Katolikana.com – Saat ayat-ayat Mazmur Tuhanlah Gembalaku dilantunkan dalam Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC 2026, untuk pertama kalinya saya merasakan haru di hati.
Bagaimana cara menyanyikan mazmur tanggapan antar bacaan yang benar, baik, indah, dan sakral dalam Perayaan Ekaristi Gereja Katolik?
Setidaknya ada dua hal. Pertama, tidak ada patokan teknik vokal untuk menyanyikan mazmur tanggapan dalam Perayaan Ekaristi. Tiga dokumen Gereja tentang liturgi, yaitu Konstitusi Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium (1963), Instruksi Musik Liturgi Musicam Sacram (1967), dan Pedoman Umum Misale Romawi (1970) — tidak menyebutnya secara spesifik
Kedua, mungkin karena ketiadaan patokan, dalam banyak kesempatan Perayaan Ekaristi saya selalu mendengar lagu mazmur yang sama dinyanyikan dengan cara yang berbeda-beda.
Tapi bukan dua perkara itu saja. Lebih mendasar lagi, teknik vokal para pemazmur umumnya juga tak memadai. Akibatnya, selain tidak ramah di telinga, nyanyiannya gagal menyampaikan pesan-pesan mazmur.
Menurut Jay Wijayanto, pelatih dan konduktor Cantica Sacra Choir, teknik yang paling pas adalah Speech Level Singing. Dia merujuk teknik ciptaan Seth Riggs, guru para penyanyi top Amerika.
Menurut Jay, teknik itu memungkinkan seseorang bernyanyi dengan posisi laring yang rileks seperti saat bicara. Itu dasarnya disebut Speech Level Singing (SLS), bernyanyi setara bicara. Dengan teknik itu penyanyi bisa memadukan suara dada dan kepala pada rentang yang luas, tanpa jeda vokal.
Tapi itu teorinya. Prakteknya?
Dalam tiga kesempatan konser musik liturgi Cantica Sacra Choir (CSC) yang pernah saya hadiri, sebenarnya selalu diselipkan satu nomor mazmur. Hanya saja, saat itu saya tak menyadari bahwa itu untuk mencandra jejak SLS.
Barulah pada Misa Pembukaan Sidang Pleno Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Hotel Mulia, Jakarta pada 21 Juli 2026 lalu, saya benar-benar mencandra SLS pada lagu mazmur. Ketika menjalankan tugas paduan suara, CSC saat itu membawakan mazmur The Lord is My Shepherd (TLMS) — Tuhanlah Gembalaku, gubahan Dave Moore.
Tuhanlah Gembalaku
Sebagaimana diketahui TMLS terbilang mazmur paling terkenal sedunia. Liriknya diambil dari Mazmur 23 gubahan Raja Daud. Versinya ada ratusan dalam berbagai bahasa.
Versi yang dibawakan CSC adalah gubahan Dave Moore, seorang musisi Amerika, tahun 1974. Mazmur versi Moore ini tergolong genre musik kontemporer.
Berikut lirik mazmur itu selengkapnya:
(Refrein) The Lord is my Shepherd; there is nothing I shall want.
(Ayat 1) The Lord is my shepherd; I shall not want. In verdant pastures he gives me repose; beside restful waters he leads me;
he refreshes my soul.
(Ayat 2) He guides me in right paths for his name’s sake. Even though I walk in the dark valley I fear no evil; for you are at my side
with your rod and your staff that give me courage.
(Ayat 3) You spread the table before me
in the sight of my foes; you anoint my head with oil; my cup overflows.
(Ayat 4) Only goodness and kindness
follow me all the days of my life; and I shall dwell in the house of the Lord for years to come.
Moore menggubah lagu mazmurnya mengikuti “gaya Gelineau”. Itu gaya mazmur ciptaan Joseph Gelineau SJ, seorang pastor Perancis, tahun 1950-an.
Gaya Gelineau ditandai, pertama, oleh satu refrain pendek dengan melodi sederhana yang gampang dihafal dan dinyanyikan umat. Intensinya, kesatuan umat lewat nyanyian mazmur bersama.
Lalu, kedua, dinyanyikan oleh solis, ayat-ayatnya memiliki melodi yang berbeda satu sama lain (through-composed). Bukan pengulangan melodi yang sama seperti lazimnya mazmur gaya stanza.
Dalam musik liturgi, untuk memenuhi nilai benar dan baik, melodi wajib mengabdi pada teks atau lirik yang diambil dari atau didasarkan pada ayat-ayat Kitab Suci. Bukan sebaliknya lirik mengikuti melodi.
Demikianlah, dalam mazmur TLMS gubahan Moore melodi menggambarkan isi dan makna setiap ayat. Itu sebabnya mengapa warna melodi masing-masing ayat berbeda satu sama lain.

Indah dan Sakral
“Lagu mazmur harus dinyanyikan secara benar, baik, indah, dan sakral,” kata Jay Wijayanto suatu ketika.
