Oleh Adrian Diarto
Katolikana.com—Malam makin larut di sudut kota yang asing. Jarum bahan bakar mobil Ratih menunjuk angka merah, lalu mati. Lampu indikator berkedip cemas di bawah guyuran rintik hujan.
Ia menepikan mobilnya di sebuah SPBU dengan jantung berdegup kencang. Dompetnya kosong. Saldo ATM-nya habis. Ponselnya mati total. Beban hidup akibat baru kehilangan pekerjaan dan ibunya yang sakit terasa menumpuk malam itu.
Ratih mulai mengumpulkan receh dari laci dasbor dan celah kursi. Setelah dihitung dengan tangan gemetar, totalnya tidak sampai sepuluh ribu rupiah. Air matanya menetes. Ia merasa rapuh dan tidak berdaya di balik kemudi.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya diam-diam. Seorang perempuan muda dengan look kekinian mendekat. Tanpa bertanya, ia langsung berjalan ke loket SPBU. Ia menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu rupiah kepada petugas. Ia lalu meminta petugas mengambil selang dan mengisi tangki mobil Ratih dengan bahan bakar.
Ratih terkejut dan bergegas turun.
“Pak, maaf, tetapi saya tidak punya cukup uang untuk membayar,” kata Ratih panik kepada petugas SPBU sambil menyodorkan uang koinnya.
Pria petugas stasiun bahan bakar itu tersenyum hangat. Ia mendorong lembut tangan Ratih.
“Tidak usah, Mbak. Simpan saja koinnya. Ini gratis, sudah dibayar oleh Mbak yang tadi,” kata petugas itu. Ia lalu melanjutkan pesan dari sang perempuan muda, “Hati-hati di jalan, Mbak. Tuhan tetap bersama kita.”
Ratih terpaku di dekat pompa bensin. Ia menangis haru dalam diam. Rasa syukurnya luar biasa. Dunia ternyata tidak sekejam yang ia pikirkan. Perempuan muda kekinian tadi sudah telanjur pergi. Ratih bahkan tidak sempat sekadar untuk berterima kasih.

Tindakan Angelic
Tindakan perempuan muda tersebut adalah perbuatan tanpa pamrih yang murni. Dalam istilah moral dan spiritual, inilah yang disebut sebagai tindakan angelic. Tindakan kemalaikatan.
Secara linguistik, kata angelic memiliki akar sejarah tersendiri. Berdasarkan kamus etimologi otoritatif seperti Online Etymology Dictionary dan Oxford English Dictionary, kata ini berasal dari akar kata Proto-Indo-Eropa *ang-. Artinya “menyampaikan” atau “membawa kabar”.
Akar kata ini kemudian melahirkan kata benda dalam bahasa Yunani Kuno, angelos (ἄγγελος). Pada awalnya, kata ini bermakna sekuler, yaitu “utusan manusia” atau “duta pembawa pesan”, seperti yang tercatat dalam literatur klasik karya Homer.
Pergeseran makna spiritual terjadi pada abad ke-3 SM. Pergeseran ini terekam melalui Alkitab Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani dari Alkitab Ibrani. Di sana, kata angelos dipilih untuk menerjemahkan kata Ibrani mal’akh (מַלְאָךְ) yang berarti “utusan surgawi Tuhan”.
Dari Yunani, istilah ini kemudian diserap ke dalam bahasa Latin Gerejawi menjadi kata benda angelus. Kata ini lalu diberi akhiran kata sifat menjadi angelicus (“seperti malaikat”). Kata ini akhirnya masuk ke dalam bahasa Inggris Pertengahan melalui bahasa Prancis Kuno (angele).
Ia bertransformasi menjadi kata sifat angelic pada akhir abad ke-16, sekitar tahun 1590-an. Kata ini digunakan untuk menggambarkan sebuah tingkat kualitas kebajikan, kemurnian, dan juga kebaikan yang luar biasa.
