Dari Titik Nol, STK Touye Paapaa Deiyai Ikut Membangun Gereja Katolik Papua

0 30

Oleh: Titus Pekei, Peneliti Ekologi Papua dan Dosen Tetap STK Touye Paapaa Deiyai Keuskupan Timika

Deiyai, Katolikana.com — Membangun Gereja di Tanah Papua tidak selalu dimulai dari gedung besar, fasilitas lengkap, atau pusat kekuasaan yang mapan. Di Deiyai, Papua Tengah, Gereja tumbuh dari titik nol: dari kerinduan umat, kesadaran budaya, keterbatasan sarana, dan tekad untuk menghadirkan pendidikan tinggi Katolik yang berakar pada tanah, manusia, dan iman masyarakat Papua sendiri.

Salah satu wujud nyata dari gerakan itu adalah Sekolah Tinggi Katolik atau STK Touye Paapaa Deiyai Keuskupan Timika. Kampus ini bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi. Ia menjadi simbol bahwa Gereja lokal di Papua mampu melahirkan pusat pembentukan kader pastoral, guru agama Katolik, katekis, dan pemikir muda dari tengah umatnya sendiri.

STK Touye Paapaa lahir dari aspirasi umat Katolik di wilayah Meeuwodide, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika. Kehadirannya berangkat dari kebutuhan mendesak akan pendidikan tinggi Katolik yang dekat dengan umat, memahami realitas budaya Papua, dan sanggup menjawab kebutuhan pastoral di kampung-kampung.

Dalam konteks inilah gagasan “membangun dari titik nol” menemukan maknanya. Titik nol bukan tanda ketiadaan. Titik nol adalah ruang awal, tempat iman, budaya, dan pendidikan mulai disatukan untuk membangun masa depan Gereja Katolik Papua dari bawah.

Makna Touye Paapaa

Nama “Touye Paapaa” memiliki makna mendalam dalam alam pikir masyarakat setempat. Dalam pemaknaan kultural orang Mee, “Touye” menunjuk pada manusia asli, manusia seutuhnya, atau pribadi yang hidup dalam nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Sementara “Paapaa” dimaknai sebagai orang tua, pelindung, pemelihara, dan penjaga kehidupan.

Dengan nama itu, STK Touye Paapaa memikul tugas yang lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan perkuliahan. Kampus ini diharapkan melahirkan manusia Katolik Papua yang dewasa dalam iman, kuat dalam identitas, terbuka pada ilmu pengetahuan, serta siap menjaga kehidupan, budaya, dan martabat manusia di Tanah Papua.

Pendidikan tinggi Katolik di Papua tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara akademik. Ia juga perlu membentuk pribadi yang sanggup membaca tanda-tanda zaman, memahami pergulatan umat, serta menghubungkan iman Katolik dengan pengalaman konkret masyarakat adat Papua.

Di titik ini, STK Touye Paapaa menjadi ruang perjumpaan antara teologi, antropologi, pendidikan, ekologi, dan kearifan lokal. Nilai-nilai budaya Papua, termasuk filosofi noken, tidak diperlakukan sebagai hiasan identitas, tetapi sebagai sumber refleksi iman dan dasar pembentukan karakter.

Pelepasan Mahasiswa/i PKL Sekolah Tinggi Katolik “ Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika Tahun Akademik 2023/2024.

Kampus Umat

Kehadiran STK Touye Paapaa Deiyai memperlihatkan bahwa Gereja Katolik Papua tidak hanya bertumbuh melalui pelayanan sakramental, tetapi juga melalui pendidikan. Kampus ini lahir dari kesadaran umat bahwa masa depan Gereja membutuhkan kader lokal yang mengenal bahasa, budaya, medan pastoral, dan pergumulan masyarakatnya sendiri.

Wilayah Meepago memiliki sejarah iman yang panjang. Namun, akses terhadap pendidikan tinggi Katolik yang sungguh mengakar pada konteks lokal masih terbatas. Banyak anak muda harus keluar dari daerahnya untuk mengakses pendidikan tinggi. Sebagian dapat kembali, tetapi sebagian lain tidak selalu mampu menjawab kebutuhan pastoral dan sosial di kampung asalnya.

STK Touye Paapaa hadir sebagai jawaban atas kerinduan itu. Kampus ini menjadi tanda bahwa umat lokal dapat mengambil bagian aktif dalam merancang masa depan pendidikannya sendiri. Gereja tidak hanya hadir sebagai institusi dari luar, tetapi tumbuh bersama umat, dari tanah yang sama, dengan bahasa dan kebudayaan yang sama.

