Yayasan Kanisius Cabang Surakarta Gelar Workshop Metode Montessori

0 92

Sekolah Bukan Hanya untuk Nilai Tetapi untuk Hidup.

Surakarta, Katolikana.com – Yayasan Kanisius Cabang Surakarta menggelar Workshop Integrasi Deep Learning dan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Fokus Pendekatan Montessori di PAUD dan SD Kelas Kecil.

Hadir sebagai narasumber Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S.Psi. M.Pd. Psikolog, Dosen Unika Soegijapranata Semarang.

Hadir mengikuti workshop 106 orang guru KB/TK dan Guru Kelas 1-3 SD Kanisius di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta.

Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam konteks pendidikan adalah pendekatan holistik yang mengintegrasikan tiga pilar:  Meaningful learning (pembelajaran bermakna), Mindful learning (pembelajaran berkesadaran), dan Joyful learning (pembelajaran menggembirakan).

Deep learning dilakukan agar siswa tidak hanya hafal tapi benar-benar memahami dan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekadar di permukaan tetapi secara mendalam.

Turun tangan dampingi murid
Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta Pater Joseph MMT Situmorang, SJ dalam kata sambutan mengungkapkan bahwa pembelajaran Deep Learning yang dipadukan dengan Paradigma Pembelajaran Reflektif dan Metode Pembelajaran Montessori mampu memberikan daya bagi para guru untuk melakukan kegiatan secara mendalam dan bermakna.

Pater Joseph berharap para guru dapat menerapkan segala metode yang diketahui tidak hanya berpangku tangan tetapi turun tangan, mendampingi para murid melakukan transformasi kemandirian sehingga anak-anak KB ke TK, anak-anak TK ke SD dapat dijembatani dengan baik karena telah menerapkan metode Montessori yang diterapkan baik di KB, TK, SD Klas kecil satu sampai tiga SD.

Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S.Psi. M.Pd. Psikolog, Dosen Unika Soegijapranata Semarang hadir sebagai narasumber Workshop Pembelajaran Metode Montessori di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta, Senin (22/12/2025)

Sejarah Metode Montessori
Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S.Psi. M.Pd. dalam presentasi awal mengajak para guru mengenal sejarah Montessori.

Metode Montessori lahir dari observasi ilmiah Dr. Maria Montessori, seorang dokter dan pendidik Italia, pada awal 1900-an, dimulai dengan observasi anak-anak berkebutuhan khusus dan kemudian diimplementasikan di sekolah anak usia dini.

Metode Montessori berfokus pada kemandirian, eksplorasi mandiri, dan lingkungan yang disiapkan agar anak belajar secara alami sesuai potensi mereka. Metode yang diterapkan metode bermain bukan metode pengajaran tradisional.

Sebagai salah satu dokter wanita pertama di Italia, Maria Montessori bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus, mengembangkan stimulasi sensorik, yang menjadi dasar materi sensorik Montessori.

Montessori mengamati anak-anak secara mendalam, melihat mereka secara alami ingin belajar. Ia menemukan inspirasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan pilihan dan kemandirian bagi anak-anak.

Selanjutnya ia merancang materi pembelajaran dan lingkungan kelas di mana anak-anak dapat memilih aktivitas mereka sendiri, belajar melalui pengalaman langsung, dan mengembangkan kemandirian serta rasa percaya diri.

Keberhasilan anak
Menurut Montessori, keberhasilan anak diukur dari perkembangan holistiknya: kemandirian, kemampuan sosial-emosional yang kuat (empati, kerja sama, penyelesaian konflik), pemikiran kritis, dan prestasi akademis yang didasarkan pada minat internal, bukan hanya nilai akademik konvensional.

Anak-anak yang didampingi menggunakan metode Montessori menjadi pembelajar aktif, pemecah masalah, dan individu yang disiplin serta bertanggung jawab, karena mereka didorong untuk memilih kegiatan bermakna dalam lingkungan yang terstruktur. Dalam konteks ini pendidikan bermakna ada kesesuaian dengan deep learning.

