak biasa.

Dua gadis kecil berhijab hitam tampak berbaur di tengah para tamu. Mereka adalah Elen dan Nurul, siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ulum Bukit Bambe, Driyorejo, Gresik. Keduanya merupakan teman sepermainan Velin yang sengaja datang jauh-jauh dari Perumahan Bukit Bambe demi memberikan selamat kepada sahabat mereka.

Kehadiran Elen dan Nurul di perayaan tersebut seolah meruntuhkan sekat-sekat perbedaan keyakinan yang sering kali menjadi isu sensitif di dunia orang dewasa. Tanpa ada rasa canggung atau tegang, anak-anak ini menunjukkan kehangatan pertemanan yang murni.

Velin, penerima sakramen komuni pertama foto bersama sahabat muslimnya saat acara syukuran. Foto: John Lobo/Katolikana.com

“Dua jilbab hitam dan satu gaun putih berbaur dalam lingkaran tawa, mengobrol dengan santai, mengunyah makanan dengan nikmat, seolah dunia di luar sana tidak pernah mendengar kata intoleransi,” ujar Diego, saudaranya Velin asal Mojokerto yang menyaksikan langsung momen tersebut.

Bagi anak-anak ini, perbedaan ritual dan simbol keagamaan bukanlah pembatas dalam pergaulan. Mereka mempraktikkan langsung prinsip bahwa menghormati keyakinan orang lain sama sekali tidak mengurangi keteguhan iman sendiri, melainkan justru memperluas rasa cinta kasih sesama manusia.

Momen kebersamaan anak-anak dari latar belakang agama yang berbeda ini dinilai sebagai khotbah tanpa kata yang paling kuat mengenai esensi moderasi beragama. Di saat orang dewasa kerap terjebak dalam perdebatan teoretis mengenai toleransi, anak-anak Bukit Bambe ini justru sudah mempraktikkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini memantik harapan besar bagi masa depan bangsa, di mana kebhinekaan tidak lagi dipandang sebagai pemisah, melainkan sebagai kekayaan budaya. Persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) yang ditunjukkan oleh Velin, Elen, dan Nurul menjadi pengingat bagi masyarakat luas untuk menjadikan moderasi beragama sebagai gaya hidup demi mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis.

Leave A Reply

Your email address will not be published.