Karena itu, STK Touye Paapaa dapat disebut sebagai “kampus umat”. Ia dibangun dari tekad, doa, keringat, dan pengorbanan banyak pihak: umat, tokoh Gereja, pendidik, pemerintah daerah, orang tua mahasiswa, serta masyarakat yang melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan.

Mendidik Katekis dan Guru Agama Katolik

Salah satu kebutuhan mendesak Gereja Katolik di pedalaman Papua adalah tersedianya tenaga pendidik, katekis, dan penggerak komunitas yang bersedia tinggal dan melayani umat di kampung-kampung. Dalam banyak wilayah, pelayanan Gereja tidak hanya membutuhkan imam, tetapi juga awam terdidik yang mampu mendampingi umat, mengajar iman, membangun kesadaran sosial, dan merawat kehidupan bersama.

Di sinilah posisi STK Touye Paapaa menjadi strategis. Kampus ini membentuk generasi muda Papua agar tidak tercerabut dari akar budayanya, tetapi juga tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pendidik agama Katolik yang berintegritas, pelayan umat yang rendah hati, dan penggerak masyarakat yang memahami tantangan zamannya.

Pendidikan yang membebaskan tidak hanya memindahkan pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Pendidikan juga harus membangkitkan kesadaran bahwa setiap mahasiswa adalah subjek sejarah. Anak-anak muda Papua bukan objek pembangunan, melainkan pelaku utama yang berhak menulis masa depan Gereja dan masyarakatnya sendiri.

Iman yang Berakar pada Budaya

Kekuatan STK Touye Paapaa terletak pada keberaniannya membaca iman Katolik melalui konteks budaya Papua. Iman tidak hadir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dalam bahasa, simbol, tanah, relasi sosial, dan pengalaman hidup suatu masyarakat.

Karena itu, pendidikan Katolik di Papua perlu memberi tempat pada antropologi lokal. Mahasiswa tidak hanya belajar ajaran Gereja secara normatif, tetapi juga diajak merefleksikan bagaimana Injil dapat hidup dalam kebudayaan Mee, dalam nilai persaudaraan, dalam penghormatan kepada orang tua, dalam relasi dengan alam, serta dalam simbol-simbol kehidupan seperti noken.

Noken, misalnya, bukan hanya benda budaya. Ia mengandung nilai kehidupan, tanggung jawab, berbagi, kesabaran, dan perlindungan. Dalam terang iman, nilai-nilai itu dapat dibaca sebagai jembatan antara kearifan lokal Papua dan pesan kasih dalam Kekatolikan.

Dengan pendekatan seperti ini, STK Touye Paapaa tidak hanya mendidik mahasiswa untuk mengajar agama. Kampus ini mendidik mereka untuk menjadi penafsir iman dalam konteksnya sendiri.

Membangun Gereja dari Pinggiran

Perjalanan STK Touye Paapaa memperlihatkan bahwa sejarah besar tidak selalu dimulai dari pusat. Di Papua, sejarah Gereja juga ditulis dari pinggiran: dari paroki, stasi, kampung, ruang kelas sederhana, dan pertemuan umat yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju martabat.

Membangun dari titik nol berarti berani memulai sekalipun fasilitas belum lengkap. Berani berjalan sekalipun dukungan belum sempurna. Berani menanam sekalipun hasilnya belum segera terlihat.

Dari titik nol itu, STK Touye Paapaa terus menegaskan peran pendidikan tinggi Katolik sebagai bagian dari karya pastoral Gereja. Ia bukan hanya tempat mahasiswa meraih gelar, tetapi ruang pembentukan manusia Papua yang beriman, berilmu, berbudaya, dan siap melayani.

Langkah ini merupakan bentuk kemandirian budaya yang positif. Orang Papua tidak hanya menjadi penerima sejarah pendidikan, tetapi menjadi subjek yang membangun sejarahnya sendiri. Gereja Katolik Papua tidak hanya diwarisi dari para misionaris masa lalu, tetapi juga terus dibangun oleh umat lokal masa kini.

Di atas tanah Deiyai, sejarah itu sedang ditulis. Dari titik nol, Gereja bertumbuh. Dari kampus umat, harapan baru disemai. Dari STK Touye Paapaa, generasi Katolik Papua dipanggil untuk menjaga iman, merawat budaya, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

Ugatame sayang kita. Allah mengasihi kita. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.