Sarasehan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI): Mencintai Indonesia, Menjaga Keadaban Republik


Jakarta, Katolikana.com – “Negara Vatikan merupakan salah satu negara yang sejak awal mengakui kemerdekaan Indonesia, karena desakan dari Mgr. Soegijapranata melalui surat yang dikirimkan kepada Bapa Paus,” ungkap Kardinal Ignatius Suharyo saat menyampaikan keynote speech pada Sarasehan Nasional di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Menteng, Jakarta Pusat, 24 Oktober 2026 dengan tema “Mencintai Indonesia: Merawat Hikmat Kebijaksanaan, Menjaga Keadaban Republik”.

Serasehan yang dihadiri sekitar 100 orang baik peserta, tamu undangan dari beragam komunitas Katolik di Jakarta dan sekitarnya, yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2026 menghadirkan narasumber Yohanes Kurnianto Jeharut (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia), Purnomo Yusgiantoro (Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi), Syafiq A. Mughni (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), dan Alissa Wahid (Direktur Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia). Sarasehan diawali penyampaian visi besar tema oleh Kardinal Ignatius Suharyo (Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta).


Warisan berharga Gereja Katolik Indonesia
Kardinal Ignatius Suharyo menambahkan, Romo Van Lith gurunya Mgr. Soegijapranata, seorang Imam Yesuit dari Belanda yang berkarya di Muntilan, Jawa Tengah tahun 1897, pernah berkata bahwa semua orang tahu, kami para misionaris akan berdiri diantara yang dijajah dan menjajah. “Namun, jika ada konflik, kami akan berdiri di pihak pribumi. Kecintaan para tokoh Katolik awal inilah yang menjadi warisan berharga bagi gereja Katolik Indonesia untuk diteruskan oleh generasi sekarang,” ujar Kardinal Ignatius Suharyo.

Semangat ini tertuang dalam seruan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2026 yang menjelaskan tentang gereja yang berjalan bersama merawat keadaban publik dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan di Indonesia. Demikian Siaran Pers yang diterima Katolikana.com Senin (26/10/2026).

Berbagai pandangan narasumber

Dalam seminar narasumber menyampaikan berbagai pandangan berkaitan dengan tema yang diangkat.

Romo Yohanes Kurnianto Jeharut

Romo Yohanes Kurnianto Jeharut menjelaskan isi dari nota pastoral terdapat tiga bagian utama yaitu, pertama, ucapan syukur dan terima kasih atas karya agung Allah di tengah bangsa dan Gereja Indonesia. Kedua, memaparkan krisis multidimensi yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan bagian ketiga tentang berjalan bersama sebagai bangsa, merawat keadaban publik dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan.

“Krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia yaitu krisis nurani dan moral publik, kepemimpinan dan demokrasi, solidaritas dan kesatuan, ekonomi dan kebijakan, ekologi dan kemanusiaan, budaya dan identitas, serta generasi muda dan era digital. Kemudian, dengan metode see (menganalisis), judge (refleksi), dan act (aksi), menentukan arah pastoral berikutnya yaitu penguatan kohesi sosial dengan memperkuat modal sosial dengan menciptakan ruang pertemuan lintas iman, budaya, dan sosial, membuat protokol safeguarding bagi anak dan orang dewasa, menginisiasi sekretariat Papua sebagai pusat penanganan krisis, serta reformasi pelayanan publik seperti sekolah dan rumah sakit Katolik”, jelas Romo Hans.


Purnomo Yusgiantoro
Arah seruan pastoral ini kemudian dilengkapi dengan pemaparan dari Purnomo Yusgiantoro yang menjelaskan tentang visi Indonesia emas 2045, krisis multidimensi yang dialami masyarakat Indonesia seperti krisis ekonomi politik zaman orde baru (tahun 1965-1967), kejatuhan harga minyak dunia (tahun 1982-1986), krisis moneter dan reformasi orde baru (tahun 1997-1998), krisis harga minyak dunia dan keuangan digital (tahun 2007-2009), serta pandemi covid-19 (tahun 2020-2022).

Menurut Purnomo Yusgiantoro, rencana aksi komprehensif seperti pembangunan karakter dengan pendidikan formal dan non formal, membangun wawasan kebangsaan, harus dilakukan dengan berkolaborasi secara multipihak (pemerintah, akademisi, non governmental organization, media, dan dunia industri serta bisnis), serta afirmasi sumber daya seperti melalui kegiatan literasi, dan pengembangan kegiatan inovasi.

Syafiq A. Mughni

Kemudian, Syafiq A. Mughni menyampaikan bahwa Indonesia sedang mengalami defisit moral, sehingga perlunya peran dari tokoh agama untuk turut membangun keadaban, dengan menjadikan agama sebagai fungsional, misal menginisiasi kegiatan fungsional yang mendorong toleransi dan keadilan bagi masyarakat.

Pemaparan materi oleh narasumber dalam sarasehan nasional FMKI (Foto Dok. Panitia).


Alissa Wahid
Sementara itu, Alissa Wahid mengatakan bahwa peradaban manusia menghadapi tantangan ekologi terkait dengan lingkungan hidup, kompetensi kepemimpinan yang rendah, dan persoalan dengan intoleransi. Sehingga, mendorong kita untuk terus bergerak dengan cerdas dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia.

Ajakan aktif memikirkan Indonesia

Sarasehan yang dihadiri oleh pengurus FMKI, dan berbagai organisasi serta komunitas umat Katolik ini ditutup dengan ajakan untuk aktif memikirkan bangsa Indonesia. Sejalan dengan ini, FMKI sebagai perkumpulan forum masyarakat Katolik Indonesia hadir sebagai rumah bersama masyarakat Katolik dalam berkarya bersama di bidang sosial, politik, kemasyarakatan sesuai Ajaran Sosial Gereja, Pancasila, dan Konstitusi Undang-undang Dasar 1945.

____


Sekilas tentang Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)

Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) merupakan wadah komunikasi, informasi, pemberdayaan, advokasi, dan jejaring kerja umat Katolik Indonesia di bidang sosial politik kemasyarakatan. Dideklarasikan pada 15 Agustus 1998 di Jakarta dalam semangat Reformasi, FMKI hadir sebagai rumah bersama bagi kaum awam Katolik dari berbagai latar belakang profesi dan organisasi untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berlandaskan nilai-nilai Pancasila, iman Katolik, dan Ajaran Sosial Gereja, FMKI berkomitmen memperjuangkan martabat manusia, demokrasi, keadilan sosial, serta kesejahteraan bersama.

Memasuki babak baru, FMKI melakukan transformasi dan revitalisasi kelembagaan yang dikukuhkan melalui Pertemuan Nasional (Pernas) XIII pada 4–6 Juni 2026 di Klaten, Jawa Tengah, dengan status badan hukum Perkumpulan Forum Masyarakat Katolik Indonesia.

Transformasi ini diarahkan untuk memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi kepemimpinan awam, serta peran strategis FMKI sebagai mitra hierarki Gereja dan elemen masyarakat sipil. Melalui kolaborasi lintas profesi, organisasi, dan wilayah, FMKI berupaya mendorong partisipasi aktif umat Katolik dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan, memperkuat demokrasi, dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, inklusif, serta berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.