Lubuk Pakam, Katolikana.com — Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan (KAM) kembali mendapat tambahan tenaga pastoral baru.
Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap., menahbiskan enam orang diakon menjadi Imam Diosesan (Projo) dalam Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat di Gereja Paroki Gembala Yang Baik, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sabtu (20/12/2025).
Keenam imam baru yang menerima tahbisan suci tersebut adalah:
- RD. Chrystian Loudry Malau
- RD. Karyanto W.Y. Simangunsong
- RD. Reza Vanianta Ginting
- RD. Sandarut Paulus Tambunan
- RD. Sumardiono Sihombing
- RD. Imanuel Purba
Misa tahbisan dipimpin langsung oleh Mgr. Kornelius Sipayung didampingi Vikaris Jenderal KAM RP. Michael Manurung OFMCap, Vikaris Pro Clericis RD. Josep Parasian Gultom, Pastor Paroki Lubuk Pakam RD. Sudi Monang Sinaga, Vikep Katedral & Hayam Wuruk Medan RD. Sampang Tumanggor, serta Ketua Unio KAM RD. Bernardus Sijabat.
Turut hadir sekitar 100 imam, baik diosesan maupun religius, yang memberikan penumpangan tangan dan doa restu. Ribuan umat, termasuk keluarga, biarawan-biarawati, dan tamu undangan memadati gereja untuk menyaksikan peristiwa iman tersebut.
Inti Imamat: Cinta yang Melayani, Bukan Jabatan
Dalam homilinya, Mgr. Kornelius menekankan bahwa tahbisan ini adalah bukti kesetiaan Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Namun, ia mengingatkan bahwa inti terdalam dari imamat bukanlah soal fungsi, jabatan, atau kehormatan, melainkan soal cinta yang rela menyerahkan diri.
“Mencintai umat lebih dari mencintai diri sendiri pada zaman ini berarti memilih hadir di tengah umat daripada memilih nyaman. Meluangkan waktu untuk mendengarkan umat meski sudah lelah, membuka pintu bagi yang datang kendati tidak ada janji,” tegas Mgr. Kornelius.
Uskup Agung menekankan pentingnya keseimbangan antara hidup batin yang kuat dan pelayanan pastoral yang membumi. Tanpa doa, pelayanan akan menjadi kering. Sebaliknya, tanpa kedekatan dengan umat, doa bisa menjadi steril.
Peringatan Keras Terhadap Klerikalisme
Secara khusus, Mgr. Kornelius memberikan peringatan keras mengenai bahaya klerikalisme. Ia menjelaskan bahwa klerikalisme terjadi ketika imam lupa bahwa ia adalah pelayan dan merasa diri sebagai tuan.
“Ketika umat diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai saudara, inilah klerikalisme. Imam yang mengejar kenyamanan, mencari status, atau hanya bekerja jika ada kepentingan seperti buruh upahan, itu adalah klerikalisme,” ujarnya.
Monsinyur berpesan agar para imam baru tidak takut menjadi gembala yang dekat, sederhana, dan setia “berbau domba”. Ia meminta mereka menjadi imam yang menyalakan pengharapan, bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan hati yang mau mendengarkan dan tangan yang mau melayani.
“Imam harus berjalan bersama umat. Kadang di depan untuk menuntun, di tengah untuk mendengarkan, dan kadang di belakang untuk menopang,” tambahnya.
Rapuh yang Dipilih Tuhan
Mewakili imam baru, RD. Sumardiono Sihombing mengungkapkan refleksi mereka selama masa retret persiapan. Ia menyebutkan empat kata yang menggambarkan panggilan mereka: “Rapuh yang Kau Pilih.”
“Kami semua tidak sempurna, kami mungkin lebih rendah daripada yang lain. Tetapi, kami percaya bahwa dengan anugerah itu pun kami bersedia dipakai oleh Tuhan melalui perantaraan Bapa Uskup,” ungkap Pastor Sumardiono.
Sementara itu, Ketua Unio KAM, RD. Bernardus Sijabat, menyampaikan rasa syukurnya. Dengan penahbisan enam imam baru ini, jumlah imam diosesan di Keuskupan Agung Medan kini bertambah menjadi 61 orang. Ia mengajak para imam untuk terus memupuk persaudaraan sebagai anugerah yang perlu dikembangkan.
Perwakilan orang tua, Hilderia Sipayung, ibunda dari RD. Imanuel Purba, tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia menyerahkan putranya untuk melayani Gereja dan berharap para imam baru tetap setia pada panggilannya.
“Semogalah iman Katolik ini dapat dilaksanakan dengan baik. Kiranya anak-anak kami menjadi gembala yang dekat dengan umatnya dan membawa umat lebih dekat kepada Yesus Kristus,” tutur Hilderia.
Ketua Panitia Tahbisan, Todo Agustinus Pasaribu, turut mengapresiasi kerja keras seluruh panitia dan umat Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam sehingga perayaan di Tahun Yubileum ini dapat berjalan lancar meski penuh tantangan dinamika persiapan.
Di akhir perayaan, Mgr. Kornelius mengumumkan bahwa tempat tugas para imam baru (neomis) ini akan tetap sama dengan tempat mereka menjalani masa diakonat. (*)

Kontributor Katolikana, tinggal di Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Keuskupan Agung Medan.