Catatan Temu Darat Spesial PBMN di Sarangan: Ketika Suka dan Duka Menyatu dalam Paseduluran

Catatan Temu Darat Spesial PBMN di Sarangan: Ketika Suka dan Duka Menyatu dalam Paseduluran
Pada tanggal 17-18, Rumah Retret Domus Mariae yang terletak di kawasan sejuk Sarangan, Magetan, menjadi saksi bisu berkumpulnya kembali para sedulur yang memiliki jalinan sejarah serupa. Temu Darat Spesial PBMN—Paseduluran Brayat Minulya Nusantara—bukan sekadar deretan agenda pertemuan organisasi biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan jiwa dan sebentuk penegasan tali persaudaraan yang telah tertanam puluhan tahun silam.
Mungkin ada yang bertanya, apa itu PBMN? PBMN adalah sebuah ikatan paseduluran yang menghimpun para mantan bruder, pastor, frater, novis, maupun postulan MSF (Missionarii a Sacra Familia). Mereka adalah pribadi-pribadi yang pernah mematangkan diri dan meniti peziarahan hidup dalam tarekat MSF. Saat ini, dinamika karya mereka telah beragam; ada yang berkarya secara awam di tengah masyarakat, ada pula yang menjadi imam praja di keuskupan atau berinkardinasi dengan keuskupan setempat. Kendati jalan hidup yang ditempuh kini berbeda-beda, identitas dan ikatan batin sebagai satu keluarga besar MSF tetap mengakar kuat.
Secara administratif, terdaftar 136 peserta yang memadati kapasitas kamar di Rumah Retret Domus Mariae. Namun, dalam realitasnya, dinamika kehidupan selalu menyimpan kejutan. Beberapa sedulur terpaksa batal berangkat di detik-detik terakhir karena mendadak kurang sehat atau sedang dalam masa pemulihan. Ada pula kisah haru peserta yang sudah tiba di titik kumpul penginapan dan tinggal menunggu jam keberangkatan, namun terpaksa balik kanan karena mendapat kabar cucunya mendadak demam tinggi. Beberapa lainnya tak bisa hadir tanpa sempat berkabar. Meski demikian, ketidakhadiran fisik mereka tak mengurangi kehangatan yang terpancar sepanjang acara.
Kegembiraan Lintas Generasi dan Cairnya Komunikasi
Sukacita dalam temu darat ini terasa begitu istimewa karena sifatnya yang lintas angkatan. Rentang usia peserta membentang sangat jauh, mulai dari para senior berkepala tujuh (70-an tahun) hingga anak-anak muda yang baru menginjak usia dua puluhan. Jarak generasi yang mencapai setengah abad ini sama sekali tidak menjadi sekat. Sebaliknya, suasana paseduluran mendobrak segala kekakuan formalitas.
Para peserta datang menerjang jarak dari berbagai penjuru Nusantara—mulai dari Sumatra, Kalimantan, Papua, dan tentu saja populasi terbesar berasal dari Pulau Jawa. Dari Jawa sendiri, titik-titik keberangkatan tersebar dari ujung barat hingga timur: Jawa Barat, Jakarta, Depok, Bogor, Cirebon, Semarang, Salatiga, Solo, hingga Surabaya. Semua melebur jadi satu di lereng Gunung Lawu.
Acara yang dirancang panitia memang terbilang padat, namun tidak pernah mengabaikan esensi utamanya: membangun relasi personal yang tulus. Canda tawa, senda gurau, saling ledek, hingga nostalgi masa lalu saat masih berada di tempat pembinaan (formatio) mengalir begitu alami bersama obrolan mengenai kondisi terkini. Sangat wajar apabila jadwal acara tidak bisa sepenuhnya berjalan tepat waktu sesuai deretan menit di atas kertas. Suasana informal dan kerinduan untuk saling menyapa terbukti jauh lebih kuat daripada ketertiban agenda formal.
Bisa dibayangkan, puluhan tahun tidak saling sapa, lalu mendadak berjumpa dengan para sedulur yang beda usianya cukup jauh, namun bisa berkomunikasi dan gojekan (bercanda) dengan sangat cair. Ini adalah bentuk kebahagiaan yang sangat mendalam. Fenomena bullying atau ledekan antar-teman yang sering kali dianggap sensitif atau menjadi masalah di tempat lain, di sini justru hadir sebagai sarana dan solusi. Kelakar dan ledekan khas masa lalu justru menjadi jalan keluar paling ampuh untuk mencairkan kekakuan komunikasi serta menjembatani perbincangan lintas generasi.
Semarak Perjalanan hingga Kehangatan di Domus Mariae
Riuh rendah kebersamaan ini sebenarnya sudah membuncah sejak di perjalanan. Di dalam bus pariwisata yang membawa rombongan, para peserta yang hobi bernyanyi bergantian menguasai mikrofon karaoke untuk melantunkan lagu-lagu kenangan. Bagi yang tidak bernyanyi, ruang bus menjadi arena untuk saling bertukar kisah, mengabarkan berita keluarga, atau sekadar tertawa lepas bersama kawan seangkatan. Suasana begitu heboh dan meriah, tak peduli betapa tenangnya pemandangan alam di luar kaca bus.