Tiga Pemicu
Menariknya, esensi dari tindakan angelic ini bisa tumbuh di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Kebaikan murni ini tidak terbatas oleh ruang geografi, status sosial, maupun sekat-sekat religiusitas tertentu. Tindakan kemalaikatan dapat bersemai di tempat-tempat yang tidak terduga melalui tiga pemicu utama.
Pertama adalah dorongan altruisme alami. Psikologi evolusioner menunjukkan bahwa manusia memiliki cetak biru biologis untuk saling menolong (prosocial behavior). Keinginan untuk meringankan beban sesama adalah insting purba. Ia ada di dalam struktur otak kita. Insting ini akan aktif secara spontan saat melihat penderitaan orang lain.
Kedua, respon terhadap penderitaan bersama. Di daerah konflik, wilayah pascabencana, atau lingkungan perkotaan yang keras, tindakan angelic justru sering muncul. Ia hadir sebagai bentuk mekanisme pertahanan kemanusiaan. Ketika sistem formal gagal, ketulusan harian antarmanusia akan mengambil alih secara alami.
Ketiga, kekuatan penularan sosial (social contagion). Kebaikan memiliki sifat menular. Ketika seseorang menyaksikan sebuah tindakan kemalaikatan—seperti yang dialami Ratih di SPBU—sistem saraf mereka mengalami fenomena psikologis yang disebut moral elevation.
Perasaan haru dan kagum ini memicu keinginan kuat di dalam diri saksi tersebut. Mereka tergerak untuk melakukan kebaikan serupa kepada orang lain di kemudian hari. Ini kadang disebut juga sebagai best version of self. Versi diri terbaik kita.
Melakukan tindakan angelic tidak hanya menyelamatkan orang lain. Ia juga memberikan dampak positif psikologis yang luar biasa bagi pelakunya sendiri. Ketika seseorang menolong tanpa pamrih, otak melepaskan senyawa kimia seperti oksitosin, dopamin, dan serotonin. Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai helper’s high. Sebuah kondisi di mana tubuh merasakan lonjakan energi positif, penurunan tingkat stres, dan rasa damai yang mendalam setelah berbuat baik.
Secara ilmiah, tindakan ini berkontribusi besar pada kesehatan mental jangka panjang. Orang-orang yang konsisten melakukan kebaikan tulus cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah. Kepuasan hidup mereka juga lebih tinggi. Kebaikan memvalidasi eksistensi kita sebagai makhluk sosial. Ia menciptakan perasaan bahwa hidup kita bermakna bagi dunia.
PERMA Model
Pakar psikologi positif terkemuka, Martin Seligman, menegaskan pentingnya tindakan ini dalam teorinya tentang kesejahteraan manusia (PERMA Model). Menurut Seligman, tingkat kebahagiaan tertinggi manusia tercapai melalui komponen Meaning atau kebermaknaan.
Seligman berpendapat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang kepuasan materi atau kesenangan pribadi semata. Kebahagiaan sejati hadir ketika seseorang mendedikasikan kekuatan dan kebaikan dirinya untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Termasuk menolong sesama manusia yang sedang kesulitan. Dalam spiritualitas Ignatian, konsep ini dikenal sebagai with and for others. Bersama dan untuk orang lain.
Dalam cerita Injil, tindakan angelic juga tercermin ketika seorang anak kecil menyerahkan lima roti jelai dan dua ekor ikan miliknya.
Kisah-kisah ini adalah pembuktian bahwa kemurnian sifat makhluk surgawi dapat diwujudkan di bumi oleh manusia biasa. Kebajikan tidak membutuhkan keajaiban besar yang turun dari langit. Ia hanya membutuhkan keputusan sederhana kita untuk tetap memilih menjadi lembut dan tulus.
Malaikat tidak selalu bersayap, bahkan malaikat juga dapat berpakaian seksi. (*)
Penulis: Adrian Driarto, pegiat Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.