Patokan praktisnya begini. Benar berarti bernyanyi tenang sesuai notasi dengan lafal yang terang. Baik berarti mengajak umat mendalami makna sabda Tuhan. Indah berarti menyanyi dengan suara yang bulat, empuk, seimbang terang-gelapnya, dan mengalir wajar. Sakral berarti membangun atmosfir doa yang khusuk.
Mengusung mazhab vokal bel canto, bernyanyi indah ala Italia, CSC telah terlatih membawakan lagu liturgi, termasuk mazmur tanggapan, secara benar, baik, indah, dan sakral.
Penguasaan teknik vokal saja tidak cukup. Perlu kemampuan tafsir lagu dan penentuan jenis suara yang tepat khususnya untuk solis pembawa mazmur. Ini terutama menjadi ranah pelatih.
Mazmur TLMS itu digubah Moore pada nada dasar Do = E. Ini nada tengah yang aman untuk diikuti umat, bebas dari nada yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah.
Nada dasar Do = E juga menjadi “rumah paling nyaman” untuk solis bersuara mezzo-sopran liris. Pada nada dasar itu dia bisa bernyanyi dengan rileks, tenang.
Karena itu pilihan pada Alexandra, sopran CSC, sebagai solis pembawa mazmur tersebut adalah keniscayaan. Lagu itu adalah rumah untuk suaranya, mezzo-sopran liris.
Secara visual, tampilan Alexandra pada momen itu menyajikan simbolisme yang sangat kuat pula. Kebaya dan mantilla putih yang dikenakannya melambangkan kesucian, kedamaian, dan kerendahan hati. Efek halo dari pencahayaan pada mantilla memberi kesan sakral.
Ketika dia mulai melantunkan refrein mazmur dengan lembut (piano), lalu berangsur agak lembut (mezzo-piano) sampai agak nyaring (mezzo-forte), maka terasakan sabda sedang diletakkan di hadapan umat, sedia untuk disantap.
Para selebran Misa, para kardinal dan uskup se-Asia, serta umat langsung menyambut. Semuanya melantunkan-ulang refrain mazmur itu: “The Lord is my Shepherd; there is nothing I shall want.” – Tuhanlah Gembalaku, takkan kekurangan aku.
Diiringi instrumen musik organ, flute, dan cello, nyanyian mazmur bersama-sama itu terasakan seperti pelukan hangat ilahiah. Rasa nyaman dan aman menyusup ke hati. Semakin nyaman dan aman setiap kali refrein itu dinyanyikan ulang.
Empat ayat mazmur dibawakan solis bukan saja dengan benar dan baik tapi, lebih dari itu, sangat indah dan terasa sakral. Buah terapan teknik SLS, vokalnya terdengar jernih, bulat, dan empuk mengirim rasa hangat dan nyaman ke hati. Melodi mengalir mulus di kanal legato yang sempurna. Vibrasi vokal terdengar natural, rileks. Diksinya alami, tetap jelas tertangkap baik pada nada sangat lembut maupun nada nyaring (forte).
Berkat teknik SLS pula, dinamika lagu mazmur itu, bersama melodinya, mengirim pesan doa yang sangat kuat pada setiap ayatnya. Suara sangat lembut sampai agak nyaring dengan melodi legato yang tenang pada ayat pertama adalah ucapan syukur atas “padang rumput hijau luas dan air sungai mengalir jernih”. Itulah karunia pemeliharaan dari Tuhan, Sang Gembala Baik.
Lanjut ke ayat kedua. Dinamikanya naik-turun dari lembut sampai nyaring, dengan melodi minor, dramatis. Ayat ini mengirim pesan, “Jangan kamu takut. Aku, Tuhanmu. Aku menuntunmu di jalan yang benar dan menjagamu dari segala bahaya.”
Lalu melodi meriah, dengan dinamika suara agak nyaring sampai nyaring pada ayat ketiga mengirim pesan tentang pengurapan dan pesta, suka-cita kemenangan di depan segala musuh kebenaran ilahi.
Memasuki ayat keempat, dinamikanya bergerak dari nyaring ke agak lembut, dengan melodi yang doksologis. Ayat ini mengirim sebuah pesan kepastian, dengan bimbingan Tuhan kita akan tiba di rumah-Nya yang damai.
Solis, berjalin harmonis dengan paduan suara — khusus pada frasa terakhir ayat pertama, ketiga, dan keempat — berhasil mengangkat mazmur itu naik ke tatar sakralitas Perayaan Ekaristi.
Lantunan mazmur Daud itu telah mengharukan, bukan hanya saya, tetapi juga umat lainnya. Bahkan, lagu itu mampu menghantarkan para uskup dan umat dalam tataran sakralitas dan atmosfer doa reflektif, yang menyadarkan betapa berharganya manusia pendosa yang teramat rendah di hadapan Tuhan.
Editor: Basilius Triharyanto
Seorang sosiolog, periset sosial independen, pegiat musik liturgi Katolik. Alumni Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang Siantar.