Nyala Seribu Lilin dan Doa Rosario bagi Korban KM Putri Sakinah

0 296

Labuan Bajo, Katolikana.com — Ribuan cahaya kecil berkelip memecah kegelapan malam di tepian Waterfront Labuan Bajo, Jumat (2/1/2026).

Bukan sorak-sorai pesta tahun baru yang terdengar, melainkan lantunan doa Ave Maria yang didaraskan dengan khusyuk.

Malam itu, wajah pariwisata Labuan Bajo yang biasanya gemerlap, berganti rupa menjadi wajah penuh duka dan solidaritas.

Keuskupan Labuan Bajo melalui Komisi Kateketik menginisiasi aksi “Seribu Lilin dan Doa Rosario Bersama” sebagai respons atas tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar pada Jumat malam (26/12/2025).

Tragedi yang terjadi tepat sehari setelah Natal ini menyentak banyak pihak. Dari 11 orang di atas kapal, empat wisatawan asal Spanyol dinyatakan hilang.

Mereka adalah Fernando Martin Carreras—yang diketahui sebagai pelatih tim B putri Valencia CF—beserta ketiga anaknya. Hingga kini, baru satu jenazah yang berhasil ditemukan, sementara tiga lainnya masih dalam pencarian intensif.

Tangis di Tepi Pantai

Suasana haru seketika menyelimuti Waterfront ketika Andrea Ortuno, istri dari Fernando Martin Carreras sekaligus ibu dari anak-anak yang hilang, terlihat hadir di tengah kerumunan. Meski selamat dari maut, wajahnya menyiratkan duka yang teramat dalam.

Kehadiran Andrea di tengah ribuan warga Manggarai Barat, pelaku pariwisata, dan umat Katolik menegaskan bahwa ia tidak sendirian. Ribuan lilin yang dinyalakan di tepi laut malam itu menjadi simbol pelukan hangat dari masyarakat Labuan Bajo untuk seorang ibu yang sedang menanti kepastian di tanah perantauan.

Gereja Hadir Menguatkan

Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo, Romo Hermen Sanusi, Pr., menegaskan bahwa aksi ini adalah wujud nyata kehadiran Gereja yang berbela rasa.

“Kegiatan ini adalah bentuk dukungan moral dan spiritual yang konkret. Gereja Katolik ingin menegaskan bahwa kami berdiri bersama para korban. Duka mereka adalah duka kami,” ujar Romo Hermen.

Lebih lanjut, Romo Hermen menjelaskan bahwa doa malam itu tidak hanya ditujukan bagi keselamatan arwah para korban, tetapi juga sebagai suntikan semangat bagi mereka yang masih berjuang di lapangan.

“Kita mendoakan Tim SAR gabungan dan para relawan yang bertaruh nyawa menyisir lautan. Semoga mereka diberi kekuatan untuk menyelesaikan misi kemanusiaan ini,” tambahnya.

Simbol Harapan dan Koreksi Diri

Aksi seribu lilin ini membawa makna berlapis yang melampaui sekadar ritual seremonial.

Pertama, Simbol Harapan. Di tengah gelapnya lautan dan ketidakpastian nasib korban yang hilang di kedalaman Selat Padar, lilin melambangkan cahaya yang “menuntun pulang”. Doa masyarakat menjadi jembatan harapan agar para korban segera ditemukan.

Kedua, Solidaritas Tanpa Batas. Tragedi ini menimpa warga negara asing, namun respons warga lokal menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal paspor atau bendera. “Dari Labuan Bajo untuk Dunia” menjadi pesan bahwa rasa kehilangan ini bersifat universal.

Ketiga, Cahaya Koreksi (Mitigasi). Nyala lilin ini juga menjadi pesan tersirat yang kuat bagi otoritas pelayaran dan operator wisata. Cahaya ini seolah mengingatkan agar sistem keselamatan (safety) di Labuan Bajo harus “diterangi” dan diperbaiki. Jangan ada lagi nyawa yang melayang demi mengejar profit semata di tengah anomali cuaca.

Keempat, Sikap Tawakal. Ketika teknologi dan upaya manusia lewat perpanjangan masa pencarian Basarnas selama empat hari ke depan sedang diuji batasnya, lilin menjadi simbol kepasrahan vertikal. Masyarakat bersatu hati mengetuk pintu langit, memohon agar penguasa alam merestui upaya pencarian ini.

Malam itu, di bawah langit Labuan Bajo, seribu lilin telah habis terbakar, namun api solidaritas dan harapan yang dinyalakannya akan terus menyala hingga semua korban kembali pulang. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.