Hak untuk Tidak Memiliki Apa Pun: Drama Santa Klara Akhiri Pementasan di Singapura pada Hari Pengentasan Kemiskinan
Pementasan TO GAZE: St Clare of Assisi mengajak penonton mempertanyakan mengapa kemiskinan dapat disebut sebagai hak istimewa.

0 23

Singapura, Katolikana.com—Drama tentang Santa Klara dari Assisi, TO GAZE: St Clare of Assisi, akan mengakhiri pementasannya di Singapura pada Sabtu (17/10/2026), bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pengentasan Kemiskinan yang diperingati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kaitan dengan tanggal tersebut disampaikan oleh penyelenggara. Ketika ditanya apa yang mereka harapkan dibawa pulang oleh penonton, seorang penyelenggara dari CANA, salah satu dari dua kelompok yang mempersembahkan drama ini, justru mengajukan pertanyaan: “Mengapa kemiskinan merupakan sebuah hak istimewa?”

Merujuk pada peringatan 17 Oktober, ia melanjutkan, “Lalu, mengapa perempuan ‘gila’ bernama Klara ini begitu teguh menjalaninya?”

Penyelenggara tersebut meminta namanya tidak disebutkan.

Poster resmi “TO GAZE: St Clare of Assisi”, yang dipersembahkan oleh CANA dan Saint Max dalam rangka Tahun Yubileum Santo Fransiskus, dengan Sharda Harrison sebagai Santa Klara dan Fra Rowland Yeo OFM sebagai Santo Fransiskus. (Atas izin CANA dan Saint Max)

Bagian dari Yubileum Santo Fransiskus

Drama ini mulai dipentaskan pada Jumat (16/10/2026) di Gereja St Mary of the Angels, Bukit Batok, sebuah paroki yang dilayani para biarawan Fransiskan.

Dipersembahkan oleh CANA dan Saint Max, pementasan ini merupakan salah satu kegiatan dalam Tahun Yubileum Santo Fransiskus, yang memperingati 800 tahun wafatnya sang santo pada 1226. Menurut poster acara, seluruh hasil pementasan disalurkan kepada kantor pengembangan (development office) para biarawan Fransiskan.

Naskah drama ditulis oleh Sharda Harrison, yang juga memerankan Klara. Menurut penyelenggara, Harrison sekaligus menyutradarai pementasan ini. Pada 2024, ia menulis, menyutradarai, dan membintangi St Thérèse: The Little Way untuk penyelenggara yang sama.

Sementara itu, Santo Fransiskus diperankan oleh Fra Rowland Yeo OFM, seorang biarawan Fransiskan.

Dari Segalanya Menuju Ketiadaan

Pertanyaan tentang kemiskinan dibangun sejak adegan-adegan awal, yang memperlihatkan kehidupan Klara dalam kelimpahan.

“Kami punya uang, kami punya pelayan … kami punya kuda,” ujar Klara kepada penonton ketika mengenang masa kecilnya di Assisi. Dalam penuturannya di panggung, ia menyebut dirinya lahir di kota itu pada 1194.

“Kadang-kadang, kita bisa memiliki segalanya dan tetap merasa terkurung.”

Klara juga mengenang ibunya, Ortolana. “Ibuku melihat Allah di mana-mana, terutama dalam diri orang miskin,” tuturnya. “Mereka tidak tersembunyi seperti sekarang. Orang miskin ada di mana-mana.”

Setelah mendengarkan Fransiskus, putra saudagar yang menukar pakaian mewahnya dengan pakaian compang-camping, Klara mengambil keputusan.

“Aku sadar bahwa aku memiliki segalanya, tetapi aku tidak menginginkan satu pun darinya.”

Ia meninggalkan rumah pada suatu malam Minggu Palma dan menjalani pemotongan rambut. Belakangan, ia berkata kepada ayahnya, “Sekarang aku menjadi milik Kristus, Ayah.”

Setelah Klara menetap di San Damiano bersama para saudarinya, drama menggambarkan tuntutan kaul kemiskinan melalui kerja tangan, puasa, dan tidur di lantai. Klara mengenang bagaimana Fransiskus sampai harus memintanya makan.

“Klara, tolong makanlah, makanlah walau hanya sedikit roti sehari.”

Hak untuk Tidak Memiliki Apa Pun

Tema kemiskinan kembali mengemuka menjelang akhir pementasan. Klara mengajak penonton membayangkan hidup tanpa kepemilikan.

“Bayangkan kalian tidak punya apa-apa — tidak punya uang, tidak punya suami, tidak punya istri, tidak punya harta, tidak punya alas kaki.”

“Inilah artinya menjalani hak istimewa kemiskinan,” katanya, “diberi hak untuk tidak memiliki apa pun.”

Ia mengenang penolakan terhadap gagasan tersebut. “Dunia tidak memahaminya. Bahkan Gereja pun tidak.”

Dalam drama ini, Klara menanggapinya dengan menulis sendiri aturan hidup bagi komunitasnya.

“Bukan aturan yang ditulis orang lain untuk kami, bukan aturan yang ditulis Fransiskus untuk kami. Aturan kami sendiri.”

Humor dan Keterlibatan Penonton

Pementasan selama dua malam ini juga menghadirkan humor. Prospek perjodohan Klara ditampilkan melalui parodi aplikasi kencan. Para calon pelamar muncul di layar, sementara penonton diminta memilih dengan menggeser ke kanan (swipe right) atau ke kiri (swipe left).

Dalam adegan berikutnya, Klara memilih beberapa perempuan dari antara penonton dan menerima mereka ke dalam komunitasnya, “Para Perempuan Miskin” (Poor Ladies). Para pemeran awam memainkan tokoh sahabat-sahabat Klara dan para biarawan Fransiskan awal.

Dalam sambutan pembuka, Fra Michael D’Cruz OFM, biarawan Fransiskan yang menjadi penanggung jawab acara dari pihak paroki, menekankan eratnya hubungan kisah Klara dan Fransiskus.

“Kita tidak bisa sungguh-sungguh menceritakan kisah yang satu tanpa yang lain,” ujarnya.

Penyelenggara menyebut pementasan ini sebagai cara menutup tahun Yubileum dengan “warisan berharga Santa Klara”.

Klara, yang wafat pada 1253, merangkum perjalanan hidupnya menjelang akhir pementasan.

“Aku harus belajar berkata ya — ya kepada Kristus, ya kepada kemiskinan.” (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.