Kediri, Katolikana.com—Sebanyak 370 peserta mengikuti perjalanan ziarah dari Gereja Vincentius a Paulo Kediri menuju Gua Maria Puhsarang dilanjutkan dengan misa konselebrasi yang dipimpin oleh Romo Christophorus Tri Kuncoro Yekti Pr, didampingi Romo Yuventius Devi Ghawa Pr dan Romo Stephanus Hari Suparwito SJ (Moderator Komunitas Mlampah Ziarah).
Misa sore itu dipersembahkan sebagai penutup dari kegiatan mlampah ziarah Chapter Surabaya-Sidoarjo.
“Mengikut Tuhan itu bukan hanya perkara batin, intelektual saja. Tetapi harus sampai menanggapi rahmat Tuhan, harus mengerahkan secara fisik. Tubuh, materialnya harus diarahkan untuk menanggapi sabda Tuhan,” pesan Romo Christophorus Tri Kuncoro Yekti Pr, yang akrab disapa Romo Cuncun, dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Minggu (11/10/26) di Gua Maria Puhsarang, Kediri.
Mlampah Ziarah Gereja Puhsarang
Perjalanan ziarah dimulai pukul 05:00 WIB yang dilepas oleh Romo Karel Nuki Prayogi Pr (Romo Paroki) didampingi Romo Cuncun melepas peserta dari halaman Gereja Santo Vincentius a Paulo Kediri.
Tampak di antara peserta, Romo Stephanus Hari Suparwito SJ, Romo Yuventius Devi Ghawa Pr, Romo Gabriel Galileo Pr, Romo Vincentius Agsuko Wiguna Pr, Romo Robertus Theo Elno Respati Pr, dan Suster Agustin da Gomez CB.
Setelah sekitar dua kilometer menyusur jalanan kota, peserta mulai diarahkan memasuki dusun Sumberbentis untuk menuju Selo Memean dan Puncak Selo Gajah yang berada di perbukitan Gunung Batok.
Dalam helatan ini, peserta yang rata-rata berasal dari luar Kediri mengaku sangat terbantu dengan partisipasi sejumlah relawan lokal yang bertindak sebagai penunjuk rute perjalanan.

Kolaborasi Partisipatif
Romo Cuncun mengapresiasi kolaborasi yang dibangun oleh penyelenggara sehingga kegiatan mlampah ziarah juga dapat dirasakan atau menyentuh banyak pihak.
“Dan kiranya di zaman sekarang ini memenuhi undangan (Matius 22:1-14, red.), menerima rahmat dan kemurahan dari Tuhan itu tidak bisa dilaksanakan sendirian, mesti ada kerja sama, kolaborasi, kooperasi dengan pihak-pihak yang ada di sekitar kita,” lanjut romo yang akrab disapa Romo Cuncun.
Apresiasi Romo Cuncun bukan tanpa alasan. Demi mendukung kenyamanan dan keamanan peziarah, penyelenggara mlampah ziarah Gereja Vincentius-Gua Maria Puhsarang berkolaborasi dengan komunitas lain. Antara lain, komunitas motor trail untuk evakuasi jalur hutan dan pegunungan, tim medis, serta tim relawan yang terlatih dalam menyediakan pengamanan fisik, pemandu rute, motoris, hingga fisioterapis.
Di samping itu, OMK Gereja St Vincentius dan OMK stasi Gereja Puhsarang juga digerakkan dalam pelaksanaan. Termasuk di dalamnya ibu-ibu dengan UMKM-nya.
Kolaborasi menjadi penting, mengingat perjalanan sejauh 22 kilometer ini melewati jalanan perkampungan, persawahan luas, hutan pegunungan, jalan makadam, melintasi bekas area Kediri Waterpark, dan jalan raya—dengan elevasi tertinggi pada 183 meter di kilometer 16,69. Rata-rata perjalanan ditempuh antara 6-8 jam.
Antisipasi Tim Medis
Banyak di antara peserta yang baru pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini, berasal dari beragam usia dan berbagai daerah di Indonesia.
“Kaki saya keduanya kram berat. Saya sempat dievakuasi pakai motor trail sampai Kediri Waterpark. Ketika kram terasa berkurang, saya pikir masih bisa melanjutkan jalan. Tetapi, baru sekitar 100 meter kaki tidak bisa ditekuk sehingga harus dievakuasi memakai ambulans sampai ke Puhsarang,” ungkap Rena, peserta dari Banjar.
Wanita paruh baya ini merasa sangat terbantu dengan respons cepat tim relawan dan tim medis. “Penyelenggaranya keren dan sangat solid, semua sudah diantisipasi dan diperhatikan,” pujinya.
Ketahanan fisik, sebagaimana pesan Romo Cuncun, pada akhirnya memang harus dipersiapkan dengan prima untuk menanggapi sabda Tuhan. Selain menghadapi ragam jalanan, peserta juga dihadapkan pada cuaca panas dengan suhu berkisar antara 31-36 derajat Celcius. Beruntunglah, penyelenggara telah mengantisipasinya dengan menyediakan pasokan air minum dan logistik yang berlimpah di banyak titik—termasuk menyiapkan ketersediaan air bersih di tempat rehat peserta.

90 Tahun Gereja Puhsarang
Kegiatan mlampah ziarah ini juga bertepatan dengan 90 tahun kehadiran Gereja Puhsarang yang diinisiasi oleh Romo Jan Wolters CM. Peletakan batu pertama dilakukan pada 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Theophile de Backere CM.
Selama sembilan dekade itu pula, Puhsarang menjadi saksi perjalanan iman dari umat dalam mengalami kasih Tuhan. Bahkan, kehadirannya pun telah menyatu dengan nadi kehidupan masyarakat lokal yang membuka berbagai usaha UMKM di sekitarnya.
Dengan luas area sekitar 6,5 hektare, kawasan Puhsarang menjadi kompleks peziarahan Katolik terbesar di Indonesia. Gua Maria mulai dibangun 11 Oktober 1998 dan diberkati pada 26 Desember 1999 oleh Uskup Surabaya kala itu, Mgr. Yohanes Hadiwikarta.
Patung Maria setinggi kurang lebih 4 meter ditahtakan dalam gua yang tingginya mencapai sekitar 18 meter. Selain Gereja dan Gua Maria, di tempat ini juga terdapat Jalan Salib, Columbarium Pieta, Mausoleum Pieta, Pondok Rosario, dan Pendapa Emaus.
Selanjutnya, pada 8 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Noda, Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, menaikkan status Puhsarang dari tempat peziarahan menjadi santuarium tingkat diosesan—Santuarium Santa Maria Imakulata Puhsarang. Dalam tradisi Gereja Katolik, santuarium (sanctuarium) merupakan tempat ziarah, tempat suci, dan tempat doa sepanjang zaman.
Di penghujung misa, Romo Cuncun mengajak peserta untuk mengabarkan suka cita dalam perjumpaan di peziarahan ini agar semakin banyak umat Katolik berkunjung ke Puhsarang. “Kita berharap terus diberi karunia kesehatan sehingga tahun depan kita bisa datang lagi, mlampah ziarah lagi, menangkap kerabat keluarga dan handai taulan supaya peserta bisa lebih banyak lagi.” (*)

Penulis tinggal di Paroki Santa Maria Regina, Tangerang Selatan.
Sedikit koreksi :
Romo Karel Nuki Prayogo, CM. Bukan romo projo.