Pengajaran Iman: Perayaan Misteri Kristen Tata Keselamatan Sakramental dan Sakramen Gereja

0 23

Kursus ke-2 Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK) Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta

Surakarta, Katolikana.com – Kurban salib merupakan sumber tata keselamatan Sakramental Gereja. Gereja mengakui Bunda
Maria, yang merupakan figur Gereja, mengumpulkan dalam tangan kirinya darah dan air yang mengalir dari luka lambung Kristus yang merupakan simbol Sakramen-Sakramen Gereja.

Tata keselamatan Sakramental terdapat dalam komunikasi buah-buah penebusan Kristus melalui perayaan Sakramen-Sakramen Gereja, secara khusus Ekaristi

Liturgi sebagai tindakan suci par excellence adalah puncak yang menjadi arah kegiatan Gereja dan merupakan sumber semua kekuatannya. Melalui liturgi, Kristus meneruskan karya penebusan kita dalam, dengan, dan melalui Gereja.

“Tata Keselamatan Sakramental merupakan upaya memahami cara Allah menyalurkan dan mengkomunikasikan rahmat keselamatan-Nya kepada manusia sepanjang sejarah.
Tata Keselamatan Sakramental merupakan cara Kristus mengkomunikasikan buah-buah Misteri Paskah-Nya ke dalam perayaan liturgi sakramental Gereja”, kata Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF Kepala Paroki Santo Paulus Kleco dalam Kursus Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK) ke-2 yang dilaksanakan di Paroki Kleco, Surakarta, Kamis (18/6/2026), pukul 18.30 -21.00 WIB.

Kursus “Pengajaran Iman” ini diikuti 73 orang yang terdiri dari para katekumen babtis dewasa, para katekis, prodiakon dan umat Paroki Kleco. Tampak hadir pula dalam pengajaran iman ini para novis dan suster dari MASF.

Pengajaran iman yang dilakukan mendapatkan perhatian yang baik dari peserta. Banyak tanggapan dan pertanyaan dari peserta tentang materi yang disampaikan nara sumber, Romo Anggras, seputar liturgi ekaristi, dan sakramen Gereja Katolik.

Tata Keselamatan Sakramental
Pada bagian pertama Tata Keselamatan Sakramental nara sumber menyampaikan tentang liturgi dengan mendasarkan pada Kompendium Katekesmus Gereja Katolik (KKGK) No 218.

Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Dengan melaksanakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan dalam tanda-tanda dan membawa pengudusan bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya‘.

Berdasarkan KKGK No 218 tersebut mengkomunikasikan Buah Misteri Paskah dalam Tata Keselamatan Sakramental adalah cara nyata Kristus menyalurkan rahmat keselamatan-Nya kepada umat manusia sepanjang sejarah.

“Liturgi bukan sekadar peringatan sejarah masa lalu, melainkan tindakan yang menghadirkan kembali misteri keselamatan Allah pada masa kini”, jelas Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF.

Romo Anggras memaparkan pengertian liturgi, asal kata “liturgi”, makna liturgi dan hakikat liturgi sebagai Liturgi Kudus.
(Link : Tata Keselamatan Sakramental )

Liturgi Kudus – PPT KKGK ke-2 Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

Roh Kudus : Seniman Utama dalam Liturgi
Selanjutnya nara sumber menguraikan peran Roh Kudus yang diungkapkan sebagai “Seniman Utama dalam Liturgi” memberikan daya ilahi dalam:

Mempersiapkan hati umat beriman untuk berjumpa secara nyata dengan Kristus.

Mengingatkan serta menghadirkan kembali Kristus secara obyektif di tengah-tengah umat

Menyatukan, mengikat umat beriman secara intim dan mendalam dengan Kristus.

Sakramen Gereja

Pada bagian kedua tentang Hakekat Sakramen Gereja, nara sumber mengajak peserta memahami batasan suci Sakramen di mana Rahmat Allah sungguh bekerja, di dalam tanda-tanda yang kelihatan.

Sakramen bukan sekadar simbol pasif, melainkan tanda yang benar-benar menghadirkan rahmat yang dilambangkannya.

Anatomi Sakramen sebagai tanda berdaya guna (efikasi) terwujud dalam dua rahmat : rahmat yang tak kelihatan dan tanda kelihatan. Rahmat yang tidak kelihatan yaitu rahmat ilahi yang sungguh-sungguh bekerja dan tidak kelihatan contohnya penghapusan dosa dan persatuan dengan tubuh Kristus.

Tanda kelihatan yaitu materi dan tindakan fisik yang ditetapkan langsung oleh Yesus contohnya air, roti, minyak dan penumpangan tangan.

Kesucian sakramen bersumber pada Kristus sendiri sebagai mata air, bukan pada manusia yang menjadi saluran-Nya.

Karya sakramen, bekerja “Ex Opere Operato” yaitu:
Kuasa penebusan Kristus. Rahmat berdaya guna karena tindakan penyelamatan Kristus yang telah dilaksanakan secara obyektif

Pelayan sakramen. Kuasa rahmat tidak bergantung pada tingkat kesucian pribadi pelayan (imam atau uskup) yang menerimakannya.

Pada bagian ketiga disampaikan “Arsitektur Kehidupan Rohani Manusia” yakni Ketujuh Sakramen Gereja yang mencerminkan tahap-tahap perjalanan jiwa.

Kehidupan rohani manusia mengalami tahap:
Inisiasi Kristen. Kelahiran rohani (Sakramen Babtis, Sakramen Krisma dan Sakramen Ekaristi)

Penyembuhan. Pemulihan rohani (Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit).

Pelayanan Persekutuan. Perutusan Komunitas (Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan).

Selanjutnya nara sumber menguraikan dan meneguhkan kembali pemahaman tujuh sakramen yang ada di Gereja Katolik dan menyampaikan matrik perjalanan rohani manusia dalam kaitan dengan Sakramen Gereja Katolik.

Siklus Kehidupan Rohani dan Matrik Perjalanan Rohani Manusia – PPT KKGK ke-2 Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

Jaring Rahmat yang Tak Terputus
Mensyukuri atas liturgi dan sakramen yang dimiliki dan diwarisi dalam persekutuan iman Katolik, Romo Fransiscus Anggras Prijatno menyampaikan ungkapan :” Dari napas pertama hingga persiapan menuju kehidupan kekal, Gereja tidak pernah meninggalkan umatnya. Tata Keselamatan Sakramental dirancang dengan sempurna untuk menyertai, memulihkan dan menguatkan setiap fase kondisi manusia”. (*)

Peserta KKGK ke-2 menerima berkat penutup dalam doa penutup usai mengikuti KKGK ke-2 Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.