Setibanya di lokasi, usai melewati sesi serius yang mendalami materi “Pengasuhan” sesuai dengan tema besar Amor Gignit Amorem (Cinta Melahirkan Cinta), dinamika acara tetap terjaga. Sesi pencerahan yang mendalam tersebut diselingi dengan pembagian berbagai hadiah kecil dari panitia yang menambah keceriaan.
Agenda berikutnya adalah pemilihan pengurus baru PBMN. Tanpa kendala berarti dan berlangsung secara musyawarah mufakat, terpilihlah ketua panitia temu darat yang sekaligus disepakati untuk mengemban amanat sebagai ketua pengurus periode mendatang.
Puncak kegembiraan malam itu memperoleh momentumnya saat acara api unggun. Rencana awal untuk menyalakan kembang api terpaksa dibatalkan karena tidak mengantongi izin dari pihak rumah retret demi menjaga ketenangan lingkungan sekitar. Namun, tanpa kembang api pun, suasana tidak kehilangan pijarnya. Semua peserta melebur dalam sukacita: bernyanyi, berjoget, dan berbincang hangat dalam lingkaran-lingkaran kecil. Ada yang merapat dengan kawan seangkatannya, ada yang mengobrol dengan kakak atau adik kelas yang dulu dekat, namun tidak sedikit pula yang menikmati perbincangan dengan angkatan yang sangat jauh—bahkan yang sebelumnya belum pernah saling kenal. Meski acara api unggun secara resmi ditutup tepat pukul 00.00 WIB, perbincangan informal di teras dan kamar-kamar masih terus bertahan hingga dini hari pukul 02.00.
Pagi harinya, selepas sarapan, banyak sedulur yang memanfaatkan waktu untuk menyegarkan pikiran ke Telaga Sarangan. Sambil membeli oleh-oleh khas pegunungan, perbincangan yang seolah tidak pernah ada habisnya itu kembali dilanjutkan. Waktu wisata ini memang cukup singkat, namun memberi ruang hiburan yang lebih personal. Beberapa sedulur bahkan mencoba memicu adrenalin dengan naik perahu motor mengelilingi telaga.
Penutupan yang Khidmat dan Perpisahan yang Mengharukan
Sukacita yang terbangun selama sehari semalam tersebut rencananya akan berpuncak dalam Perayaan Ekaristi bersama, yang juga dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi beberapa sedulur yang sedang kurang sehat. Namun, duka mendalam mendadak menyelinap tanpa disangka-sangka.
Sesaat sebelum lagu pembuka Ekaristi dilantunkan, sebuah kabar duka mengejutkan datang. Mas Singgih, seorang sedulur PBMN yang juga bertindak sebagai pengemudi (driver) bus pariwisata rombongan, dipanggil menghadap Sang Pencipta.
Rasa kaget yang luar biasa seketika menyelimuti seluruh ruangan. Beberapa sedulur terpaksa keluar-masuk kapel untuk melakukan koordinasi darurat: menghubungi keluarga almarhum, mengurus penanganan jenazah, serta berkomunikasi dengan pihak rumah retret terkait potensi kemoloran jadwal kepulangan.
Puji syukur, potensi kendala besar dapat teratasi dengan tenang dan penuh kebersamaan. Jadwal kepulangan rombongan tetap dapat berjalan relatif tepat waktu dengan sedikit penyesuaian. Ucapan terima kasih yang tulus patut ditujukan kepada Mas Benny, sedulur yang dengan rela dan sigap mengambil alih kemudi untuk mengantar rombongan pulang-pergi dengan sangat baik dan selamat.
Kendati demikian, perjalanan pulang mengalami perubahan suasana hingga 180 derajat. Suasana bus yang sehari sebelumnya penuh dengan gelak tawa dan nyanyian karaoke, berubah menjadi hening dan sendu. Seorang sedulur senior kemudian mengusulkan untuk mendoakan Rosario bersama di sepanjang jalan, mengiringi kepergian Mas Singgih yang juga sedang “pulang” ke Yogyakarta dengan cara dan dimensi yang berbeda.
Di pelataran Pos In, para sedulur PBMN akhirnya resmi berpisah dan berpencar menuju kota asal masing-masing. Tak sedikit sedulur yang memilih langsung mengubah rencana kepulangan mereka agar bisa singgah di Yogyakarta untuk melayat ke rumah duka almarhum Mas Singgih. Sebuah peristiwa tak terencana yang menguji sekaligus menegaskan betapa dalamnya rasa empati, soliditas, lan ikatan kasih dalam paseduluran sejati PBMN.
