Surakarta, Katolikana.com –Memperlakukan jenazah dengan rasa hormat dan pemulasaran (perawatan jenazah) dengan tata cara yang baik menjadi tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat selaras dengan budaya dan penghayatan iman sesuai yang dianut saudara atau saudari yang menghadap Tuhan.
Rasa hormat pada saudara atau saudari yang meninggal mengingat kebaikan dan jasa selama hidupnya serta berkomunikasi, “mengajak berbicara” saudara-saudari yang meninggal akan sangat membantu Tim Pangruktilaya saat merawat jenazah. Demikian pesan yang disampaikan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF saat memberi kata sambutan dalam Pelatihan Pangruktilaya Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta, pada Minggu (28/6/2026), di Ruang Berthier pukul 09.30 – 13.00 WIB.
Pelatihan pangruktilaya dilaksanakan dengan nara sumber dari RS Brayat Minulya Surakarta dan diikuti anggota Tim Pangruktilaya Lingkungan yang berada direksa pastoral Paroki Santo Paulus Kleco sebanyak 94 orang.
Pelatihan Pangruktilaya serta penyegaran bagi Tim Pangruktilaya dilaksanakan dengan tema : “Sigap, Terampil, dan Berbelarasa: Mewujudkan Tim Pangruktilaya Lingkungan yang Tangguh”
Koordinator Tim Pelayanan Pangruktilaya Paroki Santo Paulus Kleco, Ros Endah Happy Patriyani menyampaikan bahwa memberikan penghormatan pada saudara-saudari yang telah menghadap Tuhan itu penting karena memberikan penghormatan sesuai martabat manusia.
Pembekalan Tim Pangruktilaya
Penyegaran dan Pelatihan Pangruktilaya bertujuan memberikan pembekalan bagi Tim Pangruktilaya Lingkungan untuk memiliki sikap : Sigap (Cepat tanggap, Terampil (Cakap bertugas), Berbelarasa (Penuh kasih dan empati).
Ros Endah Happy Patriyani menambahkan bahwa karakteristik Tim Pangruktilaya yang tangguh memiliki sikap:
Kerja Sama (Soliditas): Saling melengkapi kelemahan anggota dan tidak bekerja secara egois.
Regenerasi Berkelanjutan: Terbuka dalam membina anggota-anggota baru, dari berbagai rentang usia.
Kesehatan Fisik & Mental: Tahu batas kemampuan diri, tetap menjaga higienitas, dan rutin mengadakan rekoleksi/refleksi tim agar tidak burnout/jenuh.

Makna perawatan jenazah secara Katolik
MM Betty Sukmawati perawat dari RS Brayat Minulya dalam pemaparan materi menyampaikan Tata cara Perawatan Jenazah Secara Katolik, Wujud Penghormatan, Kasih dan Pelayanan Iman.

MM Betty Sukmawati mengajak peserta pelatihan memahami makna pelayanan pangruktilaya menurut iman Katolik sehingga memiliki kedalaman batin pada saat melaksanakan pelayanan. Selain itu juga mendampingi keluarga, menenangkan saat berduka dan menjalani masa kritis.
Lebih dari itu Tim Pangruktilaya dapat menguasai prosedur perawatan jenazah yang benar sesuai agama Katolik untuk menjaga martabat manusia dan mencegah kesalahpahaman.
Selanjutnya peserta diajak untuk menghayati iman Katolik tentang kematian : hidup yang diubah bukan dilenyapkan, pohon pelayanan pangruktilaya dan langkah suci pelaksanaan perawatan jenazah.

Pelatihan perawatan jenazah
Pada sesi pelatihan peserta dibagi dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok mencermati proses perawatan jenazah yang disampaikan oleh pendamping dan saling membagikan pengalaman perawatan jenazah sesuai pedoman dan apa yang dialami dalam pelaksanaan.
Tampak hadir dalam Penyegaran dan Pelatihan Pangruktilaya Romo Bernardinus Haryasmara, MSF., Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Veronika Ary Widayanti, Koordinator Ketua Wilayah Ketua Lingkungan Andreas Feri Sumarlin, Ketua PRKP E. Emma Widyastuti dan beberapa Ketua Lingkungan.
Hadir dari RS Brayat Minulya Surakarta Sr Chrisentine, OSF., Sr Franchieta, OSF., dr. Albertus Septian Rahardi, Perawat (Agustin, Betty, Partini, Damayanti, Mein) Humas Marketing (Angel, Nuel) (*)


Katekis di Paroki Kleco, Surakarta