Kawula Satuhu Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta di Pura Mangkunegaran

Satuhu Manunggal Kapitadosan, Satuhu Tumindak, Satuhu Ing Pangajeng-ajeng

0 38

Surakarta, Katolikana.com – Satuhu dalam bahasa Jawa mempunyai arti bertekun dan setia dengan sungguh-sungguh. Satuhu manunggal kapitadosan berarti bertekun dan setia secara sungguh-sungguh dalam hidup beriman, percaya kepada Tuhan. Satuhu tumindak berarti setia dalam tindakan untuk nyawiji, mawutuh, andum berkah. Satuhu ing pangajeng-ajeng berarti setia dalam pengharapan.

Perjalanan iman yang di ungkapkan dalam perayaan syukur Perayaan Ekaristi HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta di Pendhapi Ageng Pura Mangkunegaran, Rabu (7/10/2026) merupakan momentum untuk refleksi dan perayaan iman.

Selebrasi mengekspresikan kegembiraan dilakukan di panggung seni budaya yang digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran dengan penampilan seni serta Konser Teatrikal Kawula Satuhu.

Aksi perwujudan perjalanan iman mewarnai tema “Nyawiji, Mawutuh lan Andum Berkah”.

Perayaan Ekaristi diikuti lebih dari 3.000 umat, imam, bruder, suster yang hadir dari 29 paroki dan 1 stasi di Kevikepan Surakarta. Berkenan hadir dalam Perayaan Ekaristi GRAy Putri Purnaningrum (Gusti Putri) dan GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura)

Selebran utama Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr. Robertus Rubiyatmoko didampingi Vikep Kevikepan Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr dan Romo Walterus Teguh Santosa, SJ Kepala Paroki Santo Antonius Purbayan serta konselebran Vikep Kedu, Vikep Yogyakarta, Vikep Kategorial, Para Romo yang berkarya di paroki-paroki Kevikepan Surakarta.

Satuhu manunggal kapitadosan
Setia bertekun hidup beriman dalam perjalanan 60 Tahun Kevikepan Surakarta ditandai dengan penghayatan akan karya Agung Tuhan.

“Yesus Tuhanku Penebus Penolongku. Ajaiblah Tuhan Juru Selamatku”.

Perjalanan iman Gereja Kevikepan Surakarta tidak sedikit menghadapi tantangan. Membutuhkan banyak perjuangan. Benih Sabda yang ditabur menjadi benih iman yang dipelihara, dirawat dan di jaga melalui berbagai perjuangan dalam menghadapi topan. Bahtera masih terus berjuang sampai tempat tujuan, terarah pada Kristus, ngênêr mring Sang Kristus meski telah berusia “sewidak” usia 60 tahun. Gereja merupakan bahtera yang berjuang mengarungi gelombang zaman dalam semangat sinodalitas.

Inkulturasi budaya musik liturgi

Inkulturasi budaya, musik liturgi dengan iringan gamelan dan orkestra mewarnai kekhidmadan perayaan Ekaristi yang melambangkan Gereja dan Pura Mangkunegaran berpadu merawat budaya dan menyelaraskan dengan perkembangan zaman.

Pura Mangkunegaran telah berkenan memberikan “idi palilah” izin untuk pelaksanaan Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta.

Perpaduan dalam konteks budaya, Pura Mangkunegaran memiliki panji dan lambang Pura Mangkunegaran yang dikenal sebagai Pareanom (kombinasi warna hijau tua dan kuning emas).

Warna pareanom pada panji-panji tersebut melambangkan kesuburan, kemakmuran, kemudaan, dan keluhuran.
Sementara itu, lambang resmi praja Pura Mangkunegaran memiliki semboyan heraldik “Surya Sumirat” (Matahari yang Bersinar).

