Pertemuan Rosario OMK di Tiga Dolok Ajak Orang Muda Meneladani Bunda Maria

0 15

Katolikana.com — Sebanyak 34 Orang Muda Katolik (OMK) mengikuti Pertemuan Doa Rosario Serayon Paroki Santo Antonius Padua Tiga Dolok di Gereja Stasi Santo Fransiskus Negeri Asih, Sabtu (10/10/2026).

Stasi St Fransiskus Asisi Negeri Asih merupakan bagian dari Paroki St Antonius Padua Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Dalam refleksi singkatnya, Frater Ludovikus, OFMConv mengajak OMK memperkuat kehidupan rohani melalui doa dan keterlibatan dalam kegiatan Gereja. Ia menekankan tiga sikap Bunda Maria yang dapat diteladani orang muda, yakni setia, taat, dan mendengarkan Sabda Allah.

Melalui ketiga sikap tersebut, OMK diajak tidak hanya tekun berdoa, tetapi juga mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari. Pertemuan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan di antara orang muda.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Oktober, yang dikenal dalam tradisi Gereja Katolik sebagai Bulan Rosario. Devosi ini mengajak umat merenungkan kehidupan Yesus bersama Bunda Maria.

Sejarah Rosario yang Berkembang Bertahap

Doa Rosario berkembang secara bertahap melalui tradisi doa umat Kristen pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, para biarawan terbiasa mendaraskan 150 Mazmur. Umat yang belum dapat membaca atau tidak mengenal bahasa Latin menggunakan doa sederhana, seperti Bapa Kami, dalam kehidupan rohani mereka.

Untuk menghitung doa, sebagian umat menggunakan tali atau rangkaian biji-bijian. Seiring waktu, doa Salam Maria dipadukan dengan permenungan tentang kehidupan Yesus dan Bunda Maria. Perkembangan tersebut turut membentuk tradisi Rosario.

Santo Dominikus sering dikaitkan dengan penyebaran Rosario. Namun, bukti sejarah belum cukup kuat untuk memastikan bahwa ia menciptakan bentuk Rosario sebagaimana dikenal sekarang. Pada abad ke-15, Beato Alanus de la Roche turut berperan dalam menyebarluaskan devosi ini.

Orang Muda Katolik (OMK) Rayon Paroki Santo Antonius Padua Tiga Dolok.

Mengapa Oktober Menjadi Bulan Rosario?

Tradisi Bulan Rosario berkaitan dengan Pertempuran Lepanto pada 7 Oktober 1571. Saat itu, armada Liga Suci yang terdiri atas sejumlah kekuatan Kristen Eropa bertempur melawan armada Kesultanan Utsmaniyah di dekat pesisir Yunani.

Menjelang pertempuran, Paus Santo Pius V mengajak umat berdoa Rosario untuk memohon pertolongan Allah melalui perantaraan Bunda Maria. Setelah kemenangan Liga Suci, umat Katolik mengenang peristiwa tersebut dalam kaitannya dengan doa dan perlindungan Maria.

Paus Pius V kemudian menetapkan peringatan Santa Maria dari Kemenangan. Pada 1573, Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi peringatan yang dikaitkan dengan gelar Bunda Maria dari Rosario.

Beberapa abad kemudian, Paus Leo XIII semakin mendorong devosi Rosario pada Oktober melalui ensiklik Supremi Apostolatus Officio, tertanggal 1 September 1883. Tradisi Oktober sebagai Bulan Rosario pun semakin menguat.

Meski demikian, Rosario dapat didoakan sepanjang tahun sebagai sarana merenungkan kehidupan Kristus bersama Bunda Maria.

Rosario Berpusat pada Kristus

Penyebutan Oktober sebagai Bulan Rosario tidak menggeser kedudukan Yesus sebagai pusat iman Katolik. Melalui Rosario, umat justru diajak merenungkan kehidupan dan karya keselamatan Kristus bersama Maria.

Dalam surat apostolik Rosarium Virginis Mariae (2002), Santo Yohanes Paulus II menegaskan sifat Rosario yang berpusat pada Kristus. Maria membantu umat semakin mengenal dan mengasihi Putranya.

Rosario memiliki empat kelompok peristiwa, yakni Peristiwa Gembira, Terang, Sedih, dan Mulia. Seluruhnya mencakup 20 misteri yang mengajak umat merenungkan karya keselamatan Allah: dari penjelmaan Yesus menjadi manusia, pelayanan-Nya, penderitaan dan wafat-Nya, hingga kebangkitan serta kemuliaan-Nya. Permenungan itu juga mencakup peran Maria dalam karya keselamatan.

Peristiwa Terang ditambahkan oleh Santo Yohanes Paulus II pada 2002 untuk memperkaya permenungan tentang kehidupan dan pelayanan Yesus.

Karena itu, Rosario perlu didaraskan dengan permenungan. Pengulangan doa membantu umat memusatkan hati pada misteri iman dan semakin mengenal kasih Kristus.

Menghormati Maria, Menyembah Allah

Doa Salam Maria yang didaraskan berulang kali terkadang menimbulkan pertanyaan tentang kedudukan Maria dalam iman Katolik.

Gereja membedakan penyembahan kepada Allah dan penghormatan kepada Maria. Penyembahan hanya ditujukan kepada Allah Tritunggal. Maria menerima penghormatan khusus karena perannya sebagai Bunda Yesus dan teladan iman.

Katekismus Gereja Katolik nomor 971 menegaskan bahwa penghormatan kepada Maria berbeda secara mendasar dari penyembahan kepada Allah. Penghormatan tersebut tidak menggantikan kedudukan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara keselamatan.

Sebagaimana umat meminta sesama orang beriman untuk mendoakan mereka, umat Katolik juga memohon perantaraan doa Maria. Melalui Rosario, umat belajar dari iman dan ketaatan Maria untuk semakin dekat kepada Kristus.

Tiga Teladan Maria bagi Orang Muda

Ajakan Frater Ludovikus untuk meneladani kesetiaan, ketaatan, dan kesediaan Maria mendengarkan Sabda Allah memiliki kaitan erat dengan kehidupan orang muda.

Kesetiaan dapat diwujudkan melalui ketekunan berdoa dan keterlibatan dalam kehidupan Gereja. Ketaatan tampak dalam kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian memilih yang benar. Sementara itu, mendengarkan Sabda Allah berarti menyediakan waktu untuk membaca Kitab Suci, merenungkannya, dan menerapkan pesannya.

Ketiga sikap tersebut membantu OMK bertumbuh dalam iman dan menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai Injil. Doa bersama pun dapat menumbuhkan kepedulian, mempererat persaudaraan, dan mendorong pelayanan kepada sesama.

Melalui pertemuan Rosario ini, OMK diajak membawa buah doa ke dalam kehidupan sehari-hari: menjadi pribadi yang semakin rendah hati, penuh kasih, dan setia mengikuti Yesus. Bersama Maria, orang muda belajar berjalan menuju Kristus. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.