Dalam Matius 5:20-26, Yesus memperdalam makna pertobatan itu. Ia menegaskan bahwa kebenaran kita mesti melebihi kebenaran ahli Taurat dan Farisi—yang hanya bersifat lahiriah.
Doa itu terwujud dalam diri Yesus yang telah mengajarkannya, karena firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan kehendak-Nya dan berhasil dalam yang Allah perintahkan kepada-Nya…
Kekudusan ini dirumuskan dalam istilah sosial yang praktis: jangan mencuri, jangan berbohong, atau saling menipu; jangan memeras atau merampok sesamamu; jangan mengutuk orang tuli atau memasang batu sandungan di depan orang buta.
Santo Thomas Aquinas berkata, "Untuk mereka yang beriman, penjelasan tidak diperlukan. Untuk mereka yang tidak percaya, tidak ada penjelasan yang mungkin."