Panji-panji paroki menggambarkan Santo dan Santo yang diteladani umat dalam menghidupi iman di paroki

Pada Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta, panji-panji paroki dengan gambar Santo dan Santa Pelindung menyertai paroki yang melambangkan keutamaan teladan iman dan dinamika paroki yang ada di Kevikepan Surakarta.

Satuhu tumindak

Vikep Kevikepan Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr dalam pengantar sebelum Perayaan Ekaristi mengungkapkan, saat ini kevikepan menjadi Pusat Pelayanan dan Penggerak Pastoral.

Perayaan Ekaristi merupakan syukur atas gerak dan karya pelayanan Kevikepan Surakarta selama 60 tahun. Usia 60 tahun sering disebut lustrum ke-12, atau diamond jubilee. Dalam bahasa Jawa usia 60 tahun disebut usia sewidak sejatine wis wayahe tumindak. Sudah waktunya melangkah berkarya, lebih bijak dalam karya dan pelayanan. Perayaan Ekaristi mengangkat tema Nyawiji, Mawutuh lan Andum Berkah.
Nyawiji bersatu hati berjalan bersama dengan Tuhan dan Gereja.

Mawutuh atau menjadi wutuh dalam persaudaraan, handarbeni, saling melengkapi dan mendukung dalam keanekaragaman.

“Andum Berkah mampu berbagi bagi Gereja dan masyarakat. Secara khusus hasil kolekte Perayaan Ekaristi akan diperuntukkan membantu saudara-saudari yang saat ini membutuhkan air bersih”, kata Vikep Surakarta Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko Uskup KAS menyampaikan homili saat Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta di Pendhapi Ageng Pura Mangkunegaran Surakarta

Merenungkan Sabda
Merenungkan bacaan dari Kisah Para Rasul 1:12-14 dan Lukas 1:26-38 Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak umat untuk meneladan Bunda Maria dalam memaknai tema Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkat.

Belajar dari Bunda Maria yang pada 7 Oktober diperingati sebagai Peringatan Bunda Maria Ratu Rosari. Pertama belajar nyawiji. Bunda Maria pribadi yang tekun dalam iman, harapan dan kasih kepada Tuhan. Hidupnya selalu ngênêr marang Pangeran (Terarah pada Tuhan), bahkan sejak dalam kandungan. Ia dikenal sebagai Ibu ingkang pinurba tanpa ciri (Ibu yang dikandung tanpa noda). Hatinya terarah pada Kristus dan pada Allah Bapa.

Bacaan pertama mengisahkan 11 para rasul dan perempuan-perempuan diantaranya Bunda Maria bersatu sehati sejiwa, tekun dalam doa. Ini menggambarkan hati yang nyawiji, semua hanya ingin melaksanakan kehendak Allah dengan kesunguhan (satuhu).

Nyawiji dalam gerak bersama, gegancangan, bergandengan tangan, dengan semangat sinodalitas seperti ungkapan Paus Fransiskus, menuju tempat yang sama Kristus Sang Sumber Keselamatan.

Seperti butir-butir rosario jika dirangkai akan menjadi indah. Terangkai satu sama lain saling menguatkan dalam iman, harapan dan kasih di tingkat paroki, kevikepan, keuskupan dan Gereja universal.

Kedua mawutuh terlibat penuh. Seperti Bunda Maria ‘Aku iki abdining Allah sendika ing Dawuh Dalem’ (Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu). Komitemen untuk melaksanakan dalam hidup keseharian. Bunda Maria merawat Yesus sampai akhir kendati tidak mudah, penuh perjuangan menghadapi tantangan dan tidak mudah lelah. Sembada, menjalani bersama saudara-saudara lain. Meneladan Bunda Maria kita tidak berhenti pada pembabtisan namun berkomunikasi secara terus menerus bersama Tuhan dalam kebersamaan.

