Menghadirkan “Bale-bale” untuk Menarasikan Keutamaan pada Anak-anak
FIBB menjadi sulih bale-bale untuk menumbuhkan iman dan keutamaan
Surakarta, Katolikana.com – Suatu kali pada saat pertemuan pendampingan para katekis Gereja Santo Paulus Kleco Surakarta, Romo Hibertus Hartono, MSF bercerita tentang bale-bale tempat berkumpul keluarga ketika ia masih kanak-kanak.
Bale-bale atau amben merupakan tempat berkumpul keluarga di kampung yang terbuat dari bambu.
Romo Hartono dibesarkan bersama empat orang saudaranya oleh orang tua yang aktif dalam kegiatan gereja. Meskipun bukan sebagai pengurus gereja, ayah Romo Hartono sering diajak kunjungan umat oleh Pastor Paroki.

Spiritualitas bale-bale
Ayahnya seorang pegawai di Pabrik Kertas Blabak Magelang. Satu hal yang dibagikan pada katekis oleh Romo Hartono adalah “spiritualitas bale-bale”.
Spiritualitas bale-bale adalah kebiasaan yang dilakukan ayah Romo Hartono yang menceritakan kisah para santo dan santa pada malam hari kepada anak-anaknya.
Waktu Romo Hartono kanak-kanak di kampungnya belum ada listrik. Hiburan yang ada hanya radio.
Situasi itu justru menumbuhkan relasi yang kuat antara orang tua dan anak-anak.
Bale-bale menjadi tempat untuk makan bersama, bercerita berbagi pengalaman, mendengarkan siaran radio bersama, mendengarkan dongeng dari orang tua dan mendengarkan kisah santo santa yang diceritakan atau dibacakan oleh seorang ayah pada anak-anaknya.
Ayah Romo Hartono juga mengajarkan rumusan doa harian dan doa-doa yang lain seperti doa “Mbangun Keduwung, Mbangun Pengandel, Mbangun Pengarep-arep, Sembahyang Tesbeh” dan doa lainnya.
Berkumpul di bale-bale menjadi kesempatan keluarga Romo Hartono berdoa bersama.
Dalam hidup keseharian, anak juga diajak aktif ikut kegiatan misdinar.
Spiritualitas bale-bale itulah yang dimaksudkan oleh Romo Hartono: situasi dan kebiasaan mengenalkan tokoh santo-santo pada anak-anak, berdialog, saling membagikan pengalaman-pengalaman hidup, narasi keutamaan serta doa keluarga bersama.

Hilangnya spiritualitas bale-bale
Saat ini banyak keluarga yang tidak memiliki spiritualitas bale-bale. Hal ini terjadi diantaranya tersedianya kamar tidur bagi anak yang terpisah dengan orang tua. Kebiasaan makan bersama dan doa bersama yang kurang tumbuh dalam keluarga.
Dialog dan kesempatan bercengkerama bersama kurang intens karena anggota keluarga “tergesa-gesa” melakukan agenda kegiatan personal.
Tidak ada kehendak yang kuat dari orang tua untuk mendongeng, membacakan kisah santo-santa dan kurangnya narasi keutamaan yang dibagikan dan diteguhkan pada anak-anak.
Selain itu kurangnya bimbingan dan pendampingan orang tua dalam penggunaan gadget yang bisa dipakai mengunduh atau memilih aplikasi yang mendukung pengembangan karakter anak.
HP banyak yang digunakan untuk mencari hiburan, game dan bersosialita lewat medsos.

FIBB mewariskan “spiritualitas bale-bale”
Orang tua dalam konteks formasio iman anak menjadi katekis pertama dalam keluarga. Orang tua juga menjadi guru pertama dalam keluarga.
Kesadaran pentingnya peran ini seringkali kurang mendapatkan perhatian bagi orang tua. Gerakan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa orang tua merupakan katekis pertama bagi anak-anaknya perlu dilakukan untuk keluarga Katolik.
Upaya Gereja Katolik membantu keluarga mendampingi anak-anak berkembang dilakukan melalui Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB)
Pertanyaan reflektif yang kini muncul apakah orang tua mendorong anak-anaknya mengikuti kegiatan PIUD, PIA, PIR, PIOM?
Apakah orang tua juga mau ikut dalam kegiatan ‘spiritualitas bale-bale’ berkumpul bersama dalam kegiatan PIOD dan PIUL?
Spiritualitas bale-bale, hemat saya, akan menjadi sulih meskipun tidak sepenuhnya seperti dalam lingkaran keluarga untuk menumbuhkan dan mengembangkan narasi keutamaan melalui PIUD, PIR, PIA dan PIOM.
Sekolah minggu, pembinaan misdinar juga akan menjadi ‘bale-bale’ tempat dan ruang untuk menarasikan kembali kisah santo-santa dan menumbuhkan Katolisitas bagi pertumbuhan iman anak serta bertumbuhnya panggilan khusus untuk menjadi imam, bruder dan suster.
Pendampingan Keluarga Katolik kiranya juga bisa menjadi pintu masuk mengajak keluarga untuk menumbuhkan kembali ‘spiritualitas bale-bale” melalui ajakan dialog dalam keluarga, makan bersama dan doa bersama keluarga. (*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta