Katolikana.com—Frater Leonardus Noprianto Waku adalah seorang calon imam Keuskupan Labuan Bajo yang pendiam dan rendah hati. Dalam kebersamaan, Frater Leo tidak banyak berbicara. Ia lebih sering menebarkan senyumnya yang khas, senyum yang kami kenang begitu tulus.
Dalam perjalanan formasi menuju imamat, ia menunjukkan kesetiaan dan kesungguhan mengikuti ritme pendidikan. Kepada teman-teman sepanggilan, ia pernah menyampaikan bahwa dirinya tidak tahu ke mana lagi harus mencari tujuan hidup selain memperjuangkan panggilan menjadi imam. Ia ingin menjalani pilihan itu dengan tulus dan setia.
Harapan tersebut ditekuninya sejak berada di bangku Seminari Menengah Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Pada akhir pendidikan di sana, ia memutuskan melanjutkan panggilannya sebagai calon imam Keuskupan Labuan Bajo.
Namun, di tengah perjuangan menuju cita-cita itu, Leo harus pulang lebih dahulu.
Ketika gempa melanda Flores pada 15 Agustus 2026, dalam keadaan panik dan cemas, Frater Leo melompat dari lantai tiga ke lantai satu. Ia mengalami luka berat dan berjuang mempertahankan hidup. Namun, pada 18 Agustus, setelah melewati hari-hari perjuangannya, ia meninggal dunia.
Peristiwa itu berlangsung begitu cepat. Kami sulit meyakini, bahkan sulit menerima, bahwa sahabat dengan senyum yang begitu khas itu telah pergi. Seorang teman yang tidak banyak bicara kini harus kami relakan untuk selama-lamanya.
Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus mengajak kami kembali ke dalam diri masing-masing. Kami merenungkan perjalanan panggilan yang sedang kami jalani: bagaimana kami mempersiapkan diri menjadi imam dan apa yang Tuhan kehendaki dari hidup kami.
Dalam kehilangan ini, kami tidak ingin jatuh dalam penghakiman. Kami tidak dapat begitu saja menyalahkan seseorang atau pihak tertentu. Kami pun tidak berhak menyebut peristiwa ini sebagai hukuman Allah, apalagi menilai bahwa cara hidup Frater Leo tidak berkenan di hadapan-Nya.
Kami berusaha menerima kenyataan ini, meskipun tidak seluruhnya dapat kami pahami. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Kami yang pernah berjalan bersama Leo kini harus melanjutkan perjalanan dengan membawa kehilangan.
Sebab, kehilangan seorang sahabat juga berarti menjalani hari-hari bersama kenangan tentangnya. Orangnya telah pergi, tetapi ingatan tentang dirinya tetap tinggal.

Gempa bumi pun tidak ingin terus kami tempatkan sebagai sasaran kemarahan karena telah merenggut sahabat yang kami cintai. Gempa merupakan peristiwa alam yang dapat terjadi di bumi tempat kita berpijak. Namun, memahami kenyataan itu tidak serta-merta membuat kesedihan kami berkurang.
Alam menghadirkan banyak pengalaman dalam kehidupan manusia. Ada yang membawa kegembiraan, ada pula yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Gempa kali ini meninggalkan pengalaman yang sangat menyakitkan: kami harus merelakan seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan panggilan kami.
Peristiwa ini menyadarkan kami akan kerapuhan hidup. Segala yang kami miliki di dunia tidak bersifat kekal. Bahkan kebersamaan yang terasa begitu dekat pun dapat berakhir ketika kami belum siap melepaskannya.
Di tengah kesedihan, kami juga bergumul dengan pertanyaan tentang Tuhan.
Di manakah Tuhan ketika gempa itu terjadi? Mengapa Ia tidak melindungi Frater Leo, yang dengan sungguh-sungguh ingin menyerahkan hidup untuk menjadi imam-Nya? Adilkah kenyataan ini?