Anak-anak membutuhkan rangsangan sensori sehingga ada perubahan dari anak-anak yang semula tidak teratur menjadi anak-anak yang teratur dan tahu aturan.

Anak-anak tertarik dengan mainan. Maka peralatan kelas di desain dengan ukuran pendek-pendek agar anak terbiasa mengambil mainan sendiri, mengembalikan sendiri secara tertib. Tidak ada mainan yang ditumpuk-tumpuk. Rak-rak ditata tidak berhimpitan agar ada sela untuk anak-anak berjalan.

Dialog Praktik Penerapan Metode Montessori dalam pendampingan murid PAUD di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta

Fokus pada kemandirian
Buku karya Maria Montessori berisi filosofi pendidikan anak usia dini yang berfokus pada kemandirian, penghormatan terhadap anak, dan pembelajaran melalui pengalaman praktis, di mana mereka menyerap informasi dari lingkungan secara alami ini mirip yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara tentang Taman Indria.

Taman Indria adalah konsep taman kanak-kanak (TK) dalam sistem Taman Siswa yang didirikan tahun 1922, berfokus pada pembelajaran menyenangkan berbasis alam, permainan tradisional (dolanan anak), dan pengembangan karakter holistik yang bertujuan membentuk anak merdeka, beriman, berbudi pekerti luhur, dan berakar pada budaya lokal.

Belajar untuk hidup
“Anak-anak menurut Ki Hajar Dewantara: ‘Belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk hidup’.

Dalam metode Montessori practical life diajarkan pertama kali karena akan terkait dengan “siapa dia untuk sekolah”.

Metode Montessori “real”, nyata. Ketika anak sedang makan, ada sisa makanan tercecer, anak diajak membersihkan sisa makanan.

Ketika anak memecahkan suatu benda anak didampingi orang tua dan guru untuk menyadari tanggung jawabnya. Awas hati-hati jangan sampai menginjak serpihan kaca. Hal ini memberikan regulasi pada anak untuk mengontrol dirinya”, kata Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira

Perubahan jenjang pendidikan dari TK ke SD memerlukan catatan perkembangan sosial emosional anak. Masuk ke SD anak tidak hanya bisa “Calistung” atau baca tulis hitung tetapi harus memiliki kematangan sosial emosional. Bisa menyesuaikan dengan teman baru, lingkungan sekolah baru.

Selain itu juga perlu disiapkan motorik dan kemandiriannya misalnya melepas sendiri tas sepulang sekolah, memakai sepatu sendiri, membersihkan sisa atau tumpahan makanan dan minuman.

“Mengajarkan pada anak-anak ketrampilan hidup merupakan hal yang penting. Sekolah bukan untuk mengejar nilai tetapi untuk memiliki ketrampilan hidup. Jika mengejar nilai orang tua akan marah karena anaknya ketinggalan mengerjakan tugas yang berakibat nilai kurang baik” lanjut Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira.

Pengajaran konkrit
Metode Montessori mengajak guru untuk memberikan pengajaran secara konkrit, misalnya mengukur suatu benda perlu dipersiapkan benda yang akan diukur dan alat ukurnya. Mengajarkan mengenal berbagai rasa manis, asin, asam, pedas menggunakan benda yang sesuai seperti gula. garam, asam, dan cabai. Tidak hanya meminta anak melihat gambar di buku pelajaran yang menunjukkan benda yang mengandung rasa manis, asin, asam dan pedas.

Melatih sensivitas anak
Metode Montessori mengajarkan sensivitas anak. Hal ini perlu diajarkan terus menerus dari hal sederhana menuju kompleks. Misalnya pembelajaran Matematika dimulai dari pengenalan angka, klasifikasi angka menuju satuan.

Pada saat workshop para guru diajak narasumber untuk melakukan praktik mengajar dengan metode Montessori untuk meneguhkan pembelajaran yang bermakna, mendalam dan menggembirakan. Selain itu juga diajak untuk “bermain” yang menghadirkan kegembiraan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.