Tidak kurang dari 3.000 umat Kevikepan Surakarta memenuhi Pendhapi Pura Mangkunegaran mengikuti Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta

“Hari ini saya bangga merayakan kebersamaan bersama anak-anak sekolah, OMK, orang dewasa dan lansia dalam perayaan yang indah di Pura Mangkunegaran. Secara bersama melibatkan diri untuk pasamuan suci, menghadirkan Kerajaan Allah”, ungkap Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Persembahan dalam Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta

Ketiga andum berkah. Bunda Maria setelah menerima kabar suka cita tidak tinggal di rumah namun bangkit, gegancangan, mengunjungi Elisabet saudaranya untuk mewartakan kabar suka cita.

Hari ini di pendapa ini (Pura Mangkunegaran) kita ingin memancarkan, membagikan, berkah pada orang lain. Harapan saya setelah perayaan yang megah dan meriah ini andum berkah jangan berhenti. Harus di “sumulurke” diteruskan pada orang lain, pada umat dan masyarakat”, ajak Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Penerimaan komuni dalam Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta

Perayaan Ekaristi usai liturgi sabda dilanjutkan Doa Syukur Agung dan penerimaan komuni.

Akhir perayaan Misa, ketua penyelenggara HUT Ke-60 Kevikepan Surakarta Yustinus Gabriel Rosanto Adi dalam sambutan mengungkapkan Perayaan Ekaristi selain sebagai ungkapan syukur juga untuk mengenang perayaan Ekaristi yang pernah diselenggarakan di Pura Mangkunegaran beberapa puluh tahun lalu.

Yustinus Gabriel Rosanto Adi ketua penyelenggara Perayaan Ekaristi 60 Tahun Kevikepan Surakarta saat menghaturkan ucapan terima kasih dan sambutan

Momentum ini mengingatkan Katolik adalah kasih yang saling menolong saling mengasihi saling memahami saling menghormati satu sama lain. Selain itu juga menghormati adat istiadat serta warisan budaya luhur.

Satuhu ing pangajeng-ajeng
Setia dalam pengharapan dalam balutan budaya, sinodalitas, persaudaraan dan kebersamaan untuk andum berkah menjadi apresiasi yang diungkapkan GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura). Perayaan di Pura Mangkunegaran yang indah dan sangat berarti kedepannya dapat lebih mengeratkan persaudaraan dan kebersamaan.

Sementara Ni Seruni Widaningrum dalang wanita, akademisi seni, yang ikut terlibat dalam musik gamelan pengiring liturgi perayaan mengungkapkan inkulturasi budaya dalam iman Katolik senantiasa perlu diteruskan.

Bruder FX Sugi, FIC saat mengungkapkan harapan untuk pewarisan iman dan budaya bagi kaum muda

Pangajeng-ajeng atau harapan ke depan dalam pendampingan generasi muda, menurut Bruder FX Sugi, FIC dari Yayasan Pangudi Luhur perlu terus disemaikan dan ditumbuhkan bagi kaum muda agar selain berkembang imannya juga berkembang budayanya.

Sementara itu dalam hidup beriman, secara eskatologis harapan umat beriman di Kevikepan Surakarta dan Keuskupan Agung Semarang (KAS) terungkap dalam ungkapan akhir homili Mgr. Robertus Rubiatmoko : “Mugi-mugi Ibu Maria tansah ngamping-ampingi dumugi pungkasaning urip.”

“Semoga Bunda Maria senantiasa membimbing dan mendampingi hingga akhir hidup”

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat memberikan sambutan

Apresiasi dari Pemkot Kota Surakarta
Wakil Wali Kota Surakarta dalam Perayaan 60 tahun Kevikepan Surakarta berkenan hadir dan memberikan sambutan. Astrid Widayani mewakili Pemkot Kota Surakarta memberikan apresiasi terselenggaranya perayaan dan memberikan ucapan selamat atas ulang tahun Kevikepan Surakarta ke- 60.
Tema yang diangkat dalam perayaan nyawiji, mawutuh dan andum berkah tidak hanya bermanfaat bagi umat namun juga bagi masyarakat Surakarta. Nyawiji mengajarkan menyatu. Bukan untuk menjadi sama namun berjalan bersama dalam keberagaman. Surakarta memiliki warga yang berbeda dalam tradisi dan keyakinan namun harus memiliki ruang yang sama untuk saling menghormati, menjaga dan bekerja sama.