Pertanyaan itu kadang muncul bersama kepedihan. Bahkan, sempat terlintas pertanyaan apakah ada sesuatu dalam hidup Leo yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.
Namun, kami menyadari bahwa pertanyaan yang lahir dari duka tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi hidup seseorang. Kami tidak mengetahui seluruh misteri kehidupan dan kematian. Karena itu, kebingungan tersebut kami bawa dalam doa, bersama kerinduan dan kasih kami kepadanya.

Pada hari-hari setelah kepergiannya, kami menyempatkan waktu untuk berdoa bagi keselamatan jiwanya. Dalam doa-doa itu tersimpan kerinduan kepada sahabat kami, Frater Leo. Kami memohon agar Tuhan menerima dirinya dalam kasih dan menganugerahkan kedamaian kekal kepadanya.
Kami juga berharap, dalam persekutuan kasih Tuhan, ia turut mendoakan kami yang masih berziarah di dunia.
Kami percaya bahwa dalam doa-doa itu ada kasih yang tulus. Doa menjadi tempat kami mengungkapkan cinta yang tidak dapat lagi disampaikan melalui perjumpaan. Di hadapan Tuhan, kami membawa kerapuhan, kesedihan, dan ketidakmampuan kami memahami semua yang telah terjadi.
Waktu terus berjalan. Nama Frater Leo tetap kami selipkan dalam doa. Perlahan, kami belajar bahwa kepergiannya dapat menjadi kesempatan untuk membenahi diri, meskipun kesedihan belum sepenuhnya reda.
Ada dua hal yang kami renungkan.
Pertama, segala yang kita miliki di dunia tidak bersifat kekal. Hidup, cita-cita, dan kebersamaan memiliki batas yang tidak selalu kita ketahui. Kepergian Leo membuat kenyataan itu terasa begitu dekat. Kami pun diajak lebih sungguh-sungguh menjalani waktu dan panggilan yang masih dipercayakan kepada kami.
Kedua, dalam iman, kami tetap berharap bahwa Tuhan menyertai manusia di tengah kesulitan. Penyertaan itu tidak selalu dapat kami pahami, terutama ketika kehilangan terasa begitu berat. Namun, kami ingin terus mempercayakan Leo kepada kasih-Nya, sekaligus memohon kekuatan untuk melanjutkan perjalanan kami sendiri.
Pengharapan itulah yang perlahan membantu kami menerima kenyataan ini.
Kehilangan seorang sahabat bukan perkara sederhana. Kadang kepedihannya membuat kami larut dalam kesedihan atau tergoda mencari pihak yang dapat disalahkan. Namun, melalui doa yang terus kami panjatkan, kami belajar menyerahkan apa yang berada di luar kemampuan kami.
Kami ingin mengenang Leo dengan kasih, tanpa menjadikan kematiannya sebagai ukuran kemurahan atau kemarahan Tuhan. Kami percaya bahwa ia tetap berada dalam jangkauan cinta-Nya.
Perjalanan Leo menuju imamat di dunia memang telah berakhir. Ia belum sampai pada tahbisan yang dicita-citakannya. Namun, ketulusan dan kesetiaannya menjalani panggilan tetap menjadi bagian berharga dari kenangan kami.
Untukmu, sahabat kami, Frater Leonardus Noprianto Waku, yang pulang lebih dahulu bersama getaran Flores: doa kami senantiasa mengiringimu menuju rumah Bapa.
Terima kasih atas kebersamaan, ketulusan, dan senyum yang pernah kaubagikan kepada kami. Kami akan terus mengenangmu dalam perjalanan panggilan ini.
Semoga engkau beristirahat dalam damai bersama Tuhan. Dalam pengharapan akan persekutuan para kudus, doakanlah kami yang masih berjuang menapaki jalan panggilan. Amin. (*)
Penulis: Arnoldus Erlan Oto, Frater Projo Keuskupan Labuan Bajo, sedang mengikuti formasi di Ritapiret.
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.