Mawutuh. Kebersamaan tidak sekadar berkumpul namun dapat membangun kebersamaan untuk saling memiliki, melengkapi dan saling menguatkan dalam rumah bersama di Surakarta.

Andum berkah. Apa yang kita miliki tidak untuk diri sendiri, namun dibagikan untuk memberi manfaat bersama bagi sesama, bagi orang lain.

Pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi
Pura Mangkunegaran Surakarta telah bertransformasi menjadi pusat kebudayaan kontemporer yang aktif menggerakkan dan memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Di bawah kepemimpinan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, kawasan Pura Mangkunegaran (khususnya area Pamedan) rutin menjadi ruang kolaborasi antara pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi rakyat.

Pagelaran Konser Teatrikal Kawula Satuhu

Terpadu dalam perayaan 60 tahun Kevikepan Surakarta momentum yang bermakna di Pamedan Pura Mangkunegaran adalah digelarnya Konser Teatrikal Kawula Satuhu dan stan tenant UMKM umat dari paroki-paroki dan masyarakat umum yang ikut dalam perayaan ulang tahun kevikepan. Pelayanan kesehatan bagi umat dan pengunjung juga dipersiapkan untuk memberikan pelayanan cek kesehatan dari Rumah Sakit Mardi Lestari Sragen dan Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta.

Pelayanan kesehatan dari RS Brayat Minulya Surakarta dalam pagelaran Perayaan Syukur 60 Tahun Kevikepan Surakarta di Pamedan Pura Mangkunegaran

Konser Teatrikal Kawula Satuhu menggambarkan kesetiaan umat di paroki paroki yang memelihara benih iman melalui perjuangan yang tidak mudah dalam perjalanan 60 tahun Kevikepan Surakarta.

Berbagai tenant UMKM dalam Perayaan 60 Tahun Kevikepan Surakarta

Kondisi alam, medan hidup dan tantangan akan pengetahuan iman, penghayatan iman dan perwujudan iman harus dihadapi umat. Perkembangan jumlah umat dan bertumbuhnya paroki ditampilkan dengan sangat baik dalam teatrikal dan visualisasi grafis dalam tayangan screen lebar.

Perjalanan iman dalam refleksi “Kawula Satuhu” akhir pagelaran mengajak umat untuk tetap menjaga benih iman dalam kesetiaan seperti teladan Bunda Maria yang setia pada iman. Umat tetaplah “Ndherek Dewi Maria” seperti lantunan Ria A. Riyanto dalam konser.

Pertunjukan akbar yang disajikan Konser Teatrikal Kawula Satuhu tidak membuat penonton beranjak dari tempat duduk dari awal sampai akhir, karena tontonan yang membuat suka cita dan tuntunan yang mendalam.

Melaui detail narasi, dialog, lagu-lagu, iringan musik, tata lampu, tata panggung dan properti panggung lainnya serta para seniman dan pemain yang tampil menjadikan Konser Teatrikal Kawula Satuhu sangat menyentuh hati dan menjadikan tontonan yang reflektif serta mendekatkan suka cita kegembiraan. Hal ini meneguhkan kolaborasi penulis naskah, penata laku, penata musik, bintang tamu, pengisi acara, pemain, dan audien yang mengikuti perjalanan konser teatrikal Kawula Satuhu.

Performance Pra Misa

Rangkaian acara perayaan, sebelum Perayaan Ekaristi digelar pentas seni Pra Misa yang menghadirkan performance dari berbagai komunitas menampilkan Musik Rangkas, Angklung, Gerak dan Lagu serta Saloka. Performance Caos Dhahar di panggung perayaan usai